Skip to main content

Profil Penulis: Fatmawati Latif (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Delapanbelas di FAM Publishing Berjudul “Doa, Cinta dan Luka”)


Fatmawati Latif adalah Mahasiswi Jurusan Manajemen Universitas Mataram angkatan 2000. Ia lahir di kota Ende, Flores - NTT, pada tanggal 28  Februari 1982. Saat ini selain aktif menulis, ia juga aktif sebagai seorang PNS pada Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Ende. Ia memiliki hobi membaca dan menulis sejak kecil. 

Jiwa menulisnya sudah mulai terasah dari berbagai kumpulan puisi yang ditulisnya tentang berbagai hal. Kesedihan, tawa, duka dan air mata, semua membaur dalam kata yang dirangkainya.

Karya-karyanya diangkat dari kisah keseharian yang sering dijumpai, sarat akan pesan moral dan dikemas begitu apik untuk mengaduk emosi pembaca, menjadi pelajaran berharga  bahwa apa yang kita tanam saat ini, itulah yang nanti akan kita tuai di masa datang.

Ia mulai berkarya lewat buku pertama bersama 60 orang penulis yang tersebar di seluruh Nusantara, yakni buku Antologi Puisi bertema “Ayah dibahumu Aku Bersandar”, buku ke-2 adalah kumpulan puisi bersama 86 penulis dengan tema “Ibu Dalam Balutan Rindu” Jilid II, dan buku ke-3 adalah buku “Aku Dalam Untaian Puisi” karya  penulis terbitan FAM Publishing.

Penulis beralamat di : Jalan Gajah Mada, Waniwona, Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, (NTT ). Alamat email  : azkiya.khaira@yahoo.com, No. Hp : 082 236 222 724.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…