Senin, 11 Agustus 2014

Ulasan Puisi "Napas Ini" Karya Adris Wuryani (FAMili Jepara)

Puisi-puisi tentang Sang Pencipta sebagiannya selalu menonjolkan tiga hal: keagungan Tuhan, kelemahan seorang makhluk, dan rasa "tak berdaya" di hadapan-Nya bagi mereka yang beriman. Seperti halnya puisi ini, menunjukkan ketidakberdayaan seorang makhluk yang merasa kecil. Namun, rasa tidak berdaya ini tak menimbulkan ketakutan, justru tumbuh kesadaran diri untuk lebih mendekat pada-Nya.

Ada beberapa koreksi dalam penulisan/EYD, di antaranya kata "nafas", "takkan", "ridho", "tuhanpun", "dewapun", dan "mengkonvensionalkan", yang seharusnya ditulis "napas", "tak 'kan" (perhatikan tanda apostrof ( ' )), "ridha", "tuhan pun" (terpisah), "dewa pun" (terpisah), dan "mengonvensionalkan" (huruf 'k' lebur).

Sedikit catatan. Penulisan partikel "pun" di belakang setiap kata wajib terpisah, seperti pada penulisan kata "tuhan pun" dan "dewa pun" dalam puisi ini. Namun, ada 12 kata yang masuk pengecualian, yakni: "adapun", "andaipun", "ataupun", "bagaimanapun", "biarpun", "meskipun", "maupun", "kalaupun", "kendatipun", "walaupun", "sungguhpun", dan "sekalipun". Selain pengecualian tersebut, penulisan "pun" wajib terpisah dari kata apa pun.

Pesan dari Tim FAM untuk penulis adalah agar lebih memperkaya pilihan diksi. Puisi yang indah dan bermakna memang tidak selalu harus menggunakan diksi penuh warna. Akan tetapi, puisi yang baik juga tak lepas dari kejelian seorang penulis dalam menjalin diksi-diksi yang sederhana sekalipun, menjadi sebuah untaian kata-kata khas (tidak klise) dan nikmat diresapi.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Nafas Ini
Oleh Adris Wuryani (ID FAM2180S)

Allah.. tiada kata lain 
Tuhanpun tidak lebih indah dari-Mu
dewapun, entahlah
Aku hanya menyembahkan nafas ini untuk-Mu
Menuahkan ayat ayat suci-Mu
Memotret keanugerahan yang Kau semai untukku
Memendam ujian, 
dan terus menggali kebangkitan dengan firman-Mu

Aku takkan hidup tanpa nafas 
nafas suci penuh makna 
Upaya terus berotasi menggapai ridho-Mu
Berevolusi ikhlas mencapai nikmat-Mu
Aku gadis kertas yang usang

berusaha mengkonvensionalkan ajaran rasul
namun masih megikatkan dengan kehalalan
Nafas..
Allah...
Rasul...
Ajarkan gadis kertas ini dalam hal keikhlasan

Sumber ilustrasi: forum-tekaje.blogspot.com

Jumat, 08 Agustus 2014

Ulasan Cerpen "Kurindu Dia" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi)

Putri adalah seorang wanita karir yang harus meninggalkan mimpi duniawinya karena sakit keras yang ia derita; tumor otak. Ia tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit. Beruntung, ia sadar Tuhan tidak meninggalkannya. Di tengah gejolak batin, Putri mendapat hidayah-Nya.

Beberapa koreksi mengenai EYD dan penulisan. Kata-kata berikut ini: "orang tuaku", "akupun", "siapapun", "disini", "namaMu", "MerindukanMu", "namaMu", "dariNya", "Al-Qur'an", "satu-persatu", dan "solat", yang benar ditulis: "orangtuaku" (gabung), "aku pun" (terpisah), "siapa pun" (terpisah), "di sini" (terpisah), "nama-Mu" (perhatian tanda strip), "merindukan-Mu", "nama-Mu", "dari-Nya", "Alqur'an", "satu per satu", dan "salat".

