Sabtu, 19 April 2014

Menafsirkan Sebuah Senyuman, Proses Kreatif Buku Kumpulan Cerpen "Senyum Nolina"

Oleh Dedi Saeful Anwar

Dalam hidup setiap manusia pasti pernah mengalami hal yang membuat tersenyum dan menangis. Sedih dan bahagia, sehat maupun sakit adalah bagian dari rasa dan keadaan yang selalu menyapa kita sehari-hari. Namun persoalannya, sejauh mana kita mampu memaknai perasaan itu. Kita diajarkan untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, begitu pula sebaliknya, tidak seharusnya kita terjebak dalam euphoria kesenangan atau kebahagian. Akan lebih bijak seandainya kita mampu menakar rasa senang dan sedih itu dalam porsi yang sewajarnya.

Atas dasar itu semua, saya berusaha menafsirkan sebuah senyuman. Apakah senyuman itu memang ekspresi dari rasa senang atau sebuah senyum hanya untuk menutupi perasaan duka mendalam yang sudah terlalu sering menyapa? Berawal dari interaksi dengan kepolosan seorang gadis kecil yang mampu mengiris hati manakala ia mendapatkan sebuah ketidakadilan dalam hidupnya hanya karena keterbatasan yang ia miliki. Sementara tiada satu pun manusia di bumi ini yang meminta terlahir dalam ketidaksempurnaan. Justru kita yang memiliki kesempurnaan fisik, malah terkadang sering melakukan hal yang tanpa disadari dengan bersikap jauh dari rasa beryukur.

Ada rasa pedih saat menyaksikan ketidakadilan yang nyata dan menohok mata itu.  Lantas mengetuk hati untuk berbuat sesuatu, berharap bisa mengobati hati yang terlanjur lirih. Menuangkan perasaan ini dengan menulis, inilah yang mampu saya lakukan. Banyak orang yang melakukan aksi protes akan ketidakadilan, dengan turun ke jalan sambil mengusung spanduk yang bertuliskan kata-kata umpatan juga hujatan. Tidak sedikit pula yang berkoar menyuarakan perasaannya melalui corong pengeras suara dengan segala sumpah serapahnya. Semua sah-sah saja, asalkan menuhi aturan yang berlaku.

Sementara saya menyuarakan hati ini atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakan melalui bentuk tulisan. Sebuah tulisan diharapkan mampu mengekspresikan atau mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bahasa tulis, demikian sebuah kalimat yang pernah saya  tangkap. Sehingga tulisan itu akan sampai  pada tangan para pembacanya. Bahkan, berharap pula mampu menembus sekaligus merubuhkan tembok ketidakadilan yang angkuh. Hingga melintasi ruang dan waktu.

Berbicara ketidakadilan, hampir setiap orang pula pernah mendengarnya, melihat bahkan mengalami dan merasakannya. Reaksi atas fenomena ini tentu saja berbeda bagi setiap orang dalam menyikapinya. Setiap hari kita pun sering mendengar dan melihat pemberitaan  tentang ketidakadilan. Baik melalui media cetak maupun elektronik. Semua berjejal memenuhi ruang otak kita yang hanya sekepalan tangan ini. Jika tak mampu meredam semua itu, kiranya meledaklah otak ini yang tidak mustahil akan berwujud menjadi sebuah schizophrenia.

Bersyukurkah kita, Allah SWT memberikan kita qolbu (hati). Dengan hati kita mampu menyaring dan menahan luapan emosi yang menjejali otak kita setiap hari. Dengan hati kita mampu berempati, dan dengan hati pula kita mampu mengobati luka hati. Untuk itulah, saya berusaha memotret semua bentuk ketidakadilan dalam kehidupan di negeri ini ke dalam sebuah tulisan.

Awalnya saya tulis dalam puisi atau opini mini. Kemudian menuangkannya beberapa tulisan ke dalam buku harian/diary. Ada pula yang berbentuk sebuah file yang diketik dan disimpan dalam flash disk. Hingga pernah sebuah flash disk itu terbakar oleh sebuah CPU saat menggunakan jasa rentalan komputer. Hilanglah semua arsip itu. Raib tak terselamatkan. Sungguh mengenaskan!

Kemudian saya berusaha menyimpan data-data itu ke dalam e-mail. Hingga kini  surat elektronik yang sudah berumur belasan tahun itu masih menyimpan tulisan-tulisan lama saya. Entah dari mana ide itu, saya hanya terdorong sebuah keinginan, bagaimana caranya agar file/ data hasil tulisan saya bisa aman dalam jangka waktu yang lama. Saat itu saya pernah terlintas untuk membuat blog hingga belajar membuat blog dengan melalui buku panduan yang dibeli pada awal tahun 2000-an. Namun diurungkannya hal itu, karena saya pikir blog akan itu akan mudah dicopy walaupun keuntungannya karya bisa dilihat banyak orang (baca: terpublikasikan). Walau pada akhirnya saya tergiur juga, bahkan melahirkan dan mengelola tiga Blog sekaligus.

Dulu saya sering mengetik di rentalan komputer, komputer saudara atau menggunakan fasilitas komputer di sekolah tempat saya sehari-hari mengajar. Namun dengan berkurangnya intensitas ke warnet,  akhirnya saya mengarsipkan tulisan-tulisan itu dalam beberapa keping compact disc karena tidak memiliki komputer sendiri. Hingga dari beberapa tulisan itu ada yang berumur hampir sepuluh tahun, mereka mengendap dalam bentuk CD.

Pada pertengah tahun 2001 saya mencoba menulis beberapa cerpen. Bahkan saya mencoba menulis carpon (carita pondok) atau cerita pendek yang berbahasa Daerah (Sunda) dalam buku harian. Sejak itu berhenti dan vakum cukup lama. Barulah pada 2007 saya mencoba menulis cerpen lagi untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba yang diadakan oleh sebuah Majalah sekolah d Kota Cianjur. Dan cerpen karya saya saat itu menjadi salah satu yang terbaik dan kini tergabung dalam buku ini bersama sebelas cerpen lainnya.

Setelah kumiliki sebuah PC tua, barulah saya bisa memindahkan dan menyimpan tulisan-tulisan tersebut. Saat itu terbersit dalam benak, yang penting saya bisa menyimpan tulisan-tulisan itu dengan aman. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak saya untuk mengarsipkannya dalam sebuah buku. Mustahil rasanya.

Namun sejak mengenal media sosial (facebook) pada awal 2010, hobi menulis sepertinya mulai mendapat tempat lain. Selain sebagai media untuk berkomunikasi dengan sahabat lama maupun baru, media sosial ini dipergunakan pula untuk menulis beberapa catatan. Sekarang, media sosial ini justru menjadi sarana paling mudah untuk menyalurkan hobi menulis. Mulai dari hanya membuat status yang pendek hingga menuliskan catatan lainnya, baik berupa opini, puisi maupun cerita pendek.

Secercah harapan datang tanpa diduga. Ketika asyik berkencan dengan “mbah” Google  saya membaca sebuah kesempatan ajang menulis. Sebuah event menulis puisi yang diselenggarakan oleh FAM Indonesia pada penghujung tahun 2012. Sejak itulah babak baru karir menulis saya dimulai.  Petualangan menulis pun terus berlayar. Hingga saya bergabung dengan beberapa grup kepenulisan lainnya yang cocok untuk dijadikan sumber pembelajaran. Ghirah menulis semakin tumbuh subur menggiring dan membimbing jemari ini menyapa tuts-tuts keyboard. Berpuluh even menulis saya ikuti sepanjang tahun 2013 yang kini telah melahirkan dua puluh enam antologi. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya. Buku Antologi puisi “Kejora yang Setia Berpijar”, Januari 2013 adalah adalah setitik api yang menyala dan merupakan benih semangat yang melahirkan “Senyum Nolina”.

Dalam hidup ini, saya menjalaninya ibarat air mengalir. Semua yang terjadi di bumi adalah kehendak-Nya. Begitu pun saat saya berjumpa dengan FAM. Saya menyikapi hal ini merupakan sebuah anugrah, bukan kebetulan semata. Saya meyakini bahwa Allah SWT sudah merencanakan banyak hal indah dalam hidup ini termasuk perjumpaan saya dengan FAM. Namun semua itu rahasia-NYA. Saya semakin menikmati kegiatan menulis ini. Apa yang saya rasakan saya tulis dalam bentuk puisi, cerpen dan essay.

Sepanjang 2013, selain di FAM, saya berpetualang mengikuti beberapa even antologi di beberapa grup kepenulisan seperti: Penulis dan Sastra (PEDAS), Antologi Es Campur (ECA), Warung Antologi, Harfeey, Pena Meta Kata, Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN), Panggung Aksara Tarian Pena (PATP) maupun grup yang lainnya.  Semua grup itu tentu sangat memberikan kontribusi dalam perkembangan menulis saya. Hal itu juga memberikan ruang kreatif yang lebih luas lagi, jadi tidak ada salahnya saya sangat berterima kasih dan angkat topi kepada grup atau wadah kepenulisan yang telah turut serta memberikan ilmunya kepada saya. Baik kepada para Admin (pengurus grup tersebut maupun kepada para anggotanya yang sekaligus menjadikan saya lebih banyak teman bahkan saudara baru).

Kemudian di penghujung 2013, akhirnya terbersit hasrat untuk mendokumentasikan karya –karya yang tercecer menjadi sebuah buku tunggal sekaligus menerbitkannya. Walau ada rasa ragu yang sangat kuat, namun berkat dorongan semangat dari beberapa teman dan kesempatan yang diberikan oleh FAM Publishing yang terbuka terbuka lebar, saya terus berusaha mewujudkan impian tersebut.

Dalam mewujudkan sebuah keinginan atau cita-cita tentu bukan perkara mudah dan tidak mulus begitu saja. Semua perlu kesungguhan dan niat yang kuat dibarengi dengan kesabaran dan keikhlasan. Apalagi waktu yang dimiliki harus terbagi untuk beberapa kegiatan dan kepentingan lainnya, seperti rutinitas pekerjaan, keluarga dan hal mendadak lainnya yang tidak bisa ditangguhkan. Karena itulah, sejak bulan Juli 2013 saya mulai mengumpulkan naskah-naskah yang tercecer. Untuk kemudian dibaca ulang. Ada yang kalimatnya ditambah maupun dikurangi, ada yang berganti judul bahkan ada pula yang berkali-kali nama tokohnya saya ganti hingga lima kali disesuaikan dengan tema latar belakang dan alur cerita.

Saya memasang target, bahwa buku ini ingin terbit tepat di hari kelahiran saya pada November 2013. Lalu, menyisihkan waktu di malam hari untuk sekadar membaca  ulang dan mengoreksi tulisan yang dirasa kurang pas, itu pun jika lelah tidak terkuras karena siang hari disibukkan dengan pekerjaan rutin juga kegiatan lainnya hingga menjelang sore. Beberapa naskah lama dan baru saya siapkan. Hingga terkumpullah dua puluh dua cerpen yang disiapkan untuk buku kumpulan cerpen pertama ini.

Menginjak bulan Agustus 2013 di tengah semangat menggebu untuk menyelesaikan beberapa naskah, saya lupa dengan kondisi badan hingga sebuah rasa sakit muncul dan mengganggu aktivitas. Walau tidak begitu parah namun penyakit yang dirasa cukup mengurangi intensitas duduk di depan komputer. Saya tidak bisa terlalu lama duduk. Sehingga target ingin menyelesikan naskah bulan September 2013 pun akhirnya gagal.

Selama menyusun karya tunggal ini pertama ini, saya masih tetap mengikuti beberapa even menulis lainnya. Itu pun jika tema yang disajikan dalam event tersebut cocok. Hal itu saya lakukan demi menghindari kejenuhan dan kebuntuan ide. Ketika menginjak bulan September 2013, saya menghentikan pengejaran target ini dikarenakan harus menyelesaikan tugas dan pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Menginjak awal Oktober 2013 awan mendung kembali menggayut dalam proses mewujudkan cita-cita ini. Tepatnya pada 5 Oktober 2013, saat menyelesaikan sebuah naskah, berita mengejutkan muncul melalu ponsel, sekitar jam sepuluh malam. Ibunda tercinta pergi menghadap-Nya di tengah semangat mewujudkan impian ini. Manusia hanya berencana, Allah SWT memiliki rencana lain. Ingin hati mempersembahkan sebuah buku tunggal ini kehadapan beliau, namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Pagi hari, 6 Oktober 2013 saya mengantarkan jenazah ibu hingga ke peristirahatan terakhirnya tepat di hari kelahiran putri bungsu. Padahal hari itu saya berniat untuk menjenguk Ibunda sambil bersyukur dan berkumpul menikmati nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur kami.

Semenjak kepergian ibunda, berhari-hari saya kehilangan semangat menulis (writer's block). Saya tak mampu menuliskan sebuah kalimat pun. Rasa duka mendalam terus menggelayuti benak dan perasaan. Kehilangan orang tercinta serta yang begitu dekat sekaligus paling dihormati benar-benar memukul semangat hidup saya. Pada minggu kedua sejak kepergiannya, saya kembali, sedikit demi sedikit merasakan ada tenaga untuk mencurahkan perasaan dan ide yang mulai berdatangan kembali.

