Skip to main content

Profil Penulis: Muhammad Imran (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Meraih Berkah dari Doa Penduduk Langit”)



Muhammad Imran, SH., lahir di Kotawaringin Lama, sebuah kecamatan yang jauh dari pusat kota Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Pada tanggal 29 Agustus 1982. Bapak dari tiga orang anak ini memulai pendidikannya di SD Inpres Kotawaringin Lama. Kemudian melanjutkan ke SMPN di Kecamatan yang sama. Setelah menyelesaikan pendidikan formal tersebut Ia berangkat ke kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, untuk menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru.

Pada tahun 2004, Ia lulus dari Pondok Pesantren tersebut dan kemudian melanjutkan ke Ma’hadul ‘Aly di Pondok Pesantren Yasin Banjarbaru, selama dua tahun. Lulus tahun 2006. Faktor ekonomi keluarga menghentikan langkah pendidikannya. Beruntung Ia dipinta gurunya untuk mengajar di Pondok Pesantren Al-Falah dan Juga Pondok Pesantren Yasin Banjarbaru.

Di sela-sela kesibukkannya mengajar pada dua Pondok Pesantren tersebut, pada tahun 2014 Ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Martapura. Dan bersyukur kepada Allah, pada tahun 2019 lalu Ia telah resmi menyandang gelar Sarjana Hukum dari STAI Darussalam tersebut.

Sebenarnya keinginan menjadi seorang penulis ada sudah sejak lama, semenjak ia suka membaca majalah An-Nida, pada sekitar tahun dua ribuan. Tetapi beberapa kali ia mencoba menulis cerpen selalu saja gagal. Bahkan untuk dikirim ke “dapur” MADING pondok pesantren pun cerpennya tidak layak. Maka oleh sebab itu muncullah penyakit minder dalam dirinya. Kemudian ia mencari alasan pembenar pada dirinya dengan mengatakan:
“Ah, menulis bukan bakatmu!”

Sejak saat itu padamlah keinginannya menjadi seorang penulis. Keinginan dan semangatnya sudah hilang sehingga ia lulus pesantren dan kemudian mengajar. Namun saat ia asyik bemain gawai, khususnya aplikasi medsos bernama facebook. Ia kembali bersinggungan dengan teman-teman dunia maya dari kalangan penulis. Maka semangat menulisnya yang sempat padam kemudian bernyala kembali.


Puncaknya saat ia berhasil melalui tantangan dari salah seorang Penulis, bapak M. Husnaini namanya: Membuat tulisan satu lembar folio dan jika lolos akan masuk Grup WatsApp bimbimbingannya. Ia bersyukur dari ratusan peserta yang mengirim tulisan ia menjadi salah satu yang terpilih masuk grup WA yang diberi nama ABM (Aku Bisa Menulis) tersebut. 

Dengan berteman orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama, ingin menjadi penulis, sedikit demi sedikit kepercayaan dirinya semakin bertambah. Ia mulai berani memposting beberapa tulisannya di halaman facebooknya. Akhirnya Bapak yang juga Penyuluh Agama Islam Non PNS kota Banjarbaru ini berhasil menelurkan beberapa buku antologi bersama teman-teman grup ABM tersebut. 

Ada empat buah buku antologi yang pernah diikutinya: Pertama, buku antologi berjudul Medsosku Sayang, Medsosku Malang terbit (2017). Kedua, buku antologi Mendidik Anak di Era Digital (2017). Ketiga, buku antologi Menulis Mengabadikan Pesan (2018). Juga pernah menulis buku antologi bersama penulis kenamaan Ahmad Rifa’i Rifan berjudul Inspirasi Ramadhan (2018).

Buku berjudul MERAIH BERKAH DARI DOA PENDUDUK LANGIT yang akan diterbitkan oleh FAM Publishing saat ini adalah buku solo perdananya. Dari Ide sampai penulisan buku ini cukup memakan waktu yang lama. Pengumpulan hadits-haditsnya sudah ia lakukan pada bulan Ramadhan tahun 2019 yang lalu. Kemudian sempat terhenti karena kesibukan dan lain-lain hal.

Kemudian berkah Locdwon karena kasus pandemi Covid-19 tahun 2020 ini, ia banyak di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Maka dari awal Ramdhan ia telah berazam untuk menyelesaikan tulisannya yang sempat tertunda tersebut. Dengan sedikit memaksa dan tertatih-tatih ia melanjutkan tulisannya. Ia menarget dirinya sendiri untuk menulis minimal satu artikel setiap hari selama 30 hari.

Dengan kerja keras serta dukungan dari Istri akhirnya buku yang menjadi mimpinya tersebut pun selesai. Walaupun ia menyadari di sana-sini masih banyak kekurangan tetapi itulah sekadar kemampuannya sampai saat ini. Semoga buku tersebut dapat bermanfaat minimal menjadi pemantik dirinya untuk selalu berkarya.

Akhirnya ia menyadari dan mendapat suatu kesimpulan, TERNYATA MENULIS ITU BUKAN BAKAT TETAPI TEKAD. Ya tekad, dengan tekad yang kuat serta usaha yang maksimal siapa pun bisa menjadi penulis. Ia sudah membuktikannya. Dari seorang yang telah men-just dirinya tidak mempunyai bakat dalam menulis akhirnya berhasil menerbitkan buku solo perdananya. Alhamdulillah.

Sekarang Ia tinggal di Banjarbaru dengan alamat: Jl. Golf. Komp. Citra Megah. Blok B. No. 17. Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ia dapat dihubungi melalui No WA 0852 49965989 dan akun Facebook Imron Abu Farhan.

Bila ingin berkenalan dengannya silakan kunjungi akun facebooknya dengan nama tersebut. Semoga terjalin hubungan silaturrahmi di antara kita. Sekian semoga bertemu lagi pada lain-lain kesempatan.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…