Sedikit catatan untuk penulisan partikel "pun". Kata-kata berikut ini adalah yang penulisannya wajib disatukan dengan "pun", yaitu: "andaipun:, "bagaimanapun", "kalaupun", "adapun", "meskipun", "walaupun", "kendatipun", "ataupun", "biarpun", "maupun", "sekalipun", dan "sungguhpun". Selain dua belas pengecualian ini—seperti "apa pun" atau "siapa pun" (yang di dalam cerpen ini penulisannya digabung) dan lain sebagainya—mesti terpisah.

Perhatikan pula masing-masing fungsi tanda baca (di sini ada banyak kesalahan antara tanda titik dan koma). Penulisan kata panggilan untuk subyek (seperti "Nak", "Pak", "Bu", "Kakak", dan lain sebagainya--juga nama seseorang) harus diawali huruf kapital.

Saran untuk penulis ke depan agar menggali kedalaman alur di cerpen Anda. Cerpen ini terasa kurang menggigit karena terlalu banyak konflik batin. Tidak ada salahnya sebenarnya, namun agar cerpen tidak terasa monoton, Tim FAM menyarankan: mungkin bisa saja kita tulis bagaimana tokoh Putri mulai merasakan penyakit itu menyerangnya, lalu ia berproses dari seorang yang tadinya mencintai kehidupan dunia menjadi tebal iman setelah sakit.

Baik, tetap semangat dan jangan berhenti menulis!

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Kurindu Dia
Oleh : Yessi Arsurya IDFAM2200M

Jika saja aku masih punya secercah waktu, kan kuukir indah namaMu dalam relung hatiku.

Jika saja aku cepat tersadar, betapa hausnya cinta yang selama ini kucari ternyata ada padaMu.

Jika saja aku mengerti, Kau merindukanku dan akupun juga MerindukanMu, duhai Rabbi....

Akral tubuhku masih hangat, tak sedingin sebelumnya. Pucat membiru, membuat orang-orang sekelilingku menjadi sedih. Tak pernah kusalahkan takdir ini, hanya saja aku tak sanggup harus melihat mereka, terutama orang tuaku yang masih tampak segar bugar itu sayu wajahnya. Sedih melihat kondisi anaknya yang kesakitan dan semakin kurus saja, nyaris meregang nyawa.

Tak kukira akhir hayatku akan seperti ini, berlalu begitu singkat. Akankah aku meninggalkan segala yang telah kuusahakan selama ini? Aku masih muda dan cantik, pengusaha wanita termuda di kota Padang. Sedikit lagi aku nyaris mencapai ambisiku, menjadi direktur di perusahaan tekstil keluarga dan melebarkan sayap di beberapa daerah di Indonesia. Nyaris saja, kalau bukan karena penyakit yang datang tiba-tiba ini, barangkali aku sudah mencapainya.

Ribuan pikiran aneh berkelebat dalam benakku, memaksaku untuk mengulang lagi roda waktu masa lalu. Bak lintasan cahaya, semua kenangan itu datang silih berganti, masih dalam tidur lelapku di ranjang rumah sakit, koma beberapa saat yang lalu.

“Putri, haruskah kau menyerah  dengan penyakitmu? Bisakah kau merelakan hasil jerih payahmu selama ini tersia-siakan begitu saja?” Ah, lagi-lagi banyak pertanyaan yang berserakan dalam otakku. Memoriku mencuat semua. Aku bingung, tak tahu harus memulai dari mana. Apakah yang harus aku pikirkan saat ini? Tindakan apa yang harus aku ambil? Kepalaku pusing, sakit sekali.

“Nak, usahlah kau pikirkan urusan kantor, istirahatlah nak, Mak lihat kau seperti sedang banyak pikiran,” Mak berkata pelan padaku, seolah mengerti dengan apa yang aku pikirkan.

“Iya Mak, kepalaku pusing sekali, banyak hal yang aku ingat dan lebih banyak yang aku lupa, aku ingin mengingatnya, Mak.”

“Jangan kau bebani pikiranmu nak, istirahat dan berdzikirlah, ingat Allah mudah-mudahan sakit kepalamu berkurang nak,”kata Mak sambil meneteskan air mata, kulihat mata Mak sembab.

“Iya Mak, temani Putri disini Mak,”jawabku lemah.