Bulan November lewat begitu saja. Hari kelahiranku tidak mewujudkan buku tunggal seperti apa yang kuimpikan selama ini. Saya  kembali berkutat dengan naskah-naskah yang belum tuntas. Namun Allah SWT masih ingin kesabaran ini. Tepat di bulan November 2013 ini rasa sakit yang kurasa sejak beberapa bulan lalu kian mengganggu. Kaki kanan saya tidak bisa bergerak normal. Setiap bergerak terasa sakit yang luar biasa. Duduk, jongkok dan berjalan pun tidak bisa saya lakukan. Bahkan saat berbaring  atau tidur pun saya harus bergerak sangat hati-hati. Bila tidak, saraf kaki kanan saya seperti tertarik dan terasa sakit yang luar biasa. Saya berusaha menyelesaikan naskah sambil menahan sakit yang teramat sangat di sekitar pinggul, paha, betis hingga telapak kaki bagian kanan.

Namun demi mengejar target ingin selesai bulan Desember, maka saya berusaha menyelesaikan dan mengedit beberapa naskah sambil berbaring atau tengkurap di atas tempat tidur. Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengurangi jumlah naskah yang akan diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen ini. Dengan pertimbangan ingin menerbitkan bertepatan dengan Milad FAM yang ke II pada 2 Maret 2013.

Dari dua puluh dua cerpen, akhirnya yang kupilih hanya 12 saja. Delapan cerpen tidak sempat terselesaikan karena kondisi badan yang tidak mampu berlama-lama di hadapan komputer. Sambil terus menjalani pengobatan, saya putuskan untuk segera menerbitkan kedua belas cerpen ini sebagai perwujudan rasa syukur. Namun begitu perasaan khawatir dan tidak percaya diri terus menyelimuti perasaan ini. Sudah layakkah tulisan saya diterbitkan? Dan atas dorongan kuat dari keluarga, rekan-rekan dan sahabat di sekeliling saya, akhirnya kekuatan itu muncul.

Lagi-lagi sebuah ujian datang. Walau kali ini tidak berdampak langsung kepada saya, namun harus menangguhkan kemunculan “Senyum Nolina”. Kali ini sebuah ujian yang tidak bisa dihindari manusia secara umum di negeri ini, yaitu Erupsi Gunung Kelud. Musibah yang melanda negeri ini tepat pada 14 Februari 2013. Kantor FAM yang berada di Kediri dan tak jauh dari lokasi kejadian, tentu saja sangat merasakan langsung dari bencana alam ini. Akhirnya penerbitan buku ini, kembali tertunda. Saya berkesimpulan bahwa manusia memang hanya mampu untuk merancang rencana, Allah SWT yang Maha Kuasa. Saya sungguh menikmati dan mendapatkan banyak hikmah selama proses kelahiran “Senyum Nolina” ini.

Saat buku ini sudah siap terbit, saya sempat pula dihadapkan dengan kebingungan untuk memilih 3 (tiga) judul yang dianggap mewakili isi buku ini. Selain itu saya musti mencari gambar yang cocok untuk dijadikan kover buku ini. Hal ini saya anggap sebuah tantangan demi maskimalnya sebuah karya.

Dalam menentukan judul pilihan, saya berusaha mengajak istri untuk berdiskusi tentang tiga judul yang diajukan Penerbit. Setelah beberapa hari melalui perdebatan kecil dan berbagai pertimbangan, akhirnya terpilihlah “Senyum Nolina”. Tokoh Nolina seakan ingin mengatakan bahwa kita musti menghadapi berbagai rintangan dan cobaan dalam hidup ini  dengan tawadhu. Langit tak selamanya mendung, begitu pun hujan. Dia akan segera pergi dan meninggalkan berjuta titik air yang memunculkan warnanya nan elok membentuk garis pelangi.

Kemudian dalam mencari ide menentukan gambar kover, awalnya saya mencoba searching di google. Beberapa gambar kemudian saya koleksi, namun tidak satu pun yang dirasa cocok atau pas. Lantas, saya menangkap ide untuk meminta bantuan seorang keponakan dan seorang adik. Kebetulan mereka berdua memiliki kemampuan dalam hal ilustrasi maupun menggambar. Beberapa gambar pun saya peroleh dari mereka. Sungguh, Allah SWT memberikan kemudahan dalam hal ini. Adik dan keponakan saya itu benar-benar ikhlas membantu. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka. Akhirnya terpilihlah sebuah gambar yang kini menghiasi sampul depan buku Kumpulan Cerpen  “Senyum Nolina” ini adalah karya Adik saya, M. Ali Nurjamil, S.Pd.

***

Alhamdulillah, kini rasa syukur sudah sepatutnya saya ucapkan. Melalui berbagai rintangan dan tantangan naskah-naskah yang tercecer kini telah berubah wujud menjadi buku. Sebuah buku yang berusaha mengangkat beragam kisah yang tersimpan pada guratan wajah negeri ini, dalam bentuk fiksi (kumpulan cerpen). Perjuangan hidup, kemiskinan, carut-marut sosial-ekonomi, menumbuhkan jiwa entreupreneurship, potret buram dunia pendidikan, nilai-nilai budaya yang kian luntur, permasalahan dunia anak dan remaja, hingga menumbuh rasa empati pada sesama, semua terangkum menjadi napas dalam rangkaian kisah pada buku ini. Melalui rangkaian kata yang sederhana namun mudah untuk disimak juga tanpa banyak bertele-tele, buku ini disajikan demi memaknai hidup.

“Senyum Nolina” lahir dari proses penyelaman kehidupan yang selama ini dialami, didengar dan dirasakan. Betapa hidup ini masih memerlukan uluran tangan para pemilik hati yang ikhlas dan tulus. “Senyum Nolina” menyiratkan guratan hidup yang teramat penuh liku perjuangan. Tidak mudah menghadapi hidup, namun bukan pula berarti hidup ini harus sia-sia. Di luar sana masih ada, bahkan tidak sedikit yang perlu dibenahi. Meraih cita-cita ternyata tidak semudah memetik bunga melati. Masih banyak kaum marjinal yang semakin tersisihkan, sementara para pemilik negeri yang memiliki janji-janji masih lelap dalam mimpi-mimpi.

“Senyum Nolina”, ingin membuka lembaran baru yang penuh rasa optimis setelah melalui rintangan dan ujian. Dia tak ingin hidup berada terus di bawah payung awan yang gelap. Dia tidak ingin beralama-lama dalam deras rinai. Dia ingin memandang pelangi yang datang selepas kepergian hujan. Dia masih berharap kehadiran embun segar di pagi hari. Dia selalu merajut impian menyongsong fajar esok hari. “Senyum Nolina” ingin mengisi hidupnya dengan guratan prestasi demi mewujudkan lukisan mimpinya yang pernah digoreskan pada garis pelangi.

Seperti yang saya kisahkan di atas, bahwa dalam proses lahirnya buku ini, sempat menghadapi masa berkabung yang dalam atas kepergian ibu. Untuk itulah saya persembahkan buku ini secara khusus kepada beliau, sosok wanita lembut yang berselimut kasih dan sayang. Sosok yang selalu siap mengusapkan halus tangannya manakala anak-anaknya menghadapi kegetiran hidup. Sosok yang selalu mengisi tempat khusus dalam hati ini. Tentunya tak lupa pula kepada almarhum ayah, yang telah jauh lebih dahulu menghadap Illahi. Inilah persembahan ananda yang berusaha mengikuti tauladan dengan menebarkan senyuman. Love you Dad, love you Mom. You’ve given me millions inspirations. I do!

Akhir kata, kepada semua saudara, rekan dan teman, sahabat, murid-murid, serta pembaca pada umumnya, selamat menikmati “Senyum Nolina”!

Salam santun!
Dedi Saeful Anwar
Cianjur, 19 Maret 2014

Keterangan:
Foto sampul buku kumpulan cerpen “Senyum Nolina” terbitan FAM Publishing.
Untuk pembelian buku, silakan menghubungi nomor 0812 5982 1511 (Tim FAM Indonesia) via telepon atau SMS.  Tulis jumlah eksemplar buku yang ingin Anda beli beserta nama dan alamat lengkap Anda. Harga per buku Rp38.000,- belum termasuk ongkos kirim. Tebal buku 131 halaman, dimensi 13 x 20 cm.

Jumat, 18 April 2014

Buku “Pelangi di Kaki Langit” karya Muamanati Yuliati Rahmawati

Judul: Pelangi di Kaki Langit
Penulis: Muamanati Yuliati Rahmawati
Kategori: Buku Puisi
ISBN: 978-602-7956-52-0
Terbit: April 2014
Tebal: 220 hal; 13 x 20 cm
Harga: Rp 45.000,- (harga belum termasuk ongkir)


***

Bagaikan pelangi yang bergantung di kaki langit
Sekilas aku melihat wajah yang selalu kunanti
Namun sayang ia tak pernah hadir
Seolah hidupnya kini tak di duniaku lagi

***

Bapak
Kini baru kurasakan sepi tanpamu
Semoga di alam sana engkau damai dan bahagia selamanya
(dalam puisi “Pelangi di Kaki Langit)

***

Calon penyair lahir dari Negeri Bumi Cendrawasih. Lewat puisi-puisinya yang sederhana namun sarat makna ini penulis ingin melukis pelangi kata-kata yang dapat dibagikan kepada banyak orang. Semoga semakin produktif berkarya.

~Muhammad Subhan, Pegiat FAM Indonesia, Jurnalis & Penulis

Saya suka puisi-puisi Muamanati di dalam buku ini. Ia bercerita tentang ibu, ayah, alam, cinta, dan segala yang diciptakan Tuhan. Membaca puisi-puisinya menggetarkan jiwa.

~ Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia, penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web kami di www.famindonesia.com]

Kamis, 17 April 2014

FAM Indonesia Beri Motivasi Menulis di STIKes Karya Husada Kediri

Talkshow di STIKes Karya Husada Kediri
KEDIRI – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada Kediri, Jawa Timur, Kamis (17/4), menggelar Talkshow dalam rangka memperingati Hari Kartini. Acara yang ditaja BEM STIKes Karya Husada itu, mengundang pembicara Aliya Nurlela dari Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan diikuti 80-an mahasiswa di kampus itu.

Selain pembicara dari FAM Indonesia, turut diundang narasumber lainnya, yaitu Selly, mahasiswi berprestasi yang berbagi tips dan kiat menjadi mahasiswi berprestasi. Acara itu dipandu Yessi, mahasiswi semester dua STIKes Karya Husada Kediri.

Aliya Nurlela yang juga Sekjen FAM Indonesia dalam materinya bertajuk "Jadilah Kartini Muda Masa Depan Sebagai Wanita Inspirasi Bangsa" mengatakan, wanita adalah sosok yang penuh inspirasi dan mempunyai peran penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Wanita juga disebut sebagai tiang negara.

“Jika wanitanya baik, maka negara akan baik. Sebab, idealnya wanita melahirkan generasi-generasi terbaik,” kata penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” (2014) itu.

Dia juga memberikan beberapa contoh wanita-wanita yang menginspirasi dunia dengan karya-karya tulisannya. Salah seorang adalah R.A Kartini yang dikenang sebagai wanita pelopor emansipasi wanita Indonesia. Kartini tidak suka dipingit, berpandangan maju, berjiwa keibuan, dan ingin rakyat bangsanya lepas dari penindasan kolonial.

“Semangat kemerdekaan yang diperjuangkan Kartini harus dimiliki wanita-wanita hari ini yang hidup di zaman merdeka,” kata Aliya Nurlela yang juga menulis buku kumpulan cerpen “Flamboyan Senja” (2013) dan “Fesbuk” (2012).

Dipaparkan, beberapa nama penulis-penulis wanita yang menghidupkan dunia dengan karya-karyanya, di antaranya Julian (Norwich), Anne Bradstreet (Amerika), Anne Finch (Inggris), Mary Wollstonecraft (Britania Raya), Germaine Greer (Australia), Margaret Atwood (Ottawa), JK Rowling (Inggris), dan banyak lainnya.

Pada kesempatan tersebut, Aliya Nurlela juga berbagi pengalaman tentang proses kreatifnya menulis. Ia menyebutkan bahwa dirinya pernah mengalami beberapa kali sakit parah, namun sakitnya itu menjadi inspirasi untuk melahirkan karya tulis.

“Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua ada hikmah. Sakit-sehat sama-sama bisa menjadi inspirasi untuk melahirkan karya yang bermanfaat,” kata penulis buku “100% Insya Allah Sembuh” (2011) ini.

Ketua III STIKes Karya Husada Kediri, Reni, mengatakan, pihak kampus sangat mendukung kegiatan itu. Menurutnya, Talkshow yang digelar tersebut merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kaum wanita (mahasiswi) agar terbuka pemikiran dan wawasan mereka.

“Lebih jauh dari itu, agar mereka bisa menghasilkan karya tulis di kemudian hari,” katanya.

Ketua BEM STIKes Karya Husada Kediri, M. Tanjung Panji menjelaskan, kegiatan tersebut adalah acara rutin tahunan yang digelar STIKes Karya Husada Kediri. “Alhamdulillah kampus kami tidak pernah melewatkan momen hari-hari besar nasional dengan berbagai kegiatan,” ujarnya.

Sementara itu, Opan, panitia Talkshow menambahkan, Talkshow seperti ini bisa dikatakan bagian dari penyegaran pemikiran mahasiswa di kampus itu. “Karena sehari-hari mereka sudah berkutat dengan materi kuliah dan kegiatan kampus, jadi perlu disegarkan kembali,” tambahnya.

