Skip to main content

Efek Nulis, Tidur Lebih Nyenyak


Sobat penulis, pernahkah kita sulit tidur sebab sedang dalam masalah? Atau memang kita belum tahu penyebab mengapa kita sulit tidur? Bagaimana perasaan kita saat sulit tidur? Bahkan sampai larut malam. Terkadang kita juga terbawa pada hawa mistis dan ketakutan dalam gelapnya malam. Yuk, kita coba dengan menulis! Manfaat menulis sangat besar. Penting untuk kita memiliki buku harian. Atau memiliki laptop mungil yang bisa dijadikan wadah penyaluran 'menulis'.

Dengan menulis di mana pun, baik itu di buku harian, sekadar corat-coret di belakang buku, ataupun di potongan-potongan kertas. Hal ini bisa menjadikan pikiran semakin rileks. Sedikit melonggarkan perasaan. Juga mengurangi rasa traumatis. Tentu saja, trauma yang sedikit demi sedikit berkurang tersebut dapat meringankan beban pikiran. Secara otomatis juga menjadikan tidur lebih nyenyak. 

Pertama, bermula dari malam yang panjang. Hal yang membuat kita sulit memejamkan mata. Maka, bangun dan duduklah! Jadikan diri kita sebagai manusia yang terpilih untuk menuangkan apa yang terlintas dalam angan-angan. Angan-angan yang telah menghalangi kita untuk bisa terlelap.

Kedua, apa pun yang terlintas, tulis saja! Bahkan kita bebas menulis secara tersusun maupun acak. Suka-suka hati ya. Apa yang terlintas dalam benak kita, memang tidak selalu tersusun. Namun dari proses menulis itu, kita bisa sedikit mengurai apa yang mengganggu dalam pikiran kita.

Ketiga, dalam malam yang gelap, jika Anda masih kuat terjaga. Itu tandanya, Anda belum menuangkan semuanya. Lanjutkan menulis! Sampai benar-benar sudah habis apa yang terlintas. Dan berakhirnya pikiran yang terlintas, menandakan uneg-uneg kita sudah cukup tertuangkan. Atau kita sudah lelah karena terjaga. Kita bisa mulai mencobanya untuk rebahan, persiapan tidur kembali. 

Keempat, jika setelah menulis masih belum mengantuk, maka kita bisa mengulanginya dari tahap awal. Bagi yang memiliki keyakinan, bisa diawali dengan berdoa sebelum tidur, dan harapan-harapan yang baik untuk esok hari.

Selamat atas pencapaian Anda. Anda telah berhasil menuangkan traumatis yang Anda rasakan. Karena hal tersebut yang banyak menjadi penyebab utama beban pikiran. 

Dan poin yang tak kalah pentingnya,
Anda sudah melewati malam tersebut dengan berkualitas, yaitu dengan produktivitas menulis. Hasilnya malam-malam kita menjadi berkualitas. Terisi baik dengan produktivitas menulis, maupun tidur nyenyak yang sehat, keduanya sama-sama mengandung kebaikan. Semoga berhasil...😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…