Skip to main content

Menulis Dapat Mengurangi Sindrom Ruminasi


Sobat penulis... Bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya...
Tahukah kalian bahwa 'sindrom ruminasi' dapat diterapi dengan menulis?

Ruminasi merupakan bentuk respons diri terhadap stres.  Yaitu berupa kenangan pahit yang terngiang di pikiran secara terus-menerus, yang memunculkan emosi negatif. Ciri utama dari sindrom ruminasi ini yaitu sulit 'move on'.

Seandainya kita terjebak pada suatu masalah yang membuat kita terpuruk dan sulit 'move on'. Hal ini bisa kita urai dengan menulis secara ekspresif. 

Sebuah penelitian oleh Gortner, meneliti efek menulis ekspresif selama tiga hari pada sejumlah mahasiswa yang sering terjebak di situasi ruminasi. Ternyata menulis ekspresif mampu menurunkan kecenderungan para mahasiswa tersebut dalam beruminasi.

Enam bulan setelah penelitian usai, mahasiswa tersebut diteliti kembali dengan kuisioner tentang skala emosi. Hasilnya menunjukkan bahwa menulis ekspresif berhasil menurunkan gejala depresi mereka.

Wah, luar biasa! Menulis memang banyak sekali manfaatnya...😊

Sobat penulis, manfaatkan hobi kalian, yaitu menulis ini untuk 'move on' yaa... 

Bagi sobat yang masih belum bisa 'move on'. Cobalah untuk menulis. Ekspresikan perasaanmu dalam tulisan. Dan rasakan sensasinya, berupa emosional yang lebih terkontrol. Pikiran yang lebih terbuka. Pandangan dan penerimaan diri terhadap lingkungan yang lebih fleksibel.  Selamat mencoba... Dan semoga berhasil...😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…