Skip to main content

Profil Penulis: Maftuhatus Sa’diyah (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Tirakat Cinta Ibunda”)


Maftuhatus Sa’diyah, lahir di Lamongan. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga kecil dan sederhana. Pendidikan formalnya dimulai dari TK Muslimat Al Asyhar, MI Ta’limul Huda, MTs Hidayatul Muta’allimin, dan MA Matholi’ul Anwar. Kemudian melanjutkan pendidikan S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Dakwah Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam. Pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren Tanwirul Qulub, sayangnya hanya tiga tahun. Dia masih merasa sangat kurang. Lebih tepatnya dia ingin memperdalam ilmu agamanya (lagi).

Buku solo yang telah terbit adalah kumpulan puisi El Maffa (Pustaka Jingga, 2013), kumpulan cerpen Keffiyeh Kinanah dan Pashmina Kudus (HeryaMedia, 2014), dan Kumpulan Puisi Aku Sebutir Pasir (Ar Rahman Press, 2015). 

Karyanya juga dibukukan dengan penulis lainnya dalam: Cerita Ramadhan; Nulis Bareng Penulis Best Seller Ahmad Rifa’i Rif’an (Pustaka Ilalang, 2020), Think Green Go Green (Pustaka Jingga, 2013), Be a Great Muslimah (Penerbit Asrifa, 2014), Undeclared Love (LeutikaPrio, 2014), Kun Fayakun (Pena Indis, 2014), Ziarah Batin (Javakarsa Media, 2013), Senandung Zikir Sang Pendosa (Meta Kata, 2013), dan lain-lain. Tulisannya tergabung dalam tiga puluh Sembilan Antologi bersama. Puisi-puisinya pernah dimuat di: NU Online, Annida Online, dan Rima News.

Perempuan introvert ini sangat menyukai embun, hujan, dan senja. Monggo saling menjalin shilaturrahim melalui FB: Sa’diyah, IG: maffa_el.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…