• Info Terkini

    Friday, September 11, 2020

    (Parade Buku Antologi FAM) Sebait Perjuangan Hidupku Bersama Thalasemia

     


    Karya: Devie Aryani


    Tiiit… Tiiit… Tiit... 

    Hening, sepi.

    Itulah keadaan ruang ICU sebuah rumah sakit di mana kini menjadi tempatku berbaring di sebuah kasur rumah sakit. 

    Aku Dinda, seorang penderita thalasemia yang kini terbaring lemah tak sadarkan diri setelah mengalami sesak napas kemarin malam. Aku mengidap thalasemia sejak bayi, yang kata orang tuaku aku adalah anak mahal yang selama hidupnya harus menjalani pengobatan di rumah sakit. 


    Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua. Kelainan ini membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah. Kurang darah yang dialami penderita thalasemia akan menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. Akibatnya, aktivitas penderita thalasemia akan terganggu.

    Thalasemia sebenarnya tidak menular. Hanya saja perlu diwaspadai, terutama thalasemia yang berat (mayor), karena dapat menyebabkan komplikasi ke berbagai organ lainnya seperti gagal jantung, pertumbuhan terhambat, gangguan hati, hingga kematian.


    Aku mulai mengetahui keadaanku sejak aku masuk sekolah dasar. Tubuhku yang normal tidak memperlihatkan aku berbeda dengan anak-anak lainnya. Namun mataku yang pucat dan terlihat kuning sering kali dipertanyakan teman-temanku pada masa itu. Banyak yang tanya, "Dinda, mata kamu kok kuning? Kamu sakit, ya?" di situlah yang membuatku menjadi pribadi yang lebih aktif, dengan tujuan aku ingin dipandang sama seperti anak-anak normal lainnya. 

    Aktivitasku yang aktif ternyata membuatku kewalahan. Selalu saja di setiap minggunya ada darah yang keluar di hidungku. Dan selalu saja setiap bulan aku izin karena aku masuk rumah sakit. 


    "Dinda sakit-sakitan." 

    "Dinda penyakitan."

    "Dinda aneh, keluar darah dari hidung terus." 

    Menyakitkan memang, tapi kenyataannya itulah yang mereka katakan kepadaku selama sekolah dasar. Aku tidak banyak mendengarkan mereka. Aku pura-pura selalu tertawa menganggap semua yang mereka katakan adalah bercandaan. Sampai pada suatu ketika, aku mulai bosan terus menerus bahagia ketika dibilang manusia penyakitan. Akhirnya aku marah, aku benci dan aku menutup diri. Aku bosan mendengar mereka selalu menganggapku aneh dan penyakitan. 

    Sampai pada di mana aku menginjak sekolah menengah pertama.


     Untuk tahun pertama semuanya berjalan normal seperti kehidupan banyak orang normal lain. Sampai pada saat di mana rumor tentang aku yang sering izin karena lagi dan lagi harus menjalani pengobatan setiap bulannya. Harus menjalani opname terus menerus dan harus mnegonsumsi obat-obatan setiap hari. Awalnya kukira aku bisa melewatinya, ternyata aku salah. Akhirnya aku pun kalah dengan keadaan, lagi dan lagi aku mulai bosan, aku mulai marah dan aku mulai tak ingin melanjutkan hidupku. 

    Ketika aku beranjak menginjak kelas 3 sekolah menengah pertama, aku mulai berontak dengan hidupku. Aku menolak untuk berobat, aku menolak untuk semua terapi yang diberikan dokter kepadaku dengan alasan aku ingin hidup normal.


     Beberapa bulan aku menjalani kehidupan normalku, tanpa obat, tanpa masuk rumah sakit dan tanpa perkataan "Dinda si penyakitan". Awalnya terasa sangat indah, hidupku normal dan teman-temanku banyak. Tapi akhirnya dunia tak berpihak kepadaku. 

    Enam bulan aku menjalani hidup normal, namun lagi dan lagi aku harus menyerah pada keadaan. Tubuhku drop. Darahku menurun dan aku hilang kesadaran. Perjuanganku selama 6 bulan ternyata tidak bisa mengalahkan sel darahku yang lebih jahat. Lagi dan lagi aku masuk rumah sakit tanpa sadarkan diri dan aku menjalani pengobatanku yang tertunda selama 6 bulan. Dari sana tubuhku mungkin berontak dan meminta haknya untuk beristirahat sehingga pada saat itu dokter memperketat pengobatan dan terapiku. 


    "Mulai sekarang, setiap bulan kamu harus transfusi dan tidak boleh telat!" 


    "Dan mulai sekarang, kamu tidak boleh melakukan hal-hal yang berat, yang akan membuatmu kecapekan. Istirahatlah dan jangan melakukan aktivitas yang akan membuat tubuhmu sakit lagi!" 

    Cukup jelas dan selalu aku ingat apa yang dokter katakan. 

    Semenjak saat itu, mau tidak mau aku harus bertahan menerima keadaanku yang sebenarnya.


