Skip to main content

Melatih Kepemimpinan dengan Menulis


Sobat penulis... Bagaimana kabarnya? Benarkah menulis dapat meningkatkan kemampuan untuk memimpin? Bagaimana hubungan antara menulis dan kepemimpinan?

Sobat penulis... Menulis memang kegiatan personal. Apalagi untuk tulisan yang bersifat fiksi. Seperti tentang perasaan, tentang harapan, tentang masa depan, tentang kesedihan, dan sebagainya.

Sekilas menulis tidak ada hubungannya dengan urusan kepemimpinan. Namun, menurut Eric J McNulty, 'menulis tentang renungan diri' selama 10 menit sehari adalah latihan yang baik untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan. 

Konon, ada juga seorang anak raja yang dididik dengan harus menuliskan perasaan berbagai profesi dan karakter dalam kerajaan itu. Kegiatan itu sengaja menjadi pembelajaran dari penasehat kerajaan untuk putra-putra raja, terutama putra mahkota. Karena diyakini dapat menumbuhkan kemampuan kepemimpinan dalam jiwanya. 

Kalau dipikir benar juga ya? Untuk pemuda yang belum banyak pengalaman, tidak perlu mengalaminya sendiri. Dia hanya perlu banyak mengamati sekelilingnya memahami kesulitan orang lain. Lalu bagaimana memposisikan diri bersikap di segala keadaan. 

Apalagi kita sebagai orang dewasa. Di mana secara sudah cukup usia dan sudah terjun langsung, menjadi pemain di dunia ini dalam segala tanggung jawabnya. Maka dengan kita menuliskan curahan hati seperti perasaan kita, respon orang-orang terhadap diri kita, hal-hal yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan seterusnya. Dapat meningkatkan kemampuan memimpin.

Dengan sering menuliskan perasaan dan kejadian yang kita alami. Maka kita lebih banyak memahami diri sendiri. Hal ini menjadi kunci untuk dapat memahami orang lain.

Ibarat pepatah mengatakan 'hanya orang yang memiliki yang dapat memberi'. Itulah kaitannya antara menulis dengan kepemimpinan. Semakin kita mengenal diri sendiri, semakin kita memahami orang lain, maka semakin kaya pengetahuan diri kita dalam bersikap. Hal ini menjadi sifat dasar kepemimpinan. Maka kita dapat dengan mudah memimpin diri kita sendiri dan tentunya akan memberikan pengaruh positif bagi sekitar. Sehingga kita dapat mengelola lingkungan kita. Sesuai tujuan untuk kenyamanan bersama.

Demikian sahabat penulis jangan ragu untuk menulis apa yang menjadi pengalaman kita. Termasuk perasaan diri kita dan lingkungan.
Kepekaan ini, ditambah dengan kemampuan menulis, menjadikan seorang penulis lebih sempurna. Semangat ya. 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…