Selain Talkshow, BEM STIKes Karya Husada Kediri juga mengadakan Lomba Debat antar Program Studi (Prodi), Merias Tumpeng, Pemilihan Putri Kartini 2014, Lomba Mading 3D, dan pemilihan Talent per kelas. (FAM)

Buku “Catatan Keluarga Indonesia” karya Wirdanengsih

Judul: Catatan Keluarga Indonesia
Penulis: Wirdanengsih
Kategori: Buku Keluarga
ISBN: 978-602-7956-49-0
Terbit: Maret 2014
Tebal: 87 hlm; 13 x 20 cm
Harga: Rp30.000  (Harga belum termasuk Ongkir)


SINOPSIS:

Seseorang yang telah melakukan interaksi dengan pengaruhnya akan memberikan kesadaran mengenai adanya nilai-nilai yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini seorang anak dalam hubungan interaksi dengan keluarga akan menyadari adanya nilai dalam keluarga itu. Setelah seseorang mengetahui adanya tata nilai di sekelilingnya, yang positif dan negatif, dia akan berpikir dan mengetahui nilai-nilai yang perlu dikerjakan. Dalam proses berpikir, ia kemudian memahami nilai-nilai itu sehingga tertanam (internalisasi) dalam dirinya. Selanjutnya ia mempraktikkan dan hasil praktik itu lama kelamaan berubah menjadi norma. Norma adalah aturan yang mengandung sanksi untuk mendorong bahkan menekankan orang perorang secara keseluruhan.

Dalam interaksi sosial terdapat hubungan yang bersifat asosiatif, misalnya kerja sama dan bersifat dissosiatif misalnya persaingan, pertentanngan. Di dalam buku ini dibicarakan beberapa dinamika  hubungan dalam keluarga di antaranya: hubungan suami istri, hubungan anak dan orang tua, hubungan antar saudara, hubungan keluarga dengan istitusi lainnya. Di dalam dinamika keluarga terdapat hubungan yang harmonis, kerja sama, bersatu di lain pihak dalam dinamika keluarga ada suatu hubungan yang bersifat bertentangan, bermusuhan, malah kadang-kadang saling menyakiti. Semua itu bagian dari dinamika hidup yang perlu dipelajari dan diambil makna.

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com,  dan kunjungi web kami di www.famindonesia.com]

Buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia” Karya Aliya Nurlela dkk

Judul Buku: Ensiklopedi Penulis Indonesia
Penulis: Aliya Nurlela, dkk
Kategori: Non Fiksi
ISBN: 978-602-7956-55-1
Terbit: April 2014
Tebal: 233 hal; 14 x 20 cm
Harga: Rp45.000 (di luar ongkir)


***

Pertanyaan yang sering menjadi momok banyak penulis adalah, “Sebenarnya untuk apa saya menulis?” Jawabannya semua beragam; Ada yang sersungguh-sungguh, ada yang sekadar bermain, ada pula yang ikut-ikutan sehingga semangatnya naik turun.

Tetapi itu lumrah, dialami banyak orang, dan yang benar-benar mewujudkan dirinya sebagai penulis sungguhan adalah yang istiqamah. Dan, itu jumlahnya sangat terbatas.

Nah, di posisi manakah Anda berada?

Lewat buku ini, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia menggali proses kreatif sejumlah penulis, sejak awal mereka menulis plus dengan segala macam cerita “jatuh-bangunnya” sehingga menghasilkan karya.

Buku ini diterbitkan berseri, ditulis oleh banyak penulis yang punya mimpi dan ingin membagi mimpi mereka kepada orang lain.

Kontributor:

Aliya Nurlela, Acet Asrival, Ady Azzumar, Aidil Zulkhan, Akaha Taufan Aminudin, Bambang Widiatmoko, dedi Saeful Anwar, Dian Ambarwati, Efri S Bahri, Fenny Widi, Khairullah, Khanis Selasih, Linda Mustika Hartiwi, Lili Asnita, Muhammad Lefand, Mukhlis Denros, Muhammad Subhan, Najla Alfaiq, Nenny Makmun, Novy Noorhayati Syahfida, Nurbing, Nuryaman EH, Qurrota A’yun Thoyyibah, Refdinal Muzan, Raflish Chaniago, Sofiyah Fuadah, Sukamto Prasetyo, Syafrudin Nur, Wahyu Prihartini, Yudha Hari Wardhana “Yudha Prima”, Zaqia Nur Fajarini.

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web kami di www.famindonesia.com]

Ulasan Artikel “Tandusnya Moralitas Guru” Karya Ady Akbar (FAMili Kendari)

Tim FAM Indonesia mengapresiasi artikel ini sebagai karya yang cerdas, kritis, sebagai bentuk kepedulian penulisnya terhadap satu sisi wajah suram pendidikan di negeri ini.

Diawali dengan melakukan analisa empiris berupa sorotan atas kasus tindakan asusila seorang oknum guru kepada muridnya, penulis menarik satu konklusi bahwa kualitas moral guru di negeri ini mengalami kemerosotan. Penulis juga memberikan paparan konsep ideal tentang sosok dan peran guru. Di bagian akhir, penulis tak lupa memberikan saran dan harapannya kepada pemerintah.

Ada beberapa catatan dari tim FAM Indonesia terhadap artikel ini:

1. Mengingat judul adalah daya tarik utama sebuah tulisan, maka sebuah tulisan ilmiah akan menunjukkan kesan ilmiah kalau judul tersusun dari pilihan kata yang “tidak biasa”. Untuk artikel ini, tim FAM Indonesia merekomendasikan judul “Dekadensi Moral  Guru”.

2. Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi:

a. Paragraf 2. Kalimat Ededeh, ngerinya mi,” tanyanya. Mengingat “mi” di sini adalah menyapa nama orang, maka huruf seharusnya huruf besar.

b. Paragraf 4. Kalimat Pendidikan kita tampaknya sedang--memasuki masa kronis stadium akhir. Tanda—pada kalimat tersebut tidak diperlukan.

c. Paragraf 5. Terjadi salah ketik pada potongan kalimat manusia-manusia hang cerdas dan berkarakter. Kata hang disitu seharusnya yang.

d. Paragraf 6. Penulisan nama orang Ibnu Jama,ah seharusnya Ibnu Jama’ah.

e. Paragraf terakhir. Kalimat Namun, jika detik ini juga — tanpa ada istilah nanti dulu—guru-guru kita berani dan getol meningkatkan profesionalitas mereka maka sudah dapat dipastikan pendidikan kita akan terancam menghasilakn manusia-manusia cerdas, berakhalk mulia, dan mampu menjawab tantangan peradaban. Penggunaan kata terancam disitu tidak tepat sehingga akan lebih baik jika dihilangkan saja. Selain itu terjadi salah ketik pada kata “menghasilakn” yang seharusnya menghasilkan, kata “berakhalk” yang seharusnya “berakhlak”.

Tim FAM Indonesia mendorong penulis untuk terus memperluas wawasan dan pengetahuannya dengan membaca literatur-literatur ilmiah serta terus berkarya sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan pada negeri ini.

Teruslah berkarya mencerahkan dunia.

Salam santun, salam karya,

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Tandusnya Moralitas Guru
Ady Akbar IDFAM2040U

Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 08.00. Pagi itu, saya mendapat pesan singkat (SMS) dari teman kampus yang menanyakan tentang kebenaran berita yang dimuat di salah satu surat kabar lokal.

“Pagi Dy, benar kalau ada guru di Konawe (Salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara) perkosa siswanya? Ededeh, ngerinya mi,” tanyanya.

Saya pun yang baru tertegap dari tempat tidur dibuat terkesiap pertanyaan via pesan singkat itu. Begitu miris kedengarannya, tetapi informasi ini benar-benar menjadi fakta saat saya menilik rubrik koran dan mendapati kalimat “Bejat, Guru gauli siswanya”, menjadi judul headline di halaman depan koran tersebut.

Ini menjadi bukti riil rendahnya kualitas moral guru kita. Pendidikan kita tampaknya sedang — memasuki masa kronis stadium akhir. Kalau sudah begini, tentu saja, guru tidak lagi menjadi agen untuk memanusiakan manusia sebagaimana peran guru yang seharusnya.

Guru merupakan sumber ide, pengetahuan, dan mesin pencetak manusia cerdas dan berakhlak mulia. Jika amati, guru memegang peranan vital dalam menentukan nasib bangsa ini. Kelak, baik-buruknya nasib bangsa ini tergantung pada kemampuan guru mencetak manusia-manusia hang cerdas dan berkarakter. Karena itu, seorang guru sudah sepantasnya sadar dan bangga atas tugas mulia yang diembannya.

Salah seorang tokoh muslim yang juga ahli pendidikan, Ibnu Jama,ah mengutarakan, guru merupakan mikrokosmos manusia, dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi dan parameter makhluk terbaik.

Tugas seorang guru tidak hanya mengajar (transfer of knowledge), tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai dasar guna membangun karakter atau akhlak murid. Kita ketahui bahwa tugas guru juga erat dengan palayanan, maka setiap guru harus memiliki integritas dan profesionalitas yang baik. Integritas inilah yang menjadi ciri bagi kepribadiannya.

Lantas kalau sudah begini, seperti yang kita saksikan pada kasus guru di atas, pemerintah sebagai penyelanggara utama pendidikan nasional nampaknya mesti punya upaya dan gempuran khusus untuk menyelesaikan persolan pendidikan yang kian pelik ini. Pemerintah mesti punya “senjata dan saringan khusus” untuk menyaring sarjana, magister, dan seterusnya, sebelum mengangkatnya menjadi guru.

Guru yang profesional bukanlah guru yang punya tingkat pendidikan yang tinggi. Tingkat pendidikan hanyalah sekelumit komponen kecil dari sekian banyak indikator yang harus dimiliki oleh guru. Guru yang hakiki adalah guru yang memiliki akhlak yang betul-betul dapat dijakdikan sebagai modal utama untuk menjadi seorang guru. Bukankah tugas utama guru adalah mentransfer nilai-nilai moral? Ini yang harus diupayakan oleh penyelenggara pendidikan kita, menelurkan guru-guru yang berakhlak mulia namun tetap tidak mengesampingkan kualitas dari segi pendidikan.

Di sisi lain, pemerintah, secara terus menerus, harus punya upaya masif untuk meningkatkan kualitas akhlak kaum guru. Tak ada gunanya guru yang berpendidikan tinggi jikalau akhlaknya masih bobrok. Barangkali, ini jugalah yang menghancurkan negara yang kita cintai ini. Dewasa ini, media massa kian santer memberitakan maraknya petinggi negara yang berpendidikan tinggi namun akhirnya meringkuk di balik jeruji besi karena lamurnya akhlak mereka. Secara riil, dapat kita tarik benang merah bahwa pendidikan kita selama ini — termasuk juga guru-guru kita, telah sukses mencetak manusia-manusia yang binal, pandir, dan doyan korupsi.

Memang, menelurkan manusia-manusia cerdas dan berakhlak mulia bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang cukup panjang. Kita sadar: persoalan pendidikan adalah persoalan yang rumit dan pelik. Namun, jika detik ini juga — tanpa ada istilah nanti dulu — guru-guru kita berani dan getol meningkatkan profesionalitas mereka maka sudah dapat dipastikan pendidikan kita akan terancam menghasilakn manusia-manusia cerdas, berakhalk mulia, dan mampu menjawab tantangan peradaban.

Ady Akbar, IDFAM2040U
Kendari, Sulawesi Tenggara

Selasa, 15 April 2014

Buku “Soerat-Soerat Achir Tahoen” karya Soekamto Prasetyo, dkk

Judul: Soerat-Soerat Achir Tahoen
Penulis: Soekamto Prasetyo, dkk
Kategori: Non fiksi
ISBN: 978-602-7956-50-6
Tebit: Maret 2013
Tebal: 213 hlm, 13x20 cm
Harga: Rp 45.000 (Harga belum termasuk ongkir)


Sepuluh Surat Terbaik:
Mencerdaskan Bangsa Sendiri di Negeri Orang (Sukamto Prasetyo), Sebuah Telaga Tempat Berlabuh Rindu (Acet Asrival), Mengadu Nasib di Ibukota (Ken Hanggara), Ungkapan Hati Seorang Guru (Zaqia Nur Fajarini), Senyum Terakhirmu (Dian Ambarwati), Makna Hidup di Penghujung Tahun (Elza Novria), Rindu pada Guru (Firmansyah Djalaluddin), Kerinduan di Jannah-Nya (Susi Puspita Sari), Cinta Kado Akhir Tahun Untukmu (Sri Wati), The Loneliness Cat (Aidil Zulkhan)

30 Surat Pilihan:
I Love You, FAM (Ade Ubaidil), Maafkan Kakak, Dik (Ain Saga), Kagumku padamu, Perempuan Pemberani (Andi Sri Wahyuni Handayani), Keluarga Kecil yang Penuh Arti (Audia Jasmin Armanda), Impian Ayah (Dadang Asmanaf), Kepergian Rembulan (Dedi Saeful Anwar), Luka Akhir Tahun (Dera Fauzia Fitriana), Lelaki Curang (Desri Erniza), Selembar Surat untuk Tuhan (Eka Susanti), Mentari, Namamu Kurindu (Erma Liya Rafita), Mencari Cahaya (Erna Susilawati), Sudahkah Indonesia Merdeka? (Ferry Irawan Kartasasmita), Terus Berjuang Meski Gagal (Fitrianingsih), Coretan Kecil untuk Ayah (Fitriani Sari), Wahai Engkau (Imroatun Mahmudah), Menghadapi Zaman dengan Berbekal Alqur’an (Imron Mahmudi), Manisnya Cinta Suci (Millah Atqia Akhyar), Penilaian Subyektif Tidak Akan Bertahan Lama (Nurbing Asselayari), Hidup yang Penuh Kejutan (Putri Indri Astuti), Wahai Rasulku (Rizki Ayu Amaliah), Menunggu Papa dengan Doa (Suci Azani Putri), Indahnya Rasa Kekeluargaan (Susiati), Tunggu Aku Pulang (Suyati), Bersahabat dalam Perbedaan (Tersiana Wartini), Ridha Allah Tergantung Ridha Orangtua (Vivi Afri Oviani), Rindu Kampung Halaman (Wahyu Saputra), Hidup adalah Pilihan (Wastu Kencana), Bersabarlah, Dik! (Yudi Muchtar), Kenangan Terindah Bersama Sahabat (Yudi Rahmat), Tidurlah dengan Damai (Yunita Nurisfa Mayasari).

