Skip to main content

Profil Penulis: Susanti, S.Pd (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Tujuhbelas di FAM Publishing Berjudul “Antologi Puisi Cinta dan Kehidupan”)


Susanti, S.Pd. Lahir pada tanggal 16 April 1984 di pedalaman Kalimantan Barat, Dusun Ugan Hilir, Desa Nyiin, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, asli putri Dayak. Sejak Agustus 2016 hijrah bersama suami di Kabupaten Mimika-Timika, Papua. Dua tahun kemudian kembali lagi ke kampung halaman dan masih tetap Aktif di kegiatan sosial masyarakat dan organisasi keagamaan. Terlibat di berbagai kegiatan di bidang pendidikan. Pernah menempuh pendidikan S-1 Prodi Ilmu Pendidikan dan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK), Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2009. 

Sekarang penulis bekerja di PAUD Santa Ana Engkadu, Kec.Ngabang, Kab. Landak Kal-Bar, telp. kantor/HP: 082357516784. Penulis pernah menerbitkan buku berjudul Buku Siswa dan Guru pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SDLB kelas VI Tunarungu dan buku fiksi yang berjudul Indahnya kampungku sedihnya hatiku. Penulis dapat dihubungi melalui surat elektronik shantisusan84@gmail.com. 

Adapun riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir sebagai: 
a. Guru SMAK Santo Ignatius Mimika Timika Papua. 
b. Guru SMK Katolik Yayasan Tunas Bangsa St.Philipus Timika Papua. 
c. Guru Agama Katolik SMK Negeri 1 Ngabang, Kab. Landak Kalimantan Barat. 
d. Guru Agama Katolik SMP N 4 Ngabang, Kab. Landak Kalimantan Barat. 
e. Guru Sejarah Gereja SMAK Santo Ignatius Loyola Landak Kalimantan Barat. 
f. Penyuluh Honorer di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. 
g. Ketua Pengelola PAUD santa Anna Dusun Engkadu, Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. 
h. Tutor Kuliah Jarak Jauh program S-1, Ngabang Landak Kalimantan Barat. 
i. Tutor Pendidikan Agama Katolik Akper Jayapura Timika 
j. Ketua Unit Pengelola Kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Ngabang Landak Kalimantan Barat. 
k. Pegiat Literasi Kabupaten Landak Kaimanan Barat

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…