Skip to main content

Update Final Peserta Antologi Puisi Bertema “SETETES EMBUN PAGI”



Selasa, 14 Juli 2020
Update berdasarkan urutan huruf Abjad A-Z
[Penerimaan Naskah Sudah Ditutup]

1. Ade Irma Verasari (Sukabumi) – Judul Puisi: Merangkai Embun Pagi; Nuansa Pagi
2. Andi Jamaluddin, AR. AK. (Tanah Bumbu) – Judul Puisi: Kunanti Sepercik Cinta; Mudik ke Kampung Halaman
3. Awaliyun Nikmah (Pekalongan) – Judul Puisi: Putri Tidurku; Embun dan Asa
4. Brandal Kopiireng (Banyumas) – Judul Puisi: Secangkir Kopi; Pesan Cinta Emak
5. Budi Riyoko (Banyuasin) – Judul Puisi: Setetes Embun Pagi di Desaku; Filosofi Setetes Embun Pagi
6. Ema Rahmawati, S. Pd (Sungai Hulu Utara) – Judul Puisi: Menjumpai Pagi; Syukur Nikmat
7. Hestiyana (Banjarbaru) – Judul Puisi: Setetes Embun yang Dirindu; Yang tertinggal di Bening Embun Pagi
8. Intan Ayu Daniswara (Malang) – Judul Puisi: Puncak Kesedihan; Kosong
9. Jahdiah (Banjar) – Judul Puisi: Sebening Embun Pagi; Bunda
10. Juli Setiyadi (Bogor) – Judul Puisi: Embun Kesucian; Embun Menantang
11. Neneng Sulaswati (Garut) – Judul Puisi: Filosofi Embun; Tetesan Tasbih
12. Nia Kurnia (Bandung) – Judul Puisi: Masih Menikmati Embun Pagi; Kisah pada Daun dan Kaca Jendela; Doa Senyap
13. Noor Halimah (Tanah Bumbu) – Judul Puisi: Sepucuk Surat untuk Embun; Menggenggam Embun di Sajak
14. Nurul Nafisatu Solihah (Garut) – Judul Puisi: Setetes Embun Pagi; Kuasamu di Balik Buliran Embun
15. Parmadi (Jambi) – Judul Puisi: Embun; Embun di Pokok Cemara
16. Resti Nurfaidah (Bandung) – Judul Puisi: Dialog dengan Embun; Kepada Embun Dini Hari
17. Rissari Yayuk (Martapura) – Judul Puisi: Ranting Merindu; Embun Pagi
18. Sopiatul Azizah(Garut) – Judul Puisi: Asa Aksara; Aku Disini
19. Sri Mujayati (Sungai Hulu Tengah) – Judul Puisi: Embun Rejeki; Cerita Hari
20. Suyatno (Banjarbaru) – Judul Puisi: Sebulir Embun (Yang Kurindu); Damai di Setetes Embun Pagi
21. Tomi Omay (Garut) – Judul Puisi: Setetes Rasa; Setetes Kenangan
22. Tosfayana Mawardi (Payakumbuh) – Judul Puisi: Pada Hijaumu; Puisi Pada Sebatang Bonsai

Nama penulis yang tercantum di atas adalah yang naskahnya dinyatakan lolos dan akan dibukukan (Sudah Registrasi). Jadwal dan proses penerbitan silakan cek pesan di email Anda masing-masing. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam penerbitan antologi ini.

Terima kasih atas partisipasi anda semua. Salam aktif!
FAM Indonesia
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…