• Info Terkini

    Saturday, August 8, 2020

    Parade Buku Antologi Fam


    Deritaku Karenamu

    Karya: Jahdiah

    Hari semakin larut ketika Habibah kembali ke peraduan.  Ia teringat akan kata-kata saudaranya kepadanya, bahwa dia harus bercerai dengan Yani, suaminya. Bagaimana mungkin  dia bercerai dengan suami yang masih ia cintai dan  anaknya yang masih kecil. Tapi bagaimana mungkin dia tidak menurut kepada saudara yang meminta untuk bercerai karena kesalahan kecil suami kepada keluarga: tidak jujur sewaktu diberi menjaga tambak ikan.

    “Pokoknya kamu harus bercerai dengan suamimu!” ujar Galuh kepada adiknya Habibah yang kelihatan masih menangis sesenggukan.

    “Memang kenapa?” ujar Habibah sambil terus menyapu air matanya yang terus mengalir tanpa bisa ditahan.

    Habibah masih berusaha untuk memepertahankan ruamah tangganya dengan Yani dengan berbagai cara, apalagi jika dia melihat Hafiz, anak sewata wayang yang belum genap berumur dua tahun harus kehilangan kasih sayang sosok seorang ayah. Tetapi kakak yang sudah tidak mau memaafkan suami karena sudah membawa uang hasil penjualan ikan di tambak. Memang kalau dipikir, perbuatan suaminya  tidak bisa dimaafkan karena sudah tidak jujur, setelah diberi kepercayaan malah tidak bisa memegang janji.

    “Suamimu itu sudah membuat aku rugi dengan mengatakan bahwa tambak saya yang di hulu rugi, padahal sebenarnya tidak,” ujar Galuh, kakak yang memberikan kepercayaan kepada suami Habibah untuk menjaga tambaknya.

    Memang kalau dipikir keterlauan juga suaminya mengatakan bahwa tambak ikan yang dijaga rugi tidak ada hasilnya sama sekali. Padahal sebenarnya hasil panen semua keuntungan diambil sendiri oleh suami. Bila mengingat hal itu, Habibah juga merasa sedih dan sakit hati kepada suaminya.

    Sejak peristiwa itu, Habibah sudah menutup hatinya untuk Yani, suaminya. Walaupun masih ada sedikit rasa yang tersisa, tapi untuk kembali rasanya terlalu sakit. Suatu hari suaminya datang ke rumah untuk melihat buah hati mereka, Hafiz.

    “Assalamualaikum…” suara lelaki dari luar rumah mengejutkan Habibah yang sedang menunggui anaknya tidur.

    “Waalaikum salam…” sahut Habibah sambil beranjak berdiri  menuju pintu.

    Ketika pintu dibuka, Habibah terkejut karena suaminya sudah ada di depan pintu. Padahal sudah hampir setengah tahun sejak peristiwa itu terjadi, suaminya sudah tidak ada kabar beritanya. Tetapi entah mengapa sekarang sudah ada di depannya.

    “Kamu?” ujar Habibah  terasa kering tenggorakan ketika bersuara karena tak menyangka suaminya datang lagi setelah menghilang tidak ada beritanya.

    “Aku datang untuk meminta maaf kepada kamu dan kakakmu,” ujar Yani dengan suara terbata-bata.

    “Setelah apa yang kau berbuat kepada keluarga aku, kau  masih berani datang lagi?” ujar Habibah sambil membuang muka karena tak sudi lagi melihat suaminya.

    “Aku dulu khilaf…” ujar Yani sambil  terus berusaha  meminta maaf kepada Habihah.

    “Baiklah, aku memaafkan, tapi entah dengan kakakku Galuh, karena  dia yang banyak rugi atas kelakukan kamu dulu,” ujar Habibah kepada Yani.

    “Terima kasih,” ujar Yani sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah Habibah. Walaupun Habibah tidak mempersilakan Yani duduk, tapi Yani sudah merasa capek sejak datang tadi hanya berdiri saja tidak dipersilakan duduk oleh Habibah.

    “Selain untuk meminta maaf, apa lagi maksud kedatanganmu?” Habibah kembali bertanya kepada Yani yang sudah duduk di kursi.

    “Aku hendak melihat anak kita. Sudah hampir setengah tahun aku tidak melihat Hafiz,” ujar Yani.