***

Soerat-Soerat Achir Tahoen bukanlah buku yang berisi surat-surat peninggalan masa lalu yang bercerita tentang sebuah sejarah yang tercatat. Buku ini hanyalah sekumpulan surat hasil Lomba Menulis Surat Akhir Tahun yang diselengagrakan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pada tahun 2013 lalu. Dari ratusan naskah surat yang masuk ke meja redaksi FAM Indonesia, terpilih sejumlah surat terbaik dan sekarang berada di tangan Anda.

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web kami di www.famindonesia.com]

Buku “Aku di Bulan” karya Khanis Selasih dan Pinto Janir

Judul : Aku di Bulan (Telah Kutitipkan Wajahmu Pada Bulan)
Penulis : Khanis Selasih & Pinto Janir
Kategori : Buku Puisi
ISBN : 978-602-7956-56-8
Terbit : April 2014
Tebal :128 hal; 13 x 20 cm
Harga : Rp 38.000,- (Harga belum termasuk ongkir)


Merona bulan cetarkan nada cinta
Terlelap kasih merangkai mimpi
Cepat bangkit dengar aku bercerita
Jangkaulah aku, ayo menari sepi
(“Aku di Bulan”, Khanis Selasih)

***

Sembunyikan dari bulan, matahari, siang, malam
Peram di sebuah ruang tak kenal waktu suram
Tak akan kita layari lautan
Ombak gila bikin karam
Lautan kita adalah impian
Tempat mana rindu tak pernah padam
(“Air Matamu Puisisku!”’ Pinto Janir)

***

‘Duet’ Khanis Selasih dan Pinto Janir sangat menarik. Khanis di Surabaya, Pinto di Padang. Dua budaya berbeda-satu Jawa, satu Minang- bersatu begitu akrab di ‘kuali’ bernama buku kumpulan puisi “Aku di Bulan”. Puisi mereka saling menyambut. Sahut-bersahut. Asyik sekali membacanya.

~Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia, jurnalis & penulis

Khanis Selasih sangat produktif menulis puisi. Saya ikut mencermati proses kreatifnya sejak semula ia menjadi anggota FAM Indonesia. Produktivitasnya itu patut mendapat apresiasi. Selamat untuk buku ini.

~Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia, penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web kami diwww.famindonesia.com]

Ulasan Artikel “Ketika Mahasiswa Menjadi Sarjana” Karya Ariyanto (FAMili Padang)

Tim FAM Indonesia mengapresiasi artikel ini sebagai sebuah tulisan yang kritis, ilmiah dan aktual. Persoalan pendidikan dan output-nya memang menjadi sebuah bahasan yang selalu up to date dan menarik untuk dianalisa.

Artikel ini ditulis secara sistematis. Dimulai dari paparan mengenai persepsi dan ekspektasi masyarakat terhadap sosok sarjana. Lalu berlanjut ke bahasan mengenai realita bahwa negeri ini banyak memproduksi sarjana namun di sisi lain angka pengangguran makin meningkat. Di bagian akhir, penulis mencoba menawarkan gagasan agar pendidikan, khususnya dunia perguruan tinggi sebagai produsen sarjana bisa menjadi solusi terhadap harapan publik dan bukan memproduksi sarjana penambah angka pengangguran.

Namun tim FAM Indonesia memberikan beberapa catatan terhadap artikel ini, sebagai berikut:

Mengingat judul adalah daya tarik utama sebuah tulisan, maka sebuah tulisan ilmiah akan menunjukkan kesan ilmiah kalau judul tidak terlalu panjang dan tersusun dari pilihan kata yang “tidak biasa”. Untuk artikel ini, tim FAM Indonesia merekomendasikan judul “Sarjana Sebagai Output Pendidikan”.

Terjadi beberapa kesalahan penulisan yang perlu dikoreksi, yaitu sebagai berikut:

Paragraf 1: Huruf “t” pada awal kalimat “ternyata tidak” setelah kalimat “Namun, apakah sekarang demikian?” seharusnya huruf besar, sehingga menjadi “Ternyata tidak.” Selain itu, penulisan kata dari pada seharusnya tidak dipisah sehingga yang benar adalah daripada.

Paragraf 2: Terjadi kesalahan cetak. Serjana seharusnya sarjana. “Ditenggah” seharusnya “di tengah”. Huruf “I” pada kata “islam” seharusnya huruf besar. Selain itu, susunan kata pada kalimat “serjana dianggap orang-orang yang punya masa depan yang cerah dan bisa memberikan kontribusi ditenggah masyarakat yang membawa perubahan ditenggah bangsa” akan lebih baik jika sedikit diubah menjadi “sarjana dianggap sebagai orang yang punya masa depan cerah dan bisa memberikan kontribusi di tengah masyarakat yang membawa bangsa ini berubah ke arah lebih baik.”

Paragraf 3” Seperti halnya paragraf 2, pada paragraf 3 juga masih tejadi kesalahan cetak. Selain itu, pada kalimat “Meskipun ada yang menjawab ‘jurusan sayakan bukan agama’ dalam pandangan akademis memang ada benarnya kita disiapkan untuk mampu menguasai dibidangnya namun bukan bearti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan ditenggah masyarakat agama, dan bangsa,” akan lebih baik kalau dipisahkan menjadi beberapa kalimat, sehingga menjadi: “Meskipun ada yang menjawab ‘jurusan saya kan bukan agama’, dalam pandangan akademis memang ada benarnya. Kita disiapkan untuk mampu menguasai ilmu dibidangnya. Namun bukan berarti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan di tenggah masyarakat agama, dan bangsa.”

Tim FAM Indonesia menganjurkan kepada penulis untuk mengimbangi kegemaran menulisnya dengan banyak membaca. Dengan demikian perbendaharaan diksinya akan semakin kaya. Dengan banyak membaca juga akan memperluas wawasan yang  bisa dijadikan referensi untuk penulisan ilmiah.

Semoga ulasan ini bisa memotivasi penulis untuk terus berjuang mencerahkan dunia dengan karya.

Salam santun, salam karya,

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Ketika Mahasiswa Menjadi Serjana
Oleh: Ariyanto IDFAM2050M
Mahasiswa Psikologi Islam

Menjadi mahasiswa dan sarjana merupakan impian banyak orang. Pasalnya, sarjana dipandang sebagai orang berilmu dan memiliki masa depan cerah. Dengan gelar sarjana, orang akan hormat dan segan kepadanya. Namun, apakah sekarang demikian? ternyata tidak. Dewasa ini masyarakat lebih cenderung hormat pada orang yang “berduit” dari pada sarjana. Jika demikian, Sebagai mahasiswa apakah kita harus mengubah orientasi dan identitas kita yang tahu dengan peran dan fungsinya sebagai kaum intelektual menjadi pencari duit saja?

Persepsi masyarakat terhadap “sarjana” memang berlebihan. serjana dianggap orang-orang yang punya masa depan yang cerah dan bisa memberikan kontribusi ditenggah masyarakat yang membawa perubahan ditenggah bangsa. Selain itu, mereka juga dianggap sebagai kaum intelektual yang “serba bisa” dalam segala hal. Sebagai mahasiswa islam misalnya kita dipercayai mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan secara khaffah (menyeluruh) ditengah-tengah masyarakat. Maka tidak heran ketika gelar sernaja yang kita bawa pulang kekampung itu, bagi masyarakat serjan diharapkan dapat mengaplikasikan dan memberikan kontribusi dalam segala hal ditenggah masyarakat tersebut.

Disadari atau tidak pandangan masyarakat tersebut memang seharusnya diperhatikan oleh mahasiswa. Meskipun ada yang menjawab “jurusan sayakan bukan agama” dalam pandangan akademis memang ada benarnya kita disiapkan untuk mampu menguasai dibidangnya namun bukan bearti serjana melupakan tanggung jawabnya sebagai pembawa perubahan ditenggah masyarakat agama, dan bangsa. Disisi lain diakui atau tidak, banyaknya pengangguran terpelajar yang memperhatinkan. pada realitanya, ada banyak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang  tidak memiliki keterampilan atau kreativitas. Akibatnya, setelah menyandang gelar serjana mereka menjadi pengangguran dan bingung mencari perkerjaan. Fenomena-fenomena ini bukan tidak asing lagi ditenggah dunia pekerjaan, oleh karena itu ada banyak serjana yang berkerja tidak sesuai dengan harapan mereka ketika masih menjadi mahasiswa seakan sama saja status mereka dengan para pekerja lainnya.

Menurut penelitian Vocation Education Development Center di Malang Jawa Timur menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi kebanyakan tidak memiliki keterampilan khusus. Selain itu, mereka hanya mengetahui dan menguasai bidang/ilmu tertentu. Akibatnya, mereka menjadi penganggur terpelajar, begitu lulus mereka hanya mencari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja. Hal ini merupakan salah satu penyebab banyaknya pengangguran. Maka dari itu dunia Pendidikan semestinya bertanggung jawab terhadap proses mencerdaskan anak bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian.

Karena itu, kampus sebagai pabrik pencetak sarjana harus mengambil langkah cerdas dan strategis. Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Bab XIII yang mewajibkan seluruh program studi perguruan tinggi harus terakreditasi. Artinya, dalam konteks ini mutu perguruan tinggi sangat mempengaruhi kualitas lulusannya. Namun bukan hanya itu yang perlu diperhatikan. Butuhnya kemampuan untuk menciptakan lulusan-lulusan yang siap menghadapi kemajuan zaman yang terus berkembang ini. Jadi, sudah seharusnya kampus mendongkrak kualitas pendidikannya untuk meminimalisir pengangguran terdidik. Kampus juga diharapkan mampu menghasilkan serjana yang kratif, berwirausaha dan jujur pada bangsa ini (anti korupsi) bukan serjana yang hanya dituntut menghasilkan skripsi untuk mendapatkan ijazah atau gelar serjana yang hanya bikin pusing kepala untuk mencari kerja. Selain itu, mahasiswa seharusnya mempunyai kemauan yang kuat (azzam) jangan hanya berpuas diri terhadap kondisi pendidikan sekarang. Mahasiswa harus selalu meningkatkan potensi diri, berkarya, berinovasi, dan terus belajar untuk menambah khazanah keilmuwan mereka. Dengan begitu, setidaknya pengangguran akan terkurangi.

Dengan demikian, kesuksesan yang menjadi harapan banyak orang itu akan semakin terwujud khususnya melalui dunia pendidikan yang dapat melahirkan serjana-serjana yang berkualitas dan berguna bagi bangsa dan agama yang menciptakan dunia pekerjaan bukan menciptakan serjana penganguran. Sebagai kaum intelektual saat masih menjadi mahasiswa, jauh sebelum menjadi sarjana, ia sudah tahu arah dan tujuan yang harus ditempuh. Apakah mereka akan menjadi entrepreneur (pengusaha), ambil bagian dalam sistem birokrasi kepemerintahan, jadi intelektual (dosen, dan peneliti), menjadi penulis, atau profesi lainnya yang sifatnya unik (menciptakan profesi baru). Sebagai kampus dengan lahirnya serjana-serjana yang berkulitas tersebut tentunya menjadi tumpuan banyak orang bagaikan sebatang pohon rindang yang berbuah manis disukai banyak orang dan bermanfaat bagi orang lain.

CATATAN: KARYA INI SUDAH PERNAH DIPUBLIKASIKAN DI MEDIA KAMPUS

Sumber ilustrasi: mahirbelajar.wordpress.com

Senin, 14 April 2014

Pengumuman 3 Naskah Terbaik Antologi Kisah Inspiratif Menjadi Muslimah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Alhamdulillah, kami bersyukur, setelah selama sebulan membuka penerimaan naskah untuk antologi Kisah Inspiratif bertema “Aku Bahagia Menjadi Muslimah”, akhirnya terpilih 25 naskah yang layak untuk dibukukan. Dari 25 naskah tersebut berisi kisah nyata suka-duka para muslimah (penulisnya) dalam mengenakan hijab. Kisah-kisah mereka sangat variatif dan inspiratif.