Kupejamkan mata, tetap saja tak bisa tidur. Kepalaku sakit seperti jutaan kilo batu menindihnya. Aku tak ingin membuat Mak khawatir dengan mengeluh, kutahan sekuat tenaga sakit ini. Tumor ganas di otakku ini seolah tak mau mengalah padaku, semakin hari semakin menjadi. Aku takut, suatu hari nanti aku tak dapat mengingat siapapun, termasuk Mak. “Ya Tuhan, jangan engkau ambil satu-satunya ingatanku akan Mak dan Ayah,”pintaku dalam hati sambil menangis tersedu-sedu. Aku ingat pesan Mak tadi, aku harus banyak berdzikir pada Tuhan.

Kucoba berdzikir, berkali-kali, kuulang-ulang dan kurasakan kedamaian dalam jiwaku. Rasanya sudah lama sekali aku tak berdzikir seperti ini. Hatiku tentram, fokusku pada sakit di kepala sedikit demi sedikit terhilangkan dengan dzikir. Dalam lantunan kata tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, kutemukan kekuatan jiwa yang dahsyat. Tak bosan-bosannya kuulangi, semakin kuulang semakin menyejukkan, menjadi candu diriku. Tak lagi kudengar hiruk pikuk di sekeliling ruang rawat inapku. Ada apa ini? Apakah aku sudah berada di dunia lain?

Lamat-lamat tampak sinar putih datang dari atas kepalaku. Kuhadapkan kepalaku ke atas, tak bisa, terlalu kaku untuk digerakkan. Hanya siluet bayangan yang tampak, kaligrafi. Kuamati satu-persatu, sulit bagiku untuk membacanya karena sudah lama sekali aku tak membaca tulisan arab. Kueja satu-persatu, ajaibnya itulah kalimat dzikir yang sering kubaca. Ya Allah, ya Tuhanku, dengan lirih suaraku bergetar. Terlalu kelu lidahku tuk menyebut namaMu. Semakin kusebut semakin kuat getaran jiwa ini, tak terasa air mataku mengalir deras. Aku merindukan Tuhanku, sangat merindukannya setelah selama ini aku berpaling cukup lama dariNya. “Ya Allah, apakah penyakit ini adalah bukti betapa Engkau sangat mengasihiku? Memberikan peringatan untukku yang selama ini terlena dengan dunia?”

Terdengar pelan lantunan ayat Al-Qur’an, perlahan-lahan kesadaranku mulai kembali. Kubuka mata dan tampak Mak duduk di seberang kasurku, mengenakan mukena berwarna putih sambil membaca kitab peraknya. “Mak....,” panggilku pada Mak, entah kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan Mak. Tak ingin pisah jauh-jauh darinya.

“Iya nak, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” jawab Mak sambil mengakhiri tilawahnya, meletakkan dengan rapi kitab peraknya di atas meja tepat di sebelah kanan ranjangku.

“Mak, baru siap solat ya? Ajari aku tayamum Mak, aku juga ingin solat.”

“Iya nak, Alhamdulillah, kau ingin solat nak? Ayo Mak bantu,” jawab Mak, kulihat kerutan bahagia di wajahnya. Aku ikut senang jika Mak senang. “Maafkan aku Mak, baru kali ini aku bisa solat setelah sekian lamanya,” batinku.

Dalam gerakan solat dan bacaan yang tertatih-tatih kutemukan yang selama ini kucari. Dalam doa kupanjatkan syukur tak terhingga padaNya, memberikan cobaan yang berat bagiku. Akhirnya kutahu inilah kehidupan yang kucari, bukan dunia yang selama ini kukejar. Aku rindu bertemu dengan Rabbku suatu saat ini, dan ikhlas melepaskan semua hal yang kucintai selama ini, keluarga, perusahaan, dan sebagainya. Mudahkanlah aku ya Rabb, menggapai cintaMu. Aamiin. []

Rabu, 09 Juli 2014

Novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” Ditulis Seorang Guru SD di Padang

PADANG – Obsesi Refdinal Castera, S.Pd., guru SD Negeri 28 Padang Sarai, Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, menerbitkan novel akhirnya terwujud. Novel trilogi perdananya berjudul “Meniti Buih Menerobos Tantangan” diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, dan melengkapi kesibukan keseharian “Pak Guru” ini.