    “Hafiz lagi tidur,” ujar Habibah, “Lain kali saja,” lanjutnya. 

    “Sebaiknya kamu pulang saja. Lain kali aja kamu ke sini lagi sekalian meminta maaf pada kakakku, mungkin dia mau memaafkan lagi,” ujar Habibah sambil menutup pintu.

    Habibah terpaksa berbuat seperti itu. Dia tidak ingin menjadi gunjingan tetangga. Sudah bercerai dengan suaminya masih saja menerima, apalagi pada malam hari seperti sekarang. Sejak bercerai dengan Yani, Habibah memang harus selalu menjaga harga diri, apalagi sebagai seorang janda.

    Untuk menghidupi anaknya, Habibah bekerja sebagi penyadap karet. Kebun karet peninggalan orangtua hanya sebidang, tapi cukuplah untuk menghidupi dia dan anaknya. Bekerja menyadap karet adalah pekerjaan yang bisa dilakukan sambil membawa anaknya yang masih kecil ke kebun tapi terpaksa dia lakukan.

    Siang itu matahari terik sekali. Sepulang dari menyadap karet di kebun miliknya, Habibah melewati rumah kakaknya, Galuh. Dia sebenarnya berniat ingin mampir ke rumah itu. Tapi sebelum dia mampir, dia mendengar suara dari dalam rumah kakaknya ada yang memanggil.

    “Bib, Habibah! Singgah sebentar!” suara kakaknya terdengar dari dalam rumah.

    Habibah langsung menghentikan langkahnya dan menuju suara yang memanggil namanya. Dia lihat kakak kelihatan emosi dari raut mukanya.

    “Iya, Kak. Ada apa?” ujar Hahibah sambil mendekati kakaknya.

    “Kudengar dari tetangga bahwa kemarin suamimu, Yani, datang ke rumahmu. Untuk keperluan apa dia datang lagi? Dasar laki-laki tidak tahu malu!” cerca kakaknya tidak memberikan kesempatan kepada Habibah untuk menjelaskan maksud kedatangan suaminya kemarin.

    “Iya. Dia datang untuk meminta maaf kepada Kakak dan aku, sekalian untuk menjenguk Hafiz,” sahut Habibah sambil duduk di teras rumah kakaknya seraya melepas lelah sepulang dari menyadap karet di kebun.

    “Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan Yani, karena dia telah membohongi kita semua!” lanjut Galuh dengan nada emosi.

    Habibah maklum dengan sikap kakaknya karena akibat kelakuan mantan suaminya mengakibatkan ratusan juta kerugian yang ditanggungnya. 

    “Baiklah, Kak. Aku pulang dulu, ya! Kasihan dari tadi Hafiz sudah tidur di gendongan aku,” lanjut Habibah sambil berdiri meninggalkan kakaknya yang terus saja mengomel mengenai kelakuan mantan suaminya.

    Sesampai di rumah, Habibah menidurkan anaknya di ranjang. Masih tergiang apa yang dikatakan kakaknya bahwa kakaknya tidak akan memaafkan mantan suaminya. Habibah pun terpaksa harus melupakan suaminya. Tidak mungkin dia menantang kakaknya yang selama ini membantunya. Habibah sudah bertekad akan membesarkan Hafiz seorang diri walaupun hati kecilnya juga menginginkan sosok bapak untuk anaknya. 

    Siang makin terik. Kemarau panjang tahun ini mengeringkan daun-daun di muka rumahnya seperti kering hatinya yang terpaksa kehilangan cinta sejati karena keadaan.
    *

    Martapura, Maret 2020

    (Karya ini terdapat dalam buku antologi cerpen "Sisi Kalbu Nan Kelam" terbitan FAM Publishing)

    Tentang Penulis:
                                                                                                                                                                  Jahdiah, M.Pd.  ID Keanggota FAM: IDFA6068U. Bekerja sebagai ASN  di Balai Bahasa Kalimantan Selatan sejak tahun 2001. Profesi sebagai peneliti Bahasa dan Sastra, terbiasa bergelut dengan karya-karya sastra  untuk dijadikan bahan kajian. Sehingga  menjadi menyukai karya sastra. Selain itu  juga penulis  pernah menulis beberapa cerita anak, pantun, cerpen, dan puisi. Selain sebagai peneliti, penulis juga salah satu narasumber berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan di Balai Bahasa Kalimatan Selatan.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Parade Buku Antologi Fam Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top