Skip to main content

Efek Positif Nulis Buku Harian


Sobat penulis, pernahkah kita terjebak dalam masalah? Yang sangat mempengaruhi pikiran kita? Jadi nggak enak makan, nggak enak tidur. Terkadang  kita juga berlarut-larut dalam kecemasan dan kesedihan. Yuk kita coba dengan menulis buku harian. 

Dengan menulis buku harian, bisa menjadikan pikiran kita semakin rileks. Pandangan lebih luas, sedikit melonggarkan napas terutama di kala sedih. Bahkan dengan menulis buku harian dapat menuangkan kecemasan-kecemasan yang kita alami. Bagaimana mekanismenya ya? 

Pertama, bermula dari sebuah hantaman masalah yang membuat kita terbawa pada pikiran yang panjang. Rasa cemas akan menghantui pikiran dan alam sadar kita. Rasa cemas akan terbawa dalam kehidupan, baik terlihat dari perubahan sikap, perubahan produktivitas, perubahan pola makan, dan perubahan diri lainnya. Stop sampai di sini! Yuk, tuangkan dalam buku harian kita.

Kedua, jadikan buku harian sebagai asisten kita untuk merekam apa yang terjadi setiap hari. Tuliskan bagaimana kita sadar betul terhadap hal-hal yang terjadi pada diri kita. Apa pun yang kita pikirkan, tuangkan saja! Tak perlu takut salah tulis ya, karena ini untuk dibaca oleh diri kita sendiri. So, jangan khawatir pada apa yang menjadi uneg-uneg kita.

Ketiga, untuk menjaga perasaan dan produktivitas kita. Hal-hal yang menjadi uneg-uneg yang telah kita tulis, tidak perlu kita baca saat itu juga. Cukup tuangkan saja, ibaratnya ‘muntahkan’ saja! Lalu segera tutup catatan itu, dan letakkan di tempat biasanya, yang dipastikan aman dan tersembunyi. Tentunya kita harus melanjutkan pekerjaan dan tanggung jawab kita, hingga kita benar-benar memiliki waktu luang untuk ‘me time.'

Keempat, setelah uneg-uneg tertulis. Perasaan kita akan merasa lebih reda. Kecemasan akan berangsur-angsur menurun. Kita pun bisa melanjutkan aktivitas dengan penuh tanggung jawab. Karena kita sudah menitipkan masalah pada buku harian. Memang hal ini tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun, dengan menulis akan sangat efektif untuk meredakan kecemasan yang kita alami. Selamat mencoba, semoga bermanfaat, dan tetap semangat yaaa....😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…