Terbitnya novel itu, dia berharap, dapat “memperkaya” khasanah kesusastraan di Tanah Air, khususnya di Ranah Minang, terutama untuk para pembaca di kalangan pendidikan atau guru. Lewat sastra, ia ingin berbagi kisah tentang berbagai pengalaman hidup yang pernah ia jalani.

“Novel ini adalah novel trilogi buku 1 di antara 2 novel lagi yang insya Allah  dalam waktu tak berapa lama lagi, juga menyusul terbit,” ujar Refdinal Castera, Ahad (6/7), di Padang.

Dia mengungkapkan, keinginan menerbitkan novel dilatarbelakangi “proses kreatif kepenulisan” yang telah membentuk dirinya selama ini. Ia tidak hanya berprofesi sebagai guru, tapi juga penulis di media massa.

Alumni SMP Negeri 3 Lubuk Basung (1983), SPG Negeri Jambi (1986) dan Universitas Negeri Padang (2005) ini menyebutkan, novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” berkisah tentang kegigihan seorang anak muda bernama Agus mengurus lima orang adik yang berasal dari keluarga petani dan tinggal di daerah terisolir. Kemiskinan membuat jiwa Agus gelisah.

Warga kampungnya suka mengurusi urusan orang lain. Agus merasa tidak nyaman. Tamat SMP, ia melanjutkan pendidikan ke SPG di kota yang jauh dari orangtua. “Untuk apa jauh-jauh sekolah ke kota, di kampung juga ada sekolah! Kalau sakit nanti, berapa biaya melihatnya, belum lagi jarak yang jauh,” ejek orang kampung kepada Agus.

Berkat tekad yang kuat, impian Agus kuliah terwujud. Namun, kiriman wesel dari orangtuanya tak cukup, dan memaksanya berjualan koran di terminal bus dan pasar. Tapi persoalan hidup yang berat, membuat kuliahnya putus di tengah jalan. Dikabarkan berhenti kuliah, teman-teman kuliahnya yang juga penjual koran tak percaya. Mereka ingin meringankan beban hidup Agus. Di bagian-bagian berikutnya, banyak konflik bermunculan yang mengaduk-aduk perasaan pembaca.

“Saya tertarik membaca novel ini, karena ditulis seorang guru SD yang sibuk mengajar dan mengisi rapor siswa tiap semester. Bila penulis atau wartawan mampu menulis novel, itu sudah biasa. Tapi, seorang guru SD yang menulis novel, itu baru luar biasa. Mudah-mudahan, semakin banyak guru terinspirasi menulis novel di negeri ini,” ujar Muhammad Subhan, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Ali Dasni, Praktisi Pendidikan di Padang menyebutkan, menulis menjadi sesuatu yang asyik jika ditekuni secara bersungguh-sungguh. Refdinal Castera membuktikan itu. “Suatu bukti bagi guru bahwa menulis itu tidak sulit. Novel ini sebuah karya inspiratif, inovatif dan layak dibaca guru,” ucap Ali Dasni.

Aliya Nurlela, penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” yang juga Sekjen FAM Indonesia menyebutkan, novel ini membangun semangat pembaca untuk berani mewujudkan cita-cita, mimpi, dan menerobos tantangan seberat apa pun itu.

“Sangat edukatif. Layak dibaca siapa saja. Sebagai guru dan penulis yang tulisannya telah dimuat dibanyak media massa, saya ikut berbahagia atas lahirnya novel ini,” ujar Aliya Nurlela.

Salah seorang pembaca yang juga Guru Kementerian Perindustrian/Kepala SMK SMTI Padang (2009-2013), Anurgaha, mengatakan, banyak hikmah yang dapat diambil pembaca dalam novel ini.

“Sebuah inspirasi yang penuh makna dari perjalanan hidup seorang anak manusia dengan segala eksistensi dan tantangannya,” ujarnya.

Sementara itu, Jhon Nedy Kambang, seorang Jurnalis TV Nasional dan Penulis Buku menyambut baik terbitnya novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” karya Refdinal Castera. Menurut Jhon Nedy, ia telah mengenal “Pak Guru” Refdinal Castera sejak masih bekerja di Mingguan Canang Padang di tahun 90-an.

