Skip to main content

Profil Penulis: Ade Irma Verasari (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Matapoe Hate, Rainjani dan Perjalanan Waktu”)


Ade  Irma Verasari namaku, pekerjaan sebagai staf pengajar di SMPN 8 Kota Sukabumi dan SMP Islam Alazhar 7 Kota Sukabumi. Nama  pena ‘Ambu’ Ade Irma. Lahir sebagai orang Sukabumi asli.

 Kecintaan pada dunia sastra dimulai sejak SD, sering memenangkan lomba mengarang dan membaca puisi. Sampai sekarang walaupun sudah berkeluarga dan bekerja masih sering mengikuti lomba-lomba  menulis artikel, puisi dan cerpen. Aktif membina siswa dalam ajang lomba bahasa dan sastra.  

Alhamdulillah   pernah  menjadi  juara  1  menulis artikel tingkat guru pada HUT  kota  Sukabumi  dan  menulis  cerpen  pada  kegiatan Porseni Guru.  Menjadi  wakil kota Sukabumi ke ajang penulisan cerpen di Propinsi Jawa Barat. Juara 1 Guru Berprestasi Kota Sukabumi 2017. Juara Harapan Guru Berprestasi Provinsi Jawa Barat 2017. Pernah menjuarai beberapa lomba menulis puisi dan cerpen di penerbit on line tingkat Nasional. Tercatat sebagai salah satu pemegang rekor MURI antologi guru terbanyak se-Asean 2018. Beberapa  karya penulis berupa puisi dan  cerpen telah  dibukukan dalam  kurang lebih 56 buku antologi/bersama dan beberapa buku karya tunggal.


              Karyaku pernah dimuat pada buku Antologi Syair Untuk  Mesir, Ayahku Kebanggaanku, Ramadhan Terakhirku, Jihad Cinta, Kata Kasih Untuk Ayah, Wasiat  Jelata, Warna-Warni Bahasa Daerah, Senandung Cinta Untuk Hanny, Semesta Karya, Puisi Kemerdekaan, Ayahku, Ikrar 17, Senandung Puisi Indonesia, Bulan Sembilan, Merdeka Dalam Aksara, Around The World, Moratorium Senja, Tetesan Tinta Hijryah, 3 Dimensi Kehidupan, Catatan Nostalgia , Aku dan Tulisanku, Bumi Menangis, Cerita Rona 20 Negara, Indonesia 1944, Senja, Warna, Tears Of Palestina, Festival purnama di Jangho, Kemelut di Busan Festival, Siapa Dia, Kumpulan Artikel Pendidikan, Delirium Romansa, Tentang seseorang, Sajadah Tertinggal, Semusim, Mengintip Surga, Tinta Sang Lentera, Cash Back, Nyanyian Tanah Merdeka, Removal 55, Lampion Kertas, Mawar Terakhir, Wisata Kata Di Penghujung Sukabumi, Rahasia Buku dan Ilmu , dsb. Buku  Tunggalku   di antaranya  adalah   Kumpulan  Cerpen  Perjalanan  Waktu,   Novel   Rainjani , Bimbingan Menulis Puisi Dengan Cara Yang Mudah,  Kumpulan Cerpen Dua Dunia, Kumpulan 101 Puisi, Kumpulan Sajak Sunda dan Novellet (sedang proses)  dll.


 Dunia sastra bagiku sangat menarik, ia mengajak imajinasi mengembara bebas. Menulis adalah pekerjaan abadi. Karya kita akan tetap hidup walaupun kita sudah tak lagi hidup. 
Tak ada yang terlalu tinggi dalam  bermimpi,  hanya usaha kita  yang kurang. Yuk berkarya, setidaknya dalam hidup pernah membukukan (baca: mengabadikan)  satu karya kita.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…