Skip to main content

Cita dan Cinta di Bumi Majapahit Millenium


Judul: Cita dan Cinta di Bumi Majapahit Millenium

Penulis: Samsul Arif

Kategori: Kumpulan Cerpen

ISBN: 978-623-7902-69-0

Terbit: September 2020

Tebal: vi + 102 hal: 14 x 21 cm

Harga: (dokumentasi penerbit/penulis)

Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher


Patih Nambi meminta izin kepada Raja Majapahit, Prabu Jayanegara untuk menengok ayahnya, Arya Wiraraja, yang sakit keras di Lumajang. Sebelum sampai Lumajang, sang ayah telah meninggal dunia. Patih Nambi berduka, dan menghabiskan waktu sejenak di tanah kelahirannya sebelum kembali ke ibukota Majapahit.

Situasi ini dimanfaatkan Dyah Alaiyudha, atau Mahapati, untuk merebut posisi Patih Nambi secara licik. Ketika melayat ke Lumajang, Dyah Alaiyudha mengatakan kepada Patih Nambi bahwa Prabu Jayanegara mengijinkannya untuk selama mungkin berduka cita atas kematian ayahandanya. Tetapi kepada Prabu Jayanegara, Dyah Alaiyudha mengatakan bahwa Patih Nambi enggan untuk segera kembali ke ibukota dan sepertinya akan mempersiapkan sebuah pemberontakan.

Atas bujuk rayu Dyah Alayudha, Prabu Jayanegara ketakutan apabila ada pangeran yang mendekati kedua adik tirinya, yaitu Tribuana Tunggadewi dan Dyah Rajadewi. Sang prabu takut suami mereka bisa merebut tahta yang di dudukinya.

Andri bingung mau berbuat apa. Ingin rasanya menangis, marah, tapi pada siapa. Ia harus jaga diri, tak boleh larut dalam emosi. Ini adalah pelajaran pertama yang berharga dalam hidupnya. Bahwa banyak kebohongan dan rekayasa dalam kehidupan ini. Yang penting kita tidak larut tenggelam dan bergabung bersama mereka. Dan, akhirnya Raden Wijaya (Raja Majapahit 1293 – 1309) menyatukan hatinya bersama Dyah Gayatri. Dari Dua hati itu lahirlah Tribuana Tunggadewi (Ratu Majapahit 1328 – 1350) dan selanjutnya lahir Raja Majapahit selanjutnya (Hayam Wuruk, 1350-1389).

Cita dan Cinta di Bumi Majapahit akan selalu dikenang dan menjadi tapak tilas bagi generasi selanjutnya di abad Millenium ini. Serupa tapi tak sama. Akan selalu ada cita dan cinta dengan nuansa dan romansa yang berbeda di setiap generasi umat manusia.


*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Center: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…