Skip to main content

Profil Penulis: Ina Marlena (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Delapanbelas di FAM Publishing Berjudul “Sepenggal Kisah yang Tak Kembali”)


Ina Marlena. Lahir di kota Garut pada tanggal 17 Maret. Dia dilahirkan dari keluarga pembelajar, karenanya ia telah menyukai dunia membaca sejak kecil. Bapaknya pecandu buku. Setiap pulang ke rumah, dia selalu melihat beliau membaca buku. Mulai dari buku cerita ringan biasa, politik, ekonomi dan bisnis, juga beberapa buku tafsir dan hadits. Beliau juga menyediakan berkarung-karung buku di rumah untuk dibaca. Tujuannya sudah jelas, agar keluarganya menjadi manusia yang gemar membaca. Minatnya untuk menulis muncul ketika menginjak bangku SMP. Ketika ia mulai sering membaca majalah-majalah yang berisikan cerpen dan puisi.

Ia menempuh pendidikan dasar Di SDN Sagara III Cibalong, Garut. Penulis sempat melanjutkan pendidikan di MTs Darul Ma’arif Bandung, kemudian pindah dan menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya di MTsN Sukamanah Singaparna, Tasikmalaya. Selanjutnya ia menempuh pendidikan menengah atas di MA Daarul-Huda, Banjar Patroman. Kemudian menyelesaikan strata satu (S1) di STKIP Garut (IPI Garut), Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Karya tulisannya dipublikasikan di beberapa media dan dibukukan dalam antologi puisi, Menanti Senja (FAM), Samudera Kata Pujangga (E-Book, KBM), Bicara Dalam Sajak (Bebook Publisher), Rekam Jejak Pejuang Bangsa (Pena House), Bunga Rampai Putik Desember-ku, Buku Puisi Bu Een, dll.

Sekarang, ia tinggal di Jakarta. Bisa bersua kata di sosial media dengan nama ina marlena di semua akunnya, facebook, instagram, twitter, goodreads, wattpad, dan blog pribadinya.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…