“Beliau pernah menjadi salah satu ‘motor’ halaman khusus sekolahan di koran itu. Cerpen, puisi dan beritanya sudah berserakan sejak lama. Lahirnya novel ini membuktikan bahwa beliau tidak hanya seorang guru, tapi juga sebagai novelis yang masih produktif,” tambahnya. (fam)

Ulasan Cerpen "Lili Ungu untuk Sarah" Karya Maryam Syarief (FAMili Bukittinggi)

Cerpen ini bercerita tentang Randi dan Sarah yang menikah tapi tak pernah berada dalam satu kamar. Randi terpaksa menikahinya karena ingin membahagiakan kedua orangtuanya, padahal ia sendiri belum siap menikah. Ia juga tidak mencintai Sarah, wanita bercadar itu. Sementara, di sisi lain, Sarah justru berharap suatu saat pernikahannya dengan Randi berjalan sebagaimana mestinya. Ia tetap sabar menanti sampai sebulan lamanya.

Sarah sering mendapat kiriman bunga lili ungu dari lelaki misterius, setiap kali Randi tak ada di rumah. Sayangnya, ia tak bisa terus-terusan menerima kiriman bunga kesukaannya itu, karena ia tahu tak pantas seorang wanita yang telah bersuami mendapat hadiah spesial dari lelaki yang bukan suaminya. Ditunggu-tunggu, tak pernah terkuak siapa pengirim bunga itu, sampai suatu waktu pembicaraan Randi dengan pembantu mereka membuka segalanya.

Ternyata selama ini Randi memang tak menyukai Sarah dikarenakan cadar yang menutupi wajahnya. Ia tak tahu apakah wanita yang dinikahinya itu cantik atau buruk rupa. Tapi tak sekadar itu saja, ia belum siap karena masih harus menyelesaikan kuliah. Randi mencoba menguatkan hati dengan terus berdoa kepada-Nya. Selama ini, dialah yang mengirim bunga lili ungu itu untuk Sarah karena ingin menyenangkan hatinya sebagai sosok lain, bukan sebagai Randi. Karena mungkin ia tak tahu cara menyenangkan hati wanita yang sama sekali tak ia cintai.

Di akhir cerita, semua misteri terbongkar. Pesan yang didapat pun kuat, yakni janganlah kita memandang sesuatu hanya dari bungkus luarnya saja. Lihatlah lebih dekat lewat hati, sebelum menilai sesuatu itu baik atau butuk untuk kita. Sayangnya, untuk ukuran sebuah cerpen, tulisan ini terlalu panjang. Dan di hampir setiap bagiannya terdapat banyak kesalahan dari segi penulisan/EYD.

Kata-kata seperti "nafas", "karna", "diantara", disini", "mengawasi ku", "ku kira", "tau", "kearah", dan masih banyak lagi kesalahan penulisan kata yang bisa kita temukan dalam tulisan ini, sebaiknya ditulis menjadi: "napas", "karena", "di antara", "di sini", "mengawasiku", "kukira", "tahu", "ke arah". Sedikit catatan mengenai penggunaan kata depan "di-" sebagai kata keterangan tempat; penulisannya harus terpisah dengan kata yang mengikutinya, karena bila disatukan akan menjadi kata kerja pasif.

Beberapa kata seperti "nggak", "aja", "gitu", "biarin", "nyariin", dan sejenisnya--yang bukan berasal dari bahasa Indonesia baku--sebaiknya diketik dengan huruf miring. Penulisan huruf depan pada nama, nama panggilan, dan sebutan bagi seseorang dalam cerpen ini seperti "sarah", "randi", "bi titi", "pak nardi", dan "anda", sebaiknya diawali dengan huruf kapital (huruf besar). Perhatikan pula fungsi semua tanda baca agar dalam setiap penulisan kesalahan dapat dikurangi.

Tetap semangat dan terus belajar. Jangan henti menulis.

Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING FAM INDONESIA]

Lili Ungu untuk Sarah
Maryam Syarief IDFAM1975M

Kring.. kring.. kring
“Assalamu’alaikum Sarah…?”
“Wa’alaikum salam umi..”
“Bagaimana kabar kamu nak?”
“Alhamdulillah mi.. baik”
“gimana dengan suami kamu? Lagi ngapain?”
“Insyaallah kakak sehat mi, sekarang kakak lagi keluar!”
“kalian berdua hubungannya gimana?”
“..nh..  baik kok mi, kakak orangnya baik sama sarah. Umi tenang aja, nggak usah mikirin sarah lagi, kan udah ada kakak yang ndampingin sarah. Umi jaga aja kesehatannya sama abi disana ya..!”
“iya nak.. umi dan abi selalu mendoakan mu semoga hidupmu bahagia.. titip salam sama suami kamu kalau pulang nanti..”
“Insyaallah mi..”
“udah dulu ya nak, assalamu’alaikum..”
“wa’alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh..”Telepon itu kembali diletakkan sarah diganggangnya.
“non.. non sarah..”  dari halaman depan bik tati setengahberlari menuju ketempat sarah duduk.
“ada apa bi..” Tanya sarah dengan sedikit penasaran.
“ini loh non, ada bunga lili warna ungu lagi buat non sarah. Ada tulisannya juga non,” bi tati menjelaskan sambil menyerahkan kiriman bunga yang bertuliskan  TO : SARAH.
“dari siapa bi..?” sarah bertanya dengan perasaan bingung.
“bibi juga nggak tau non, tadi pak nardi yang ngasih ke bibi. Waktu bibi nanya sama pak nardi katanya, yang tukang ngantar bunga itu bilang dia nggak tau, trus dia cuma disuruh ngantarin aja non.”
“ya udah.. makasih ya bi”
“sama-sama non”  sambil berlalu menuju dapur.
Sarah menatap dalam-dalam setangkai bunga lili berwarna ungu yang sangat menarik yang ia genggam. Dalam hati ia bertanya-tanya, “siapakah yang telah mengirim bunga lili ungu ini untuk ku?”. Ia pun berjalan mambawa bunga itu menuju kamarnya.
Sarah mencoba menyusun satu persatu bunga yang dikirim untuknya ntah dari siapa. Ini adalah bunga kelima yang ia terima semenjak tujuh hari pernikahannya. Ia mencoba membuka lipatan kertas kecil yang berdampingan dengan bunga lili ungu itu. Ia membaca untaian kata yang tertulis rapi.. “cintaku padamu hariini bertambah seperti bunga ini.”  Tulisan itu membuat sarah semakin bingung, siapakah yang mencintai dirinya tanpa ia pernah mengenal laki-laki kecuali suaminya. Yang itu pun, berkenalan karena pernikahan antara mereka berdua. Sarah menutup kembali lipatan kertas itu, ia bergumam dalam hatinya “ini bukanlah bunga untukku, apa lagi tulisan-tulisan ini sungguh tak pantas jika kata-kata ini ditulis untuk diriku. Sekarang aku tidak sendiri lagi, aku sudah punya suami. Kalau kakak tau apa dia akan marah?  Ya Robbi.. kuatkan hamba-MU ini.” Sarah menghela nafasnya sambil melepaskan dirinya dari kumpulan bunga yang tak jelas siapa pengirimnya.
Sarah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00 sore. Sebentar lagi ia harus kedapur masak buat makan malam nanti.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Adzan telah berkumandang, sarah pun berjalan menuju ruangan disudut kamarnya untuk mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
        Setelah melipat mukenah, sarah segera pergi keluar kamar menelusuri tiap-tiap jalur tangga yang ia lewati untuk menuju dapur. Sesampainya didapur, sarah segera memulai tugasnya sore ini yaitu memasak. Dengan membaca basmalah ia awali pekerjaannya, dan mulai mengiris,menghidupkan gas, dan menggoreng.
“huh.. Alhamdulillah selesai juga..”tangannya mencoba menyapu tetesan keringat yang membasahi dahinya.
Suatu tugas yang lumayan berat, tapi asyik bila dilakukan dengan ikhlas karna Allah. Itulah sarah, orang yang mampu mengatur waktunya hingga pekerjaan dapat selesai dengan lancar. Setelah