     Semenjak hari itu aku terus belajar dan belajar bagaimana menjalani hidup yang benar. 


    Waktu terus berjalan, minggu ke minggu bulan ke bulan berjalan tanpa bisa kuhentikan. Dan tetap bosan selalu mengelilingi manusia, bosan dan bosan yang aku rasakan selama mengalami pengobatanku. Setiap bulan tetes demi tetes darah aku nikmati masuk ke tubuhku secara rutin. Butir demi butir obat masuk ke tubuhku tanpa henti. 


    “Ma, aku bosan!”


    “Jangan ngomong gitu, Nak!” peluk mama menenangkanku.


    “Aku bosan, Ma. Dari kecil aku hanya tahu berobat, transfusi terus menerus… Kapan aku sembuh, Ma?”


    Pasti selalu itu yang dikatakan semua penderita thalasemia di dunia ini. Tanpa mereka tahu bahwa perjuangan orangtua mereka lebih berat daripada anaknya. Seluruh penderita thalasemia tidak pernah tahu bagaimana perjuangan seorang ibu kalian agar selalu melihat kalian tersenyum. Tanpa kalian tahu bagaimana sakit dan tersiksanya hati orangtua kalian melihat kalian kesakitan setiap bulan, dan kalian bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana kesepiannya orangtua kalian merasa selalu sendiri melewati beban berat seperti ini. 

    Tapi, semua orangtua juga tidak akan pernah tahu bagaimana kami berjuang demi terlihat normal di depan orang lain. Wajah kami yang berbeda dengan orang normal lainnya membuat kami terlihat berbeda. Ukuran tubuh kami yang lebih pendek dari teman-teman seusia kami juga membuat kami sering dipandang sebelah mata oleh orang lain. 

    Kupikir sejak masuk universitas, semuanya akan baik-baik saja dan aku akan bisa menjalani ini dengan damai. Tapi ternyata tidak, bahkan teman-teman satu jurusanku sering memandangku sebelah mata, dianggap sebagai wanita berpenyakitan, dianggap thalasemia menular dan selalu dijauhi karena alasan takut tertular olehku. 

    Perlu diingat bahwa thalasemia itu penyakit genetik alias penyakit keturunan yang hanya dapat diperoleh dari gen orangtua yang mempunya gen thalasemia. Thalasemia itu tidak menular apalagi dengan cara dekat dengan penderita thalasemia, tidak akan membuatmu menjadi seorang penderita thalasemia juga. 


    Dari sanalah aku memcoba bangkit, karena ada teman-teman yang harus sadar bahwa aku juga bisa sukses dan bisa hidup normal seperti kalian. Di sana aku mulai aktif menjadi mahasiswa yang mempunyai peran penting, masuk ke organisasi mahasiswa, ikut aktif dalam segala kegiatan bahkan beberapa kali aku menjadi narasumber di berbagai seminar kesehatan tentang thalasemia. Bukan maksud untuk sombong tapi tujuanku hanya untuk membuka wawasan teman-teman agar paham thalasemia itu tidak seperti yang kalian pikirkan. 


    Aku lulus dengan gelar sarjanaku dengan predikat cumlaude. Baiklah, sampai sini rupanya aku mengerti bahwa Tuhan memberikan ku thalasemia bukan musibah tapi anugerah, karena aku mengerti bahwa kami “manusia pilihan” Tuhan.  Jika kamu masih berpikir thalasemia ini mengerikan, mungkin kamu kurang menikmati hidupmu, sahabat.

    Kini umurku menginjak 24 tahun. Cukup sudah 23 tahun perjuangan hebatku melawan penyakit thalasemia. 

    *

    Kini aku terbaring di rumah sakit dengan selang di sebelah kanan dan kiri yang tak kutahu itu fungsinya untuk apa. Perlahan aku membuka mata. Terlihat beberapa sosok yang kukenal dan yang selalu aku sayangi. Mereka tersenyum padaku. Papa, mama, kakak, dan dia pangeranku. Mereka tersenyum bahagia. Namun tubuhku terlalu lemah berkata pamit. 

    Sepersekian detik cahaya terang itu datang menghampiriku. Pria yang sangat tampan kini berada di hadapanku. Dia terseyum dan melambaikan tangan padaku. Tubuhku kini sudah tidak merasa sakit. Aku tenang, aku sembuh dan aku pamit. 

    Tiiiiiiiiiiiiittttt...

    Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. 

    Selamat tinggal, Dinda. Kamu pejuang yang hebat. Kami sayang padamu. Tenang di alam sana ya, Dinda. Kini kamu sembuh. Kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Selamat tinggal, Dinda. We love you.* ❤

    (Karya ini terdapat dalam buku antologi "Nyanyian Prosa Cinta" terbitan FAM Publishing)


    Tentang Penulis:

     Penulis adalah salah satu penyandang Thalasemia. Kini dia mencoba megmbuka wawasan teman-teman mengenai thalasemia. Berdomisili di Ciamis, Jawa Barat.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: (Parade Buku Antologi FAM) Sebait Perjuangan Hidupku Bersama Thalasemia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top