Skip to main content

Profil Penulis: Afwah Ja’far (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Pena Mahaguna”)


Afwah Ja’far,  Lahir dan tinggal di Banjarmasin Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai Kota Religi karena di kota ini banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama besar diantaranya KH. Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan (Penulis Kitab Sabilal Muhtadien) KH. Muhammad Syarwani Abdan atau Guru Bangil dan KH. Muhammad Zaini Ghani atau Guru Sakumpul (Ulama Kharismatik yang dikenal sampai ke Timur Tengah karena kedalaman ilmunya). 

Banjarmasin juga dikenal Kota Seribu Sungai karena daerah ini berada di pinggiran sungai yang tersambung dengan banyak aliran anak sungai, dengan wisata airnya Pasar Terapung. Mulai menekuni menulis Berawal dari mengisi kolom  artikel dan opini di Balai Bahasa Banjarmasin, Kemudian dengan saran dan bimbingan teman mencoba untuk bergabung di FAM sejak Mei 2020.  Tulisan Ini adalah pengalaman yang kedua kalinya.  Penulis juga bergabung di PERRUAS, ini merupakan kiat perjalanan bagi penulis untuk terus belajar dan belajar,  agar bisa lebih baik dalam menulis.

 Penulis juga ikut berkontribusi dalam Gerakan Menulis Pantun 1000 Guru Asean dan Menulis Pantun Nasihat Guru kepada Muridnya. 

Sastra adalah bagian dari materi yang di ajarkan penulis yang berprofesi sebagai Guru di MAN 3 Banjar. Cerpen dan puisi  adalah bagian dari bentuk karya sastra, Keduanya merupakan suatu kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dan melalui sastra kita bisa jadikan media untuk menyampaikan semua rasa dan asa kita.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…