Skip to main content

Profil Penulis: Ratino (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Teaching Like Playing”)



RATINO, merupakan penulis kelahiran Cilacap, 6 Maret 1985 yang berkecimpung dalam dunia pendidikan sejak menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Di sela-sela kesibukannya menjadi mahasiswa ketika itu, ia rutin memberikan les privat untuk anak-anak tingkat SMP. Selain memberikan les privat, ia pun rajin menulis di media massa. Tulisan-tulisannya mengenai sosial, budaya, edukasi, cerpen anak, dan dongeng anak sering dimuat di media massa seperti Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, dan beberap koran lokal lainnya. 

Ia menamatkan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UGM pada tahun 2007. Kemudian di tahun 2009 lulus Program Akta Mengajar IV di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Yogyakarta. Masa kecil hingga remaja bersekolah di SD Negeri 1 Menganti, SMP Negeri 7 Cilacap, dan SMA Negeri 2 Cilacap. 

Pernah mengajar di SMK Telekomunikasi Tunas Harapan, Kabupaten Semarang dari 2007—2008 sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia. Dari tahun 2009 – 2010 menjadi penulis lepas di media ataupun penerbitan lokal dan nasional. Dari tahun 2011—2016 mendapatkan tugas dari pemerintah menjadi guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Sadang, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.

 Penulis pun pernah menjadi Instruktur Nasional di tahun 2016. Sejak Oktober 2016 hingga sekarang berpindah tugas menjadi guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Selain mengajar, penulis juga aktif dalam dunia sastra baik sebagai kontributor penulis maupun sebagai peneliti bahasa dan sastra. Hal tersebut ditunjukkan dengan keaktifannya menulis cerpen yang kemudian dibukukan menjadi antologi oleh Balai Bahasa Jawa Tengah dengan judul Menipu Arwah (2019). 

Pada tahun 2019 juga mengikuti seminar kesastraan sebagai “pemakalah” yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Tengah dan hasil penelitian tersebut telah dijadikan Prosiding Hasil Penelitian Kesastraan 2019.  Kegiatan lainnya adalah menjadi narasumber kepenulisan yang diadakan beberapa instansi. Buku-buku umum yang pernah ditulisnya adalah UFO Fact: Bukti-bukti Kunjungan Alien di Bumi (2008), Otak Atik Taktik Nuklir (2014), Piknik Unikku: Sebuah Kumpulan Cerita Pendek Anak Inspiratif (2014). Kecintaannya dalam dunia pendidikan dituangkan dalam karya ini sebagai bahan berbagi pengalaman dalam upaya mencerdaskan anak bangsa agar memiliki keimanan, ketakwaan, dan keterampilan. Pembaca bisa berinteraksi di twitter: @ratino_arkanant atau pun email: ratino_arkananta@yahoo.com . Kunjungi juga channel Youtube: edu sinau.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…