Tidak hanya itu, ke-25 penulis tersebut berdomisili di berbagai kota dan negara. Ada yang di Taiwan, Malaysia, Norwegia, dan lainnya. Mereka menyuguhkan berbagai kisah tentang proses berhijab dan suka-dukanya. Harapannya, kisah yang disuguhkan ini akan menginspirasi para muslimah lainnya untuk menguatkan langkah dalam menapaki jalan hijrah dan menggapai Ridha-Nya.

Setelah membaca keseluruhan naskah yang masing-masing memiliki ciri khas, FAM Indonesia memilih 3 naskah terbaik yang akan mendapatkan Hadiah jilbab dari Sponsor. Untuk itu, tim juri dari Penerbit FAM Publishing (Divisi Penerbitan FAM Indonesia) memutuskan nama-nama pemenang dari 25 naskah yang diseleksi.

Adapun ketiga naskah terbaik tersebut adalah:

Naskah Terbaik 1:
“Kujemput Hidayah Itu dengan Takbir” Karya Azla Yulia (Tangerang)

Naskah Terbaik 2:
“Dari Titik Bernama Nol” Karya Asri Lestari (Taiwan)

Naskah Terbaik 3:
“Berhijab di Empat Musim di Dua Negara” Karya Kalsum Marasabessy (Norwegia)

SELAMAT KEPADA PEMENANG 3 NASKAH TERBAIK!

Sebagai tanda apresiasi FAM Indonesia, Tim FAM telah menyediakan Hadiah dari Sponsor yang akan dikirim ke masing-masing alamat pemenang bersamaan dengan buku ini (setelah terbit). Saat ini, naskah memasuki tahap editing dan proses penerbitan buku sekitar 45 hari kerja.

Terima kasih kepada semua penulis/kontributor yang telah berpartisipasi. Semoga kisah inspiratif Anda bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk pertanyaan seputar penerbitan buku ini bisa mengirim pesan melalui email: lombafamindonesia@gmail.com atau menghubungi call center 081 259 821 511.

Salam santun, salam aktif!

TIM KREATIF FAM PUBLISHING
Divisi Penerbitan FAM Indonesia

Alex R. Nainggolan, Pemenang Lomba Cipta Puisi Bencana

PARE – Puisi berjudul “Tubuh Bencana” karya Alex R. Nainggolan (Tanggerang, Banten) dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Cipta Puisi bertema “Bencana” yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Nama-nama pemenang diumumkan Sabtu (12/4) malam, di Pare, Kediri, Jawa Timur.

Selain puisi karya Alex R. Nainggolan, Tim Juri juga menetapkan dua pemenang utama lainnya, yaitu Juara 2 puisi berjudul “Ilhafa” karya M. Husnul Huda (Sumenep-Madura), dan Juara 3 puisi berjudul “Epilog” karya I Wayan Sumahardika (Denpasar-Bali).

“FAM Indonesia menerima 620 naskah puisi bertema bencana yang dikirim peserta dari seluruh daerah di Indonesia dan mancanegara,” kata Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia, Ahad (13/4).

Selain juara utama, Tim Juri juga menetapkan tujuh puisi pilihan, masing-masing berjudul “Etsa Wajah Semesta” (Farida Sundari, Medan), “Tanah” (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta), “Karena Akukah Ini, Ibu?” (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat), “Aku Dibungkus Asap” (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat), “Di Balik Kelud” (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur), “Alam Mulai Enggan” (D.A. Akhyar, Palembang), dan “Lukisan Tubuh Nusantara” (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan).

“Sebagai tanda apresiasi, tiga pemenang utama mendapat sejumlah hadiah dari FAM Indonesia,” kata Aliya Nurlela.

Ditambahkan, selain mengumumkan tiga pemenang utama dan tujuh puisi pilihan, FAM Indonesia juga menetapkan 77 puisi yang layak dibukukan (termasuk karya pemenang) dalam antologi puisi bencana yang direncanakan terbit dalam waktu dekat.

Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional bertema Bencana ini telah berlangsung sejak akhir Februari 2014. Tema ini diangkat FAM Indonesia mengingat banyaknya rangkaian bencana yang melanda Indonesia beberapa bulan belakangan, mulai dari gunung meletus, gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, kabut asap, dan lainnya.

“Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bencana, salah satunya karena ulah tangan manusia. Lewat puisi, FAM mencoba mengetuk pintu hati semua orang untuk tidak memusuhi alam, sebaliknya bersahabat dengan alam,” tambah Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”. (*)

Sumber: INFO JAMBI.com

FAM Indonesia di STIKes Dharma Landbouw Padang

PADANG – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Dharma Landbouw Padang, Sumatera Barat, melatih mahasiswanya untuk terampil menulis. Para calon tenaga medis di sekolah tinggi itu dianggap berpeluang menjadi ‘penulis hebat’ masa depan.

Pembekalan keterampilan menulis yang dikemas dalam Workshop Menulis Kreatif bertajuk “The Power of Writing” itu mengundang pembicara Muhammad Subhan dari Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang berbasis di Pare, Kediri, Jawa Timur. Sebanyak 80-an mahasiswa di kampus itu antusias mengikuti jalannya acara.

Dalam materinya Muhammad Subhan mengatakan, keterampilan menulis selayaknya dimiliki setiap orang, termasuk mahasiswa. Dia mengumpamakan, seandainya buku-buku teks yang dibaca dan dipelajari di ruang kelas tidak ada yang menulisnya, tentu tidak akan ada ilmu pengetahuan.

“Laporan akhir mahasiswa juga berupa karya tulis. Tugas-tugas berupa makalah yang diberikan dosen juga karya tulis,” ujar Muhammad Subhan.

Dia menyebutkan pula, seandainya Alquran dan hadist-hadist Nabi tidak ada yang membukukan, umat (Islam) hari ini akan tetap berada di zaman kegelapan (jahiliyah). “Alquran bahkan menekankan pentingnya membaca (iqra’) dan menulis (kataba),” terangnya.

Berkaitan dengan dunia medis, tambah Muhammad Subhan, banyak sekali ide cerita yang dapat ditulis. Di rumah sakit atau puskesmas, bertebaran kisah yang menyentuh hati dan perasaan datang dari bermacam pasien.

“Sudah seharusnya para tenaga medis (dokter, bidan, perawat, dan para medis lainnya) dapat mengutip kisah-kisah itu dan dijadikan sebagai karya tulis yang dapat dibagi manfaatnya kepada pembaca,” ujar Muhammad Subhan.

Ditambahkan, menulis juga tidak mengharuskan mahasiswa yang kelak menjadi tenaga medis mengabaikan tugas-tugas pokoknya. “Tetapi menulis adalah pelengkap yang dapat membuat hidup jadi lebih indah dan menyenangkan,” katanya.

Sementara Ketua STIKes Dharma Landbouw Padang dr. Hj. Rasyidah Rasyid, MPH pada kesempatan itu menambahkan, pembekalan keterampilan menulis untuk mahasiswa didikannya akan menjadi agenda rutin di kampus tersebut.

“Keterampilan menulis ini sangat penting dimiliki mahasiswa kami, setidaknya memudahkan mereka untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang diharuskan untuk menulis,” ujarnya. (*)

Sumber: MERDEKA.com

Sabtu, 12 April 2014

Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 Bertema Bencana

Tim Juri Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bencana” malam ini mengumumkan Pemenang 1, 2 & 3 yang diputuskan nama-namanya sebagai berikut:

Juara 1: “Tubuh Bencana” (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
Juara 2: “Ilhafa” (M. Husnul Huda, Sumenep-Madura)
Juara 3: “Epilog” (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)

7 Puisi Pilihan:

1. “Etsa Wajah Semesta” (Farida Sundari, Medan)
2. “Tanah” (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta)
3. “Karena Akukah Ini, Ibu?” (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat)
4. “Aku Dibungkus Asap” (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
5. “Di Balik Kelud” (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur)
6. “Alam Mulai Enggan” (D.A. Akhyar, Palembang)
7. “Lukisan Tubuh Nusantara” (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan)

SELAMAT KEPADA PARA JUARA!

Sebagai tanda apresiasi FAM Indonesia, Pemenang 1, 2 & 3 mendapatkan hadiah sbb:

Juara 1:
Baju Kaos + Paket Buku + Piagam Penghargaan + Naskah Puisi Dibukukan

Juara 2:
Baju Kaos + Paket Buku + Piagam Penghargaan + Naskah Puisi Dibukukan

Juara 3:
Baju Kaos + Paket Buku + Piagam Penghargaan + Naskah Puisi Dibukukan

77 NASKAH PUISI PILIHAN DIBERIKAN PIAGAM PENGHARGAAN DAN NASKAH PUISI DIBUKUKAN!

Demikian Pengumuman ini disampaikan untuk dimaklumi bersama. Keputusan Tim Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam aktif, salam karya!

TIM FAM INDONESIA

Kamis, 10 April 2014

Pengumuman 20 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana

Tim Juri Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bencana” malam ini mengumumkan 80 Nominator dari 620 naskah puisi peserta lomba. Ke-20 nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurutkan berdasarkan Abjad):

1.    Tubuh Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
2.    Berhutbah Pada Tanah (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
3.    Di Balik Kelud (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur)
4.    Alam Mulai Enggan (D.A. Akhyar, Palembang)
5.    Apa Banjir Tidak Takut Presiden? (Diah Wahyuningtyas, Tulungagung-Jawa Timur)
6.    Aku Dibungkus Asap (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
7.    Di Pelukan Ibu (Elyada Putri Christanti, Malag-Jawa Timur)
8.    Etsa Wajah Semesta (Farida Sundari, Medan)
9.    Sang Penghantar Surat Isyarat (Ikhsan Satria Irianto, Curup-Bengkulu)
10.    Epilog (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
11.    Seringai Sampah (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
12.    Karena Akukah Ini, Ibu? (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat)
13.    Tanah (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta)
14.    Ilhafa (M. Husnul Huda, Sumenep-Madura)
15.    Bukan Laut (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
16.    Lukisan Tubuh Nusantara (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan)
17.    Dzikir Dari Barak (Seruni, Solo)
18.    Banjir di Atas Meja (Syarif Hidayatullah, Barito Kuala-Kalimantan Selatan)
19.    Senja Harapan (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
20.    Pak Tua di Sudut Jambur Sederhana (Yenuri Wanto, Tulungagung-Jawa Timur)

Selamat kepada para peserta yang masuk di tahapan ini. Dari 20 naskah Nominator, akan disaring kembal. Keputusan Tim Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Rabu, 09 April 2014

Pengumuman 80 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana

Tim Juri Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bencana” sore ini mengumumkan 80 Nominator dari 620 naskah puisi peserta lomba. Ke-80 nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurutkan berdasarkan Abjad):

