Skip to main content

Positif Thinking Berkat Menulis



Sobat penulis, pernahkah kita terjebak dalam masalah? Apalagi kita mengalami penyesalan terhadap suatu kejadian? Tentu akan semakin membuat kita merasa bersalah. Terkadang  kita juga berlarut-larut dalam kesedihan.

Dengan menulis, bisa menjadikan pikiran kita semakin meningkat, atau ‘positif thinking’. Testimoni berdatangan dari banyak penulis. Terutama penulis pemula. Bagaimana mekanismenya ya? Yuk, kita urai, bagaimana menulis dapat menjadikan ‘positif thinking.'

Pertama, bermula dari penerimaan diri dan apa yang sudah menjadi garis kehidupan. Bahwa sesuatu bukan terjadi begitu saja, pasti ada sebabnya. Banyak di antara kita yang bisa menerimanya. Namun jika hal buruk terjadi tanpa diduga, seseorang akan sulit menerima, dan banyak mengutuk keadaan. Stop sampai di sini ya! Sebelum Sobat meluapkan kesedihan dengan perkara yang negatif, cobalah untuk menulis.

Kedua, tuangkanlah dalam tulisan, dimulai dari ungkapan isi hati. Baik dari pengalaman pribadi, maupun mencari referensi persamaan pengalaman dari orang lain. Selebihnya, sadarilah kemampuan menulis dapat memberi semangat tersendiri, dibandingkan dengan Sobat lainnya yang tidak dapat menyalurkannya. 

Ketiga, temukan satu keberuntungan diri kita, yang bisa disyukuri. Contoh, “Bersyukur  kejadianku tidak lebih parah dari dia.” Contoh keberuntungan lainnya, dari kemampuan literasi kita seperti dapat mencari referensi dan menulis. Hal ini patut disyukuri.  

Keempat, tulislah berulang rasa syukur itu, minimal 3 kali. Penelitian dari karya Burton dan King mengembangkan penulisan ekspresif dengan menuliskan peristiwa positif yang membahagiakan. Hasilnya cukup mengejutkan, yakni dapat meningkatkan suasana hati yang positif. Dan, taraaa... Anda sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Terbukti, ‘menulis’ memang sangat besar manfaatnya.😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…