Skip to main content

Efek Menulis, Melancarkan Proses Belajar


Hai sobat penulis...😊

Terapi menulis sangat banyak manfaatnya. Tahukah Anda apa saja manfaat menulis? Salah satunya untuk melancarkan proses belajar.

Menulis dapat meningkatkan fungsi kecerdasan. Tentu saja hal tersebut juga membantu proses belajar. Terkadang kita menganggap menulis hanya berkutat pada materi pelajaran saja. Hanya menulis seputar tulisan non fiksi saja. Padahal merujuk pada studi Pastva, dkk. Mengungkapkan bahwa siswa yang menulis 'curhatan' mereka tentang pelajaran. Efek positifnya akan memiliki nilai ujian yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak menuliskannya. 

Dengan menulis, menggambarkan keterbukaan diri seseorang dari apa yang dirasakan. Pribadi yang menuliskan persaannya terhadap pelajaran, cenderung menunjukkan respon yang baik sebagai reaksi timbal balik setelah memperoleh tambahan pengetahuan. Hal ini bisa menjadi gambaran akan tambahan ilmu yang diterimanya. Menulis juga dapat menjadi keterbukaan dari masalah yang dialaminya terkait kemampuan penyerapan ilmu dirinya. 

Bagi sobat penulis yang masih menempuh jenjang pendidikan formal maupun nonformal, cobalah menulis, menggambarkan penerimaan pelajaran hari ini yang sudah diterima. Apa saja yang dilihat, didengar dan dirasa. Semua menggambarkan seberapa mampu penyerapan ilmu yang Anda terima. 

Secara tidak langsung, kualitas pendidikan Anda, tergambarkan dari seberapa kemampuan Anda dalam menuliskan ilmu yang sudah diterima. Bukan hanya itu, termasuk juga menuliskan perasaan Anda terkait dengan pelajaran tersebut. Apakah menyukai pelajaran tersebut? Apakah kesulitan? Atau, apakah ada ide untuk penerapan materi tersebut? Semua respon otak maupun perasaan terhadap sebuah pelajaran ilmu pengetahuan, bernilai positif untuk tubuh kita. Selamat menulis pelajaran Anda...😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…