1.    Tubuh Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
2.    Di Pucuk Januari (Aziz Muzaqi, Semarang)
3.    Adikku yang Terlarut Kabut (Alvin Khautsar, Palembang-Sumatera Selatan)
4.    Tetesan Itu Beharga (Anggi Diah Pitaloka, Mojokerto)
5.    Tenggelam, Terbenam, dan Tersiram (Agus Santoso, Gresik-Jawa Timur)
6.    Bumi dan Tuhan (Ahmad Muarif, Serang-Banten)
7.    Segumpal Asa Kelud (Aisyah Nurfiani, Pasuruan-Jawa Timur)
8.    Hujan Telanjangi Kota (Andik Trio Widodo, Nganjuk-Jawa Timur)
9.    Kabar Dari Sinabung (Ahmad Rusaidi, Bantaeng-Sulawesi Selatan)
10.    Berhutbah Pada Tanah (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
11.    Dari Denyut Sebuah Hari (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
12.    Ratapan Korban Bencana Gunung Sinabung (Anita Syafitri, Medan-Sumatera Utara)
13.    Ketika Hujan Menjawab (Ahmad Fachrurozi, Parung-Bogor)
14.    Setitik Cahaya dalam Kelam (Auliya Sartika Maharani, Tulungagung-Jawa Timur)
15.    Jagat Arena (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
16.    Saat Isrofil Melirik ‘Arsy (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
17.    Bencana Alam (Beni Purna Indarta, Kebumen-Jawa Tengah)
18.    Di Balik Kelud (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur)
19.    Kemelut Kelud (Budianto Sutrisno, Jakarta)
20.    Mereka Datang (Cut Vivia Talitha, Bireuen-Aceh)
21.    Alam Mulai Enggan (D.A. Akhyar, Palembang)
22.    Tentang Kebesaran Tuhan (D.A. Akhyar, Palembang)
23.    Jeritan Alam (Deni Ainur Rokhim, Sidoarjo)
24.    Tadah Bumi Pada Langit (Dodi Saputra, Padang)
25.    Apa Banjir Tidak Takut Presiden? (Diah Wahyuningtyas, Tulungagung-Jawa Timur)
26.    Aku Dibungkus Asap (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
27.    Tak Kusihir (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
28.    Di Pelukan Ibu (Elyada Putri Christanti, Malag-Jawa Timur)
29.    Puisi Tuhan (Faisoel El Amin, Ciamis-Jawa Barat)
30.    Etsa Wajah Semesta (Farida Sundari, Medan)
31.    Nurani Berkisah Fragmen Alam (Fita Lustina, Purwokerto-Jawa Tengah)
32.    Dahsyatnya Gunung Meletus (Firzon Oktriadi, Kayuagung-Sumatera Selatan)
33.    Tuhan Masih Sayang (Hilal Ahmad, Serang-Banten)
34.    Duka Semesta (Henny Puspitasari, Banyumas-Jawa Tengah)
35.    Dukaku (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
36.    Sang Penghantar Surat Isyarat (Ikhsan Satria Irianto, Curup-Bengkulu)
37.    Epilog (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
38.    Laksana Hidup Kami (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
39.    Doa Seorang Ibu yang Kehilangan Anaknya (Ken Hanggara, Surabaya)
40.    Kisah Tentang Negeriku (Khoirul Anam, Sumenep-Jawa Timur)
41.    Seringai Sampah (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
42.    Penegur (Lailatul Musa’adah, Lamongan-Jawa Timur)
43.    Karena Akukah Ini, Ibu? (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat)
44.    Air (Lina Latifah, Bandung)
45.    Empat Kilomater (Lenny Widyawati, Semarang-Jawa Tengah)
46.    Tanah (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta)
47.    Tanah Yang Tak Pernah Kembali (Mohammad Kholili, Sumenep-Jawa Timur)
48.    Pecah! (Tanah Karo) (Mareza Sutan A, Medan)
49.    Ilhafa (M. Husnul Huda, Sumenep-Madura)
50.    Bencana Kubah Cinta (Muhamad Mursyid Ashari, Klaten-Jawa Tengah)
51.    Mencabik Benda Kaku (Machmudan, Bengkulu)
52.    Simfoni Hujan Hitam (Nella Dwigusni Yayu, Padang-Sumatera Barat)
53.    Riau Yang Risau (Novy Noorhayati Syahfida, Tangerang)
54.    Puing-Puing Duka (Nilla Novita Sari, Padang)
55.    Kabar Semesta (Nazri Zuliansyah, Aceh Utara)
56.    Merangkul Alam (Novita, Sumedang-Jawa Barat)
57.    Jerebu (Prasuta Hacesthiwara, Bukittinggi-Sumatera Barat)
58.    Nyanyian Merpati (Ridhamadina Rachmaniar, Malang)
59.    Ketika Alam Telah Bertindak (Ridhamadina Rachmaniar, Blitar-Jawa Timur)
60.    Kisah Dari Negeri Dua Musim (Rosi Rosdiani, Bandung)
61.    Sederhana Cinta (Roni Nugraha Syafroni, Cimahi-Jawa Barat)
62.    Bukan Laut (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
63.    Kelud Menyapa di Remang Malam (Rosi Rosdiani, Bandung)
64.    Duka Ini adalah Cinta-Nya (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
65.    Kidung Duka (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
66.    Lukisan Tubuh Nusantara (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan)
67.    Hijaumu Sunyi(Siti Zulaikah, Tulungagung-Jawa Timur)
68.    Dzikir Dari Barak (Seruni, Solo)
69.    Gunung Berceloteh (Sri Wahyuni, Bandung)
70.    Banjir di Atas Meja (Syarif Hidayatullah, Barito Kuala-Kalimantan Selatan)
71.    Bencana Lagi, Lagi-Lagi Bencana (Suheli Karyadi, Cilegon)
72.    Khatulistiwa Bersalju (Tri Yani, Bukittinggi-Sumatera Barat)
73.    Doa Tetes Embun (Ulis Sa’diyah, Kudus-Jawa Tengah)
74.    Suara dan Kata (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
75.    Senja Harapan (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
76.    Kala Kelud Menyapa (Widuri, Tanah Datar-Sumatera Barat)
77.    Halimun Menagih Rindu (Yudi Muchtar, Pekanbaru-Riau)
78.    Cukuplah Kelabu Milik Langit (Yulhamsidar, Makassar)
79.    Pak Tua di Sudut Jambur Sederhana (Yenuri Wanto, Tulungagung-Jawa Timur)
80.    Dialog Sang Makhluk (Zakiyah Nafsi, Medan-Sumatera Utara)

Selamat kepada para peserta yang masuk di tahapan ini. Dari 80 naskah Nominator, akan disaring kembali untuk 20 besar dan Pemenang 1, 2, 3. Keputusan Tim Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

Catatan FAM Indonesia:

1. Ke-80 naskah surat pilihan akan diterbitkan secara GRATIS oleh FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia. Untuk proses terbit ini penulis tidak dipungut biaya apa pun. Seluruh biaya penerbitan ditanggung FAM Publishing.

2. Buku ini dicetak terbatas dan penulis tidak mendapatkan tanda bukti terbit.

3. Bagi penulis yang berminat memiliki bukunya, dapat memesan atau membeli langsung ke FAM Publishing.

4. Penerbit tidak menyediakan stok buku. Jadi, penulis yang ingin memiliki tanda bukti buku ini harap segera memesan sebelum tanggal 30 April 2013, sebab buku akan dicetak bersamaan dan tidak cetak satuan.

5. Harga buku: Pesan 1 eks Rp45.000 + ongkir Rp18.000 = Rp63.000. Pesan 2 eks Rp80.000 + ongkir Rp21.000= Rp101.000. Pesan 3 eks Rp120.000 + ongkir Rp23.000= Rp143.000.

6. Ongkos kirim disamakan untuk setiap kota. Pemesanan di atas 3 (tiga) eksemplar, harap menghubungi Call Centre 0812 5982 1511 atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com.

7. Bagi FAMili (selain penulis buku ini) yang ingin memiliki buku ini, harga per eks Rp45.000 dan ongkir dihitung untuk tiap kota.

Demikian pengumuman ini disampaikan, atas perhatian dan kemaklumannya disampaikan terima kasih.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

TAHAPAN SELEKSI:

1. Senin, 7 April 2014: Pengumuman 200 nominator
2. Selasa, 8 April 2014: Pengumuman 100 nominator
3. Rabu, 9 April 2014: Pengumuman 80 nominator (dibukukan)
4. Kamis, 10 April 2014: Pengumuman 20 naskah terbaik
5. Jumat, 11 April 2014: pengumuman 10 naskah terbaik
6. Sabtu, 12 April 2014: pengumuman pemenang 1, 2 dan 3

Seluruh pemenang dan peserta akan mendapatkan PIAGAM PENGHARGAAN (e_piagam) dari FAM Indonesia.

Pengumuman 100 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana

Tim Juri Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bencana” malam ini mengumumkan 100 Nominator dari 200 nominator yang telah diumumkan malam kemarin (total naskah yang diseleksi 620 puisi). Karya siapakah yang berhasil masuk di tahapan ini? Berikut ke-100 nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurutkan berdasarkan Abjad):

1. Negeriku Diuji (Arif Hidayatullah, Padang)
2. Tubuh Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
3. Ibu Kota (Aditya Arif Setiawan, Depok-Jawa Barat)
4. Di Pucuk Januari (Aziz Muzaqi, Semarang)
5. Rambut Gundul (Aria Winardi, Mojokerto)
6. Adikku Yang Terlarut Kabut (Alvin Khautsar, Palembang-Sumatera Selatan)
7. Tetesan Itu Beharga (Anggi Diah Pitaloka, Mojokerto)
8. Tenggelam, Terbenam, dan Tersiram (Agus Santoso, Gresik-Jawa Timur)
9. Bumi dan Tuhan (Ahmad Muarif, Serang-Banten)
10. Segumpal Asa Kelud (Aisyah Nurfiani, Pasuruan-Jawa Timur)
11. Hujan Telanjangi Kota (Andik Trio Widodo, Nganjuk-Jawa Timur)
12. Bukan Cerita Pelari (Anggi Irma Ardianingrum, Kuningan-Jawa Barat)
13. Kabar Dari Sinabung (Ahmad Rusaidi, Bantaeng-Sulawesi Selatan)
14. Berhutbah Pada Tanah (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
15. Dari Denyut Sebuah Hari (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
16. Dunia Menangis, Negeriku Bersedih (Arief Rahman Hakim, Surabaya)
17. Ratapan Korban Bencana Gunung Sinabung (Anita Syafitri, Medan-Sumatera Utara)
18. Ketika Hujan Menjawab (Ahmad Fachrurozi, Parung-Bogor)
19. Kemurkaan Tuhan (Angga Juniardo, Bekasi-Jawa Barat)
20. Setitik Cahaya dalam Kelam (Auliya Sartika Maharani, Tulungagung-Jawa Timur)
21. Jagat Arena (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
22. Saat Isrofil Melirik ‘Arsy (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
23. Bencana Alam (Beni Purna Indarta, Kebumen-Jawa Tengah)
24. Menanti Rinai Malaikat Mikail (Beben T, Palembang-Sumatera Selatan)
25. Di Balik Kelud (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur)
26. Menyambung Hidup di Sinabung (Budianto Sutrisno, Jakarta)
27. Kemelut Kelud (Budianto Sutrisno, Jakarta)
28. Derita Kami (Chania Maulidina Widyasari, Malang)
29. Maaf Tuhan (Cahya Yustika Rani, Yogyakarta)
30. Mereka Datang (Cut Vivia Talitha, Bireuen-Aceh)
31. Alam Mulai Enggan (D.A. Akhyar, Palembang)
32. Tentang Kebesaran Tuhan (D.A. Akhyar, Palembang)
33. Seseorang Yang Mendekap Tuhan (Dewi Putri Anggi, Pekanbaru)
34. Jeritan Alam (Deni Ainur Rokhim, Sidoarjo)
35. Tadah Bumi Pada Langit (Dodi Saputra, Padang)
36. Apa Banjir Tidak Takut Presiden? (Diah Wahyuningtyas, Tulungagung-Jawa Timur)
37. Aku Dibungkus Asap (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
38. Tak Kusihir (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
39. Di Pelukan Ibu (Elyada Putri Christanti, Malag-Jawa Timur)
40. Puisi Tuhan (Faisoel El Amin, Ciamis-Jawa Barat)
41. Etsa Wajah Semesta (Farida Sundari, Medan)
42. Nurani Berkisah Fragmen Alam (Fita Lustina, Purwokerto-Jawa Tengah)
43. Dahsytnya Gunung Meletus (Firzon Oktriadi, Kayuagung-Sumatera Selatan)
44. Bencana (Gebby Adytia Putra, Jambi)
45. Tuhan Masih Sayang (Hilal Ahmad, Serang-Banten)
46. Duka Semesta (Henny Puspitasari, Banyumas-Jawa Tengah)
47. Dukaku (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
48. Sang Penghantar Surat Isyarat (Ikhsan Satria Irianto, Curup-Bengkulu)
49. Epilog (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
50. Laksana Hidup Kami (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
51. Sebuah Kisah Dari Lereng Vulkanik (Kartika Indriarini, Trenggalek)
52. Doa Seorang Ibu yang Kehilangan Anaknya (Ken Hanggara, Surabaya)
53. Kisah Tentang Negeriku (Khoirul Anam, Sumenep-Jawa Timur)
54. Seringai Sampah (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
55. Penegur (Lailatul Musa’adah, Lamongan-Jawa Timur)
56. Karena Akukah Ini, Ibu? (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat)
57. Air (Lina Latifah, Bandung)
58. Empat Kilomater (Lenny Widyawati, Semarang-Jawa Tengah)
59. Air Mata Bumi (Malisa Ladini, Semarang)
60. Tanah (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta)
61. Cubitan Tuhan Berupa Bencana (Muhammad Pajri, Mataram-Nusa Tenggara Barat)
62. Tanah Yang Tak Pernah Kembali (Mohammad Kholili, Sumenep-Jawa Timur)
63. Pecah! (Tanah Karo) (Mareza Sutan A, Medan)
64. Ilhafa (M. Husnul Huda, Sumenep-Madura)
65. Bencana Kubah Cinta (Muhamad Mursyid Ashari, Klaten-Jawa Tengah)
66. Mencabik Benda Kaku (Machmudan, Bengkulu)
67. Simfoni Hujan Hitam (Nella Dwigusni Yayu, Padang-Sumatera Barat)
68. Riau Yang Risau (Novy Noorhayati Syahfida, Tangerang)
69. Puing-Puing Duka (Nilla Novita Sari, Padang)
70. Kabar Semesta (Nazri Zuliansyah, Aceh Utara)
71. Merangkul Alam (Novita, Sumedang-Jawa Barat)
72. Jerebu (Prasuta Hacesthiwara, Bukittinggi-Sumatera Barat)
73. Nyanyian Merpati (Ridhamadina Rachmaniar, Malang)
74. Ketika Alam Telah Bertindak (Ridhamadina Rachmaniar, Blitar-Jawa Timur)
75. Kisah Dari Negeri Dua Musim (Rosi Rosdiani, Bandung)
76. Sederhana Cinta (Roni Nugraha Syafroni, Cimahi-Jawa Barat)
77. Patung Abu (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
78. Bukan Laut (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
79. Kelud Menyapa di Remang Malam (Rosi Rosdiani, Bandung)
80. Duka Ini adalah Cinta-Nya (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
81. Kidung Duka (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
82. Lukisan Tubuh Nusantara (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan)
83. Hijaumu Sunyi(Siti Zulaikah, Tulungagung-Jawa Timur)
84. Dzikir Dari Barak (Seruni, Solo)
85. Gunung Berceloteh (Sri Wahyuni, Bandung)
86. Sisa Surga Nusantara (Sifa Afidati, Bantul-Yogyakarta)
87. Banjir di Atas Meja (Syarif Hidayatullah, Barito Kuala-Kalimantan Selatan)
88. Bencana Lagi, Lagi-Lagi Bencana (Suheli Karyadi, Cilegon)
89. Kabut Tak Lagi Tipis (Sulastri, Padang)
90. Khatulistiwa Bersalju (Tri Yani, Bukittinggi-Sumatera Barat)
91. Doa Tetes Embun (Ulis Sa’diyah, Kudus-Jawa Tengah)
92. Sebuah Makna di Sebalik Bencana (Ulli Arlita Dewi, Aceh)
93. Suara dan Kata (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
94. Senja Harapan (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
95. Kala Kelud Menyapa (Widuri, Tanah Datar-Sumatera Barat)
96. Riauku Sayang, Riauku Malang (Wulan Rahmadani Fitria N, Pekanbaru-Riau)
97. Halimun Menagih Rindu (Yudi Muchtar, Pekanbaru-Riau)
98. Cukuplah Kelabu Milik Langit (Yulhamsidar, Makassar)
99. Pak Tua di Sudut Jambur Sederhana (Yenuri Wanto, Tulungagung-Jawa Timur)
100. Dialog Sang Makhluk (Zakiyah Nafsi, Medan-Sumatera Utara)

Selamat kepada para peserta yang masuk di tahapan ini. Dari 100 naskah Nominator, akan disaring kembali menjadi 80 nominator yang naskahnya layak dibukukan. Keputusan Tim Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Selasa, 08 April 2014

Pengumuman 200 Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema Bencana

Tim Juri Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bencana” malam ini mengumumkan 200 Nominator dari 620 naskah puisi peserta lomba. Ke-200 nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurutkan berdasarkan Abjad):

1. Negeriku Diuji (Arif Hidayatullah, Padang)
2. Tubuh Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
3. Lanskap Bencana (Alex R. Nainggolan, Tangerang-Banten)
4. Ibu Kota (Aditya Arif Setiawan, Depok-Jawa Barat)
5. Di Pucuk Januari (Aziz Muzaqi, Semarang)
6. Rambut Gundul (Aria Winardi, Mojokerto)
7. Adikku Yang Terlarut Kabut (Alvin Khautsar, Palembang-Sumatera Selatan)
8. Tetesan Itu Beharga (Anggi Diah Pitaloka, Mojokerto)
9. Kembalilah Negeriku (Ari Kusdiyanto, Pontianak)
10. Tenggelam, Terbenam, dan Tersiram (Agus Santoso, Gresik-Jawa Timur)
11. Asap Berulah, Siapa Yang Salah (Ahmad Kafil Mawaidz, Lamongan)
12. Bumi dan Tuhan (Ahmad Muarif, Serang-Banten)
13. Seperti Seharusnya (Ayu Sulistiowati, Jakarta)
14. Segumpal Asa Kelud (Aisyah Nurfiani, Pasuruan-Jawa Timur)
15. Hujan Telanjangi Kota (Andik Trio Widodo, Nganjuk-Jawa Timur)
16. Bukan Cerita Pelari (Anggi Irma Ardianingrum, Kuningan-Jawa Barat)
17. Alergi dengan Tuhan (Andi Nurul Afiah, Makassar)
18. Kabar Dari Sinabung (Ahmad Rusaidi, Bantaeng-Sulawesi Selatan)
19. Antara Awan dan Bumi (Auliya Sartika Maharani, Tulungagung-Jawa Timur)
20. Berhutbah Pada Tanah (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
21. Dari Denyut Sebuah Hari (A.M Mulyadi, Majalengka-Jawa Barat)
22. Orang-Orang Kemarin (Agnestia Suci Prabandari, Kersan-Yogyakarta)
23. Dunia Menangis, Negeriku Bersedih (Arief Rahman Hakim, Surabaya)
24. Ratapan Korban Bencana Gunung Sinabung (Anita Syafitri, Medan-Sumatera Utara)
25. Tuhan, Selamtkan Aku, Alam, Saudaraku (Audia Jasmin Armanda, Tangerang)
26. Ketika Hujan Menjawab (Ahmad Fachrurozi, Parung-Bogor)
27. Bencana Melanda Negeriku Merana (Angga Brian Fernandi, Demak-Jawa Tengah)
28. Kemurkaan Tuhan (Angga Juniardo, Bekasi-Jawa Barat)
29. Setitik Cahaya dalam Kelam (Auliya Sartika Maharani, Tulungagung-Jawa Timur)
30. Jagat Arena (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
31. Saat Isrofil Melirik ‘Arsy (Bintang Alfiah, Kuningan-Jawa Barat)
32. Bencana Alam (Beni Purna Indarta, Kebumen-Jawa Tengah)
33. Menanti Rinai Malaikat Mikail (Beben T, Palembang-Sumatera Selatan)
34. Di Balik Kelud (Budi Harsono, Tulungagung-Jawa Timur)
35. Menyambung Hidup di Sinabung (Budianto Sutrisno, Jakarta)
36. Kemelut Kelud (Budianto Sutrisno, Jakarta)
37. Derita Kami (Chania Maulidina Widyasari, Malang)
38. Maaf Tuhan (Cahya Yustika Rani, Yogyakarta)
39. Mereka Datang (Cut Vivia Talitha, Bireuen-Aceh)
40. Bumi, Kami dan Mereka (Diana Kusuma Astuti, Kebumen-Jawa Tengah)
41. Alam Mulai Enggan (D.A. Akhyar, Palembang)
42. Tentang Kebesaran Tuhan (D.A. Akhyar, Palembang)
43. Seseorang Yang Mendekap Tuhan (Dewi Putri Anggi, Pekanbaru)
44. Air (Danang Alfriandi Legowo, Tangerang)
45. Jeritan Alam (Deni Ainur Rokhim, Sidoarjo)
46. Tadah Bumi Pada Langit (Dodi Saputra, Padang)
47. Bumi Menangis (Dewi Sartieka Putri, OKI-Sumatera Selatan)
48. Ketika Tuhan Berbicara (Dany Firmansyah, OKI-Sumatera Selatan)
49. Duka di Tanah Karo Semalem (Dian Ayu Bindriati, Tulungagung-Jawa Timur)
50. Apa Banjir Tidak Takut Presiden? (Diah Wahyuningtyas, Tulungagung-Jawa Timur)
51. Tolong (Dadang Asmanaf, Palembang-Sumatera Selatan)
52. Pesan Hujan (Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat)
53. Bagaimana Lagi Caranya Menangis, Ya Rabb (Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat)
54. Buah Rindu-Nya (Desy Listhiana Anggraini, Bandar Lampung-Lampung)
55. Bangunlah (Dewi Lestari, Kudus-Jawa Tengah)
56. Gemuruh (Dewi Lestari, Kudus-Jawa Tengah)
57. Pilah Alam Yang Tak Tersapa (Elsa Febriani, Pesisir Selatan-Sumatera Barat)
58. Surat Klasik Tak Bertepi, Munajah Korban Bencana (Eka Nadya Rahmania, Palembang)
59. Aku Dibungkus Asap (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
60. Tak Kusihir (Eddie MNS Soemanto, Padang-Sumatera Barat)
61. Bencana Ini; Kabar Gembira (Erna Susilowati, Kudus-Jawa Tengah)
62. Mencekik Ibu Kota (Eko Agus Triswanto, Surabaya-Jawa Timur)
63. CM (Eka Putri Irianti, DKI Jakarta)
64. Sumbang (Eka Putri Irianti, DKI Jakarta)
65. Di Pelukan Ibu (Elyada Putri Christanti, Malag-Jawa Timur)
66. Perkara Asap (Ervi Yuhdwiyani Siregar, Jambi)
67. Kota Mulai Mati Karya (Feli Natar, Lampung Selatan)
68. Puisi Tuhan (Faisoel El Amin, Ciamis-Jawa Barat)
69. Etsa Wajah Semesta (Farida Sundari, Medan)
70. Nurani Berkisah Fragmen Alam (Fita Lustina, Purwokerto-Jawa Tengah)
71. Gunung Meletus (Firzon Oktriadi, Kayuagung-Sumatera Selatan)
72. Bencana (Gebby Adytia Putra, Jambi)
73. Tuhan Masih Sayang (Hilal Ahmad, Serang-Banten)
74. Duka Semesta (Henny Puspitasari, Banyumas-Jawa Tengah)
75. Ibu Pertiwi Menangis (Hanif Rahma, Magelang-Jawa Tengah)
76. Jejak Sang Monster (Heri Sutrisno, Kudus-Jawa Tengah)
77. Bukan Kutukan (Hasan, Gowa-Sulawesi Selatan)
78. Negeri Wayang Luka (Isfajar Mustiqa Ardhi, Semarang-Jawa Tengah)
79. Dukaku (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
80. Penunggu Lautan (Ika Surya Wandita, Bandung)
81. Sang Penghantar Surat Isyarat (Ikhsan Satria Irianto, Curup-Bengkulu)
82. Butir-Butir Penegur Kalbu (Intan Lestari, Cirebon-Jawa Barat)
83. Gerhana Buana (I Wayan Juniartawan, Bali)
84. Tanah Air (Mata) (Ikhsan Hasbi, Aceh)
85. Varian Bencana (Isfaroh, Lamongan-Jawa Timur)
86. Hitam (Irma Yolanda, Langkat-Sumatera Utara)
87. Doa Buat Ia (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
88. Epilog (I Wayan Sumahardika, Denpasar-Bali)
89. Apa Yang Kudengar (Irianto P. Binsardo, Bandung)
90. Laksana Hidup Kami (Ika Andayaningsih, Kota Ambarawa)
91. Sejarah Tanah Persegi (Junaidah Munawarah, Aceh)
92. Nelangsa Sinabung (Juni Purnama Hasibuan, Cikampak-Sumatera Utara)
93. Sebuah Kisah Dari Lereng Vulkanik (Kartika Indriarini, Trenggalek)
94. Doa Seorang Ibu yang Kehilangan Anaknya (Ken Hanggara, Surabaya)
95. Kisah Tentang Negeriku (Khoirul Anam, Sumenep-Jawa Timur)
96. Surat Anak Kecil Yang Menceritakan Negerinya (Khoirul Anam, Sumenep-Jawa Timur)
97. Aku dan Partikel Tuhan (Kukuh Septio Aji, Demak-Jawa Tengah)
98. Bandang Madya (Kania Nurul Rozak Karnama, Bandung-Jawa Barat)
99. Suara Belukar (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
100. Seringai Sampah (Khairun Nisa, Karanganyar-Jawa Tengah)
101. Penegur (Lailatul Musa’adah, Lamongan-Jawa Timur)
102. Meditasi Pasca Bencana (Lipul El Pupaka, Bengkulu)
103. Dunia Sunyi (Laily Alfi Nuktah, Purbalingga-Jawa Tengah)
104. Karena Akukah Ini, Ibu? (Liza Hasda, Batusangkar-Sumatera Barat)
105. Balada Si Yang Terbuang (Lina Latifah, Bandung)
106. Air (Lina Latifah, Bandung)
107. Empat Kilomater (Lenny Widyawati, Semarang-Jawa Tengah)
108. Mengulang Maaf (Maulidan Rahman Siregar, Padang Pariaman, Sumbar)
109. Air Mata Bumi (Malisa Ladini, Semarang)
110. Demi Masa (Maulidiyah Nurma Alfiyanti, Denpasar-Bali)
111. Pelajaran Paling Berharga dari Riwayat Bencana (Marheni, Kutai Kartanegara-Kalimantan Timur)
112. Ini Salah Siapa (M. Nailurrohman, Pasuruan-Jawa Timur)
113. Tanah (M. Imam Fatkhurrozi, Yogyakarta)
114. Alam Berkata (Muhammad Septiazis Haditama, Kayuagung-Sumatera Selatan)
115. Cubitan Tuhan Berupa Bencana (Muhammad Pajri, Mataram-Nusa Tenggara Barat)
116. Tanah Yang Tak Pernah Kembali (Mohammad Kholili, Sumenep-Jawa Timur)
117. Pecah! (Tanah Karo) (Mareza Sutan A, Medan)
118. Ilhafa (M. Husnul Huda, Sumenep-Madura)
119. Denyar Lara (Mutiara Indah, Banda Aceh)
120. Bahagia Pasti Masih Ada (M. Fitrah Alfian R.S, Tangerang)
121. Bencana Kubah Cinta (Muhamad Mursyid Ashari, Klaten-Jawa Tengah)
122. Alam Manusia (Muhamad Mursyid Ashari, Klaten-Jawa Tengah)
123. Dunia Penuh Keluhan (Muamanati Yuliati Rahmawati, Jayapura-Papua)
124. Mencabik Benda Kaku (Machmudan, Bengkulu)
125. Indonesia Menangis (Maftuhatus Sa’diyah, Lamongan-Jawa Timur)
126. Tafakur Senja (Maftuhatus Sa’diyah, Lamongan-Jawa Timur)
127. Le dan Mak (Meka Nitrit Kawasari, Semarang-Jawa Tengah)
128. Pesta Ketipung Alam (Naela Khusna Faela Shufa, Kudus-Jawa Tengah)
129. Simfoni Hujan Hitam (Nella Dwigusni Yayu, Padang-Sumatera Barat)
130. Riau Yang Risau (Novy Noorhayati Syahfida, Tangerang)
131. Alam Pun Gundah (Naila Syafitri, Bogor)
132. Puing-Puing Duka (Nilla Novita Sari, Padang)
133. Bencana di Bumi Tuhan (Nurtiti Hayati, Medan)
134. Kabar Semesta (Nazri Zuliansyah, Aceh Utara)
135. Merangkul Alam (Novita, Sumedang-Jawa Barat)
136. Pemimpin Bergelimang Bencana (Nilla Novita Sari, Padang)
137. Tamu Istimewa (Nuryani, Yogyakarta)
138. Kelud (Nira Hermawanti, Bandung)
139. Bencana di Negeriku (Nalsal Suciati Bangun, Torgamba-Sumatera Utara)
140. Penghapus Dosa Kami (Oty Kiki Mandasari, Malang)
141. Menadah Derita (Oty Kiki Mandasari, Malang)
142. Du(k)a (Okti Dwi Hartatik, Tegal-Jawa Tengah)
143. Pedang Merah (Patrick Prasetyo, Jawa Timur)
144. Jerebu (Prasuta Hacesthiwara, Bukittinggi-Sumatera Barat)
145. Nyanyian Merpati (Ridhamadina Rachmaniar, Malang)
146. Masih Dipikirkan (Rahmat Basori Lubis, Gresik)
147. Masih Inginkah Kita (Rezky Esa Putri, Makssar)
148. Ketika Alam Telah Bertindak (Ridhamadina Rachmaniar, Blitar-Jawa Timur)
149. Ia Datang (Bencana) (Rachmat Wijaya, Ogan Ilir- Sumatera Selatan)
150. Kisah Dari Negeri Dua Musim (Rosi Rosdiani, Bandung)
151. Sederhana Cinta (Roni Nugraha Syafroni, Cimahi-Jawa Barat)
152. Patung Abu (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
153. Bukan Laut (Reffi Dhinar Seftianti, Sidoarjo)
154. Kelud Menyapa di Remang Malam (Rosi Rosdiani, Bandung)
155. Duka Ini adalah Cinta-Nya (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
156. Kidung Duka (Rahmi Mardatillah, Janeponto-Sulawesi Selatan)
157. Wajah Muram Ibu Kota (Rizki Fajar Sodiq, Tulungagung-Jawa Timur)
158. Lukisan Tubuh Nusantara (Reny Puteri Utami, Palembang-Sumatera Selatan)
159. Pulau Asap (Rori Eni Sativa, Bojonegoro-Jawa Timur)
160. Musim Mengabu (Rahmadyah Kusuma Putri, Medan-Sumatera Utara)
161. Hijaumu Sunyi(Siti Zulaikah, Tulungagung-Jawa Timur)
162. Dzikir Dari Barak (Seruni, Solo)
163. Gunung Berceloteh (Sri Wahyuni, Bandung)
164. Ketika Gunung Berbicara (Sudariyah, Kendal-Jawa Tengah)
165. Sisa Surga Nusantara (Sifa Afidati, Bantul-Yogyakarta)
166. Banjir di Atas Meja (Syarif Hidayatullah, Barito Kuala-Kalimantan Selatan)
167. Bencana Lagi, Lagi-Lagi Bencana (Suheli Karyadi, Cilegon)
168. Pertanda-Mu (Sika Indriyawati, Tuban-Jawa Timur)
169. Madras Nanar (Sinta Novia Siswanti, Sukabumi-Jawa Barat)
170. Kenangan Pahit di Kota Kediri (Suciani Asrotuzyahria, Tulungagung-Jawa Timur)
171. Liar (Sika Indriyawati, Tuban-Jawa Timur)
172. Kabut Tak Lagi Tipis (Sulastri, Padang)
173. Bumi Menangis, Manusia Tertawa (Subektiningsih, Yogyakarta)
174. Khatulistiwa Bersalju (Tri Yani, Bukittinggi-Sumatera Barat)
175. Rasa Sayang (Tommy Alexander Tambunan, Bengkulu)
176. Doa Tetes Embun (Ulis Sa’diyah, Kudus-Jawa Tengah)
177. Sebuah Makna di Sebalik Bencana (Ulli Arlita Dewi, Aceh)
178. Dahiat-Mu, Tuhan (Vivi Puji Wihartanti, Bukittinggi-Sumatera Barat)
179. Jika Hari Ini (Windi Ariesti Anggraeni, Garut-Jawa Barat)
180. Ujian Tuhan (Windy Febriani, Bogor)
181. Suara dan Kata (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
182. Senja Harapan (Winda Efanur Fajriyatus Solihah, Yogyakarta)
183. Ratapan Duka (Wisnu Arya, Cikampak-Sumatera Utara)
184. Pelangi dalam Luka (Wilda Khoirina, Jakarta Selatan)
185. Kala Kelud Menyapa (Widuri, Tanah Datar-Sumatera Barat)
186. Kala Tuhan Merindukan Mantra-Mantra Suci HambaNya (Widuri, Tanah Datar-Sumatera Barat)
187. Riauku Sayang, Riauku Malang (Wulan Rahmadani Fitria N, Pekanbaru-Riau)
188. Terima Kasih Tuhan (Yuliza Azella, Banda Aceh)
189. Debu dan Air Mata (Yumailia Veronika, Padang-Sumatera Barat)
190. Akhir (Yoga Aditama Ika Nanda, Samarinda)
191. Halimun Menagih Rindu (Yudi Muchtar, Pekanbaru-Riau)
192. Langkah Perjalanan Anak Adam (Yuni Ningtyas, Malang)
193. Cukuplah Kelabu Milik Langit (Yulhamsidar, Makassar)
194. Harapku (Yuan Yunita, Bangka Tengah)
195. Ancala Murka (Yudha Hari Wardhana, Surabaya)
196. Pak Tua di Sudut Jambur Sederhana (Yenuri Wanto, Tulungagung-Jawa Timur)
197. Guyuran Abumu (Zainal Abidin, Nganjuk)
198. Negeriku Menangis (Zuraini, Yogyakarta)
199. Dialog Sang Makhluk (Zakiyah Nafsi, Medan-Sumatera Utara)
200. Lihatlah (Zakiyah Nafsi, Medan-Sumatera Utara)

Selamat kepada para peserta yang masuk di tahapan ini. Dari 200 naskah Nominator, akan disaring kembali menjadi 100 nominator. Keputusan Tim Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Sabtu, 05 April 2014

Surat Pernyataan Originalitas Karya untuk Apa?

FAMili, dalam setiap event perlombaan yang dikelola secara profesional, pihak penyelenggara—siapa pun dan lembaga apa pun penyelenggaranya—selalu mencantumkan syarat dan ketentuan bahwa peserta harus membuat “Surat Pernyataan Originalitas Karya”. Sebenarnya surat itu untuk apa?

Demikian banyak pertanyaan diajukan kepada Admin FAM Indonesia. Maka, FAM dapat menjawab sebagai berikut:

1. Surat Pernyataan Originalitas Karya dibutuhkan sebagai bentuk sebuah “pertanggungjawaban” penulis terhadap keaslian (original) karya yang ia tulis.

2. Dalam beberapa event lomba menulis yang digelar FAM Indonesia, selalu ditemukan karya-karya peserta yang terbukti tidak original, alias plagiat dari tulisan orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan. Ukuran plagiat dimaksud adalah “mengutip teks secara utuh karya orang lain dan mengklaimnya sebagai karya sendiri”.

3. FAM Indonesia sebagai komunitas penulis yang orientasinya “membina”, oknum-oknum penulis tersebut hanya diingatkan dan tetap diberi arahan agar menjadi penulis yang jujur, tidak instan, dan menjunjung tinggi etika kepenulisan. Namun demikian, tulisan-tulisan yang terbukti plagiat, tetap diberlakukan sistem gugur (diskualifikasi) atau tidak diikutsertakan di dalam event dimaksud.

4. Tim Juri maupun Tim FAM Indonesia selalu melakukan kroschek tulisan yang “mencurigakan” dengan mencocokkan tulisan itu kepada tulisan yang diduga diplagiat lewat mesin pencari di internet (google, yahoo, dan sejenisnya). Pencocokan karya dugaan plagiat juga merujuk kepada sumber-sumber data yang dimiliki FAM Indonesia.

5. Begitu juga, FAM Publishing sebagai Divisi Penerbitan FAM Indonesia, tidak serta merta menerima naskah untuk diterbitkan jika naskah diduga memuat materi yang tidak original (tidak asli karya penulis) meski proses penerbitan sepenuhnya dibiayai penulis. Artinya, FAM Publishing (yang masih merupakan penerbit Self Publishing) tidak semata-mata mengejar target finansial (uang), namun juga melakukan edukasi untuk tetap menjunjung tinggi hak kekayaan intelektual orang lain agar tidak dilanggar oleh oknum penulis-penulis tertentu yang ingin mendapat keuntungan secara instan.

Demikian penjelasan FAM Indonesia untuk menjadi rujukan terutama bagi penulis-penulis pemula yang ingin terjun di dunia kepenulisan. “Penulis yang sukses adalah penulis yang berpeluh-peluh menjalani proses kreatifnya dan bangga dengan hasil karyanya sendiri”.

Salam santun, salam aktif!

FAM INDONESIA

Sumber ilustrasi: sepatufutsalasli.com

Selasa, 01 April 2014

Kenangan Bersama Pendiri FAM Indonesia

Oleh Makhyatul Fikriyah

Sore itu Kamis, 14 November 2013 adalah sore yang begitu indah. Bagaimana tidak? Saat itu kami (siswa sanggar menulis) dapat bertemu langsung dengan Jurnalis sekaligus novelis best seller “Rinai Kabut Singgalang” yang sekaligus Ketum FAM dalam acara Diskusi Menulis di Kantor Pusat FAM yang bertempat di Pare. Walaupun dengan sedikit perjuangan untuk sampai ke sana, namun tidak sia-sia. Saat itu Pare sedang diguyur hujan lebat diiringi petir yang seakan siap menikam. Ibuku sempat melarangku untuk keluar rumah. Apalagi tidak ada motor untuk dikendarai. Namun, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Sampai setengah lima sore hujan sedikit bersahabat, aku kuatkan kakiku untuk mengayuh sepeda, menantang angin.

Bersama adikku Naela kami sampai di Kantor FAM. Ternyata acara diskusi yang diisi Bapak Muhammad Subhan dan Umi Aliya Nurlela, sudah berlangsung. Semua peserta diskusi sudah hadir dan menyimak. Kami disambut hangat. ''Wah, kita sudah sampai di Surabaya nih, ini masih Pare saja" ucap Pak Subhan. Aku tertawa geli, memang saat itu kami sangat terlambat. Aku sangat malu. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak samasekali. Saat masuk, kami mengisi daftar hadir dan mendapat snack serta air minum dari panitia.

Senang sekali saat itu. Biasanya kami hanya mendengar cerita tentang Pak Subhan dari Umi Aliya atau sosial media. Sekjen FAM, Aliya Nurlela (yang kupanggil Umi) selalu menyampaikan pada setiap acara diskusi menulis rutin, “besok-besok kalian harus ikut juga acara diskusi menulis yang diisi Pak Subhan, agar ilmu bertambah.” Karena aku datang terlambat sehingga tertinggal banyak materi. Namun hal itu tak mengurangi semangatku. Materi yang disampaikan begitu padat, beda, dan inspiratif. Apalagi ditemani camilan serta air minum menambah asyik acara diskusi sore itu. Pesertanya dari berbagai sekolah di Pare mulai dari MTsN 1 Model, MA Hasanuddin, SMK Bhakti Mulia, SMAN 1, SMAN 2, Sanggar Bocah Dolanan, serta para guru. Senang sekali rasanya, bisa mengikuti diskusi menulis yang langsung diisi oleh dua orang pendiri FAM. Sebagai anggota FAM aku jadi termotivasi untuk meniru jejak mereka.

Dalam diskusi itu kita dalam menulis disarankan untuk  fokus dan serius. Carilah masalah untuk membuat tulisan. “Bukan membuat masalah lho ya?” begitu kata Pak Subhan.  Materi yang disampaikan, mulai dari belajar menulis hingga proses dan tips untuk diterbitkan. Selain itu, ada pesan-pesan motivasi yang memacu semangat kami untuk terus menulis. Contohnya,  kutipan “hidup adalah rangkaian masalah, maka  Hadapi, Hayati, dan Nikmati.” Alhamdulillah banyak sekali materi bagus yang kami dapatkan selama mengikuti diskusi. Bahkan, usai diskusi kami memiliki kesempatan ngobrol akrab dengan kedua pendiri. Kesempatan itu kami gunakan untuk bertanya-tanya seputar masalah yang dihadapi saat menulis.

Pada akhir acara aku mendapat doorprize buku dari FAM yang berjudul “Kunang-kunang di Sarang Tikus”. Buku ini adalah kumpulan cerpen dari para pemenang Lomba Menulis Cerpen untuk pelajar dan mahasiswa tingkat nasional. Hadiah itu kudapat bukan tanpa alasan, melainkan hadiah itu kudapat karena aku telah khatam membaca Novel “Rinai Kabut Singgalang”. Selain itu semua peserta juga mendapatkan sertifikat karena telah mengikuti diskusi ini. Acara diakhiri dengan foto bersama. Sore yang indah dan bermakna.

*) Makhyatul Fikriyah, anggota FAM Indonesia dari Kediri (Siswa SMA)

KABAR TERBARU

KOMENTAR PEMBACA

BUKU BARU

narrowsidebarads

Masukkan Kode HTML yang ingin kamu optimalisasi: