Skip to main content

Terapi Menulis untuk Menajamkan Daya Ingat


Hallo sobat penulis... Terapi menulis sangat banyak manfaatnya. Tahukah Anda apa saja manfaat menulis? Salah satunya untuk menajamkan daya ingat.

Penelitian Burton dan King lainnya menemukan fakta bahwa semakin banyak otak menghabiskan energi untuk memikirkan stres, maka akan semakin sedikit energi yang tersisa untuk membentuk daya ingat dan menjalankan fungsi kognitif lainnya.

Dengan menulis kita bisa mengaktualisasikan diri. Menyampaikan apa yang tak pernah tersampaikan dengan bahasa komunikasi maupun dengan perilaku.

Terapi menulis ini secara mekanismenya, bermula dari kondisi lelah, stres dan trauma. Jika kita melihat siapapun yang sedang bersedih, maupun kita sendiri yang mengalaminya maka cobalah untuk menulis. 

Bermula dari stres, sedih dan trauma lainnya. Pikiran kita akan banyak terkuras untuk terbawa perasaan. Lambat laun, peran otak untuk berpikir jernih dan daya ingat, akan menurun. Disebabkan karena tubuh, waktu dan pikirannya, tergadai untuk melalui masa-masa stres, sedih dan trauma. 

Hal ini bisa terjadi tanpa limit waktu yang pasti. Bisa cepat maupun lambat. Bisa sehari atau dua hari, bahkan bisa seumur hidup. Wah? Bahaya sekali ya. Jika seseorang membawa derita dan kesedihan terlalu lama dalam pikiran dan tubuh. Karena hal ini bisa menjadi awal kesalahan-kesalahan lainnya. Misal, dalam mengerjakan tanggung jawab sehari-hari tidak bisa fokus. Dan bisa juga menyebabkan kegagalan dari sebab-akibat lainnya. 

Terapi menulis untuk meningkatkan daya ingat ini, sangat sederhana. Cukup kita mulai menulis secara totalitas dan ekspresif. Ibaratnya, ‘muntahkan’ saja apa yang menjadi beban pikiran, stres dan trauma yang dirasakan. Dengan menulis ekspresif  dapat menurunkan level stres.

Hasilnya cukup positif, bahkan sigifikan. Yaitu, daya ingat mereka meningkat. Kemampuan untuk fokus bisa mulai terasah kembali. Pikiran bisa terbuka dan berselancar seperti susana berpikir saat menempuh masa belajar masa lalu. Mengingat pelajaran-pelajaran masa lalu. Daya ingat akan meningkat dan juga akan menguatkan fungsi kecerdasan lainnya.

Sepertinya sobat penulis, perlu bersyukur dengan karunia ini. Dan perlu berbagi keterampilan menulis ini. Karena ternyata, sangat banyak manfaatnya... Yuk, kita berbagi manfaat terapi menulis. 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…