Skip to main content

Profil Penulis: Brillian Eka Wahyudi (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Napak Tilas Hari-Hari Besar dan Dimuliakan dalam Islam”)



Brillian Eka Wahyudi dilahirkan pada tanggal 6 April 1994 di Kendal, suatu kota di pesisir Jawa Tengah. Masa kecilnya dijalani dengan pendidikan agama yang ditanamkan oleh ibundanya sehingga Brillian kecil sudah terbiasa bersekolah di pagi hari dan mengaji di sore hari. Ketika masih duduk di jenjang sekolah dasar kelas empat dan lima, ia menjadi juara Lomba Kompetensi Siswa bidang IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) yang mengantarkannya masuk ke salah satu sekolah berstandar nasional melalui jalur prioritas tanpa melalui tes apapun. Pendidikannya diselesaikan di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dengan jurusan Transmisi Telekomunikasi dan ditamatkan dengan nilai yang memuaskan.

Sehari-harinya, penulis bekerja sebagai staf senior yang mengurusi administrasi dan pelayanan pelanggan di PT Jasa Angkasa Semesta cabang Bandara Soekarno-Hatta dan sebelumnya penulis pernah meniti karier sebagai Group Leader dan staf admin di PT Gapura Angkasa cabang Bandara Soekarno-Hatta. Berbagai kompetisi pernah dimenangkan penulis antara lain Abang None SMP Negeri 45 Jakarta tahun 2008, Juara I Lomba Dakwah SMK Telkom SPJ, Juara II Lomba Kompetensi Siswa bidang Bahasa Indonesia tahun 2009, Juara III dengan kategori yang sama pada tahun 2010, dan Finalis Remaja Ceria Jakarta Barat tahun 2009. Setelah bekerja, ia tetap berprestasi dalam ajang OQIP (Overall Quality Improvement Program) PT Gapura Angkasa bersama tim Rumpun Melayu yang digagasnya dengan memenangkan kategori ‘The Best Participative Team’. Tidak hanya dalam pekerjaan, penulis juga tercatat pernah menjadi moderator Ingress Indonesia, salah satu komunitas game berbasis augmented reality (AR) terbesar di dunia, antara tahun 2017-2019.

Beberapa pencapaian penulis di dunia literasi meliputi beberapa penerbitan buku tunggal dan buku antologi bersama. Pada tahun 2018, penulis berhasil meraih juara satu lomba menulis surat dengan judul Jejak Rindu Jakarta-Hongkong dan menjadi salah satu penulis event teraktif Forum Aktif Menulis (FAM) di tahun itu juga.

Penulis merupakan sosok yang haus akan ilmu. Untuk mengisi waktu senggangnya, biasanya diisi dengan menulis, membaca, atau mengikuti berbagai seminar dan kajian. Beberapa seminar yang pernah diikuti penulis antara lain Seminar Fotografi KompasMUDA bersama Eddy Hasby dan Pengajian Masyarakat Intelektual di Masjid Istiqlal.

Melalui menulis, penulis bertekad untuk terus mencari ilmu dan menyebarkan manfaatnya kepada orang lain. Dengan demikian, ilmu tersebut dapat menjadi manfaat untuk semua orang. Beberapa karya Brillian Eka Wahyudi terdiri dari karya tulis sendiri dan antologi bersama penulis lain antara lain:

Karya tunggal
1. Twitopedia Islamika (seri Benua Asia) (2014)
2. Negeri Pesona Nirwana (2015)
3. Aku Bukan Syaitan Bisu (2018)
4. Napak Tilas Hari-Hari Besar dan Dimuliakan dalam Islam (2020)

Karya antologi bersama
5. Cinta di Ujung Pena (2014)
6. Ensiklopedia Penulis Indonesia (2014)
7. Aku dan Buku (2015)
8. Duhai Ayah Duhai Ibu (2015)
9. Segenggam Kenangan di Bangku SMA jilid I (2015)
10. Lautku Lautmu (2015)
11. Kenangan Masa Kecil yang Membekas di Hati jilid I (2015)
12. Cerita dari Waktu ke Waktu (2015)
13. Ode Kampung Halaman (2015)
14. Membelah Rimba Kota (2015)
15. Sepasang Hati di Langit Kelabu (2015)
16. Segenggam Kenangan Masa Lalu (2017)
17. Jejak Rindu Jakarta-Hongkong (2018)
18. Catatan Perjalanan 31 Penulis Indonesia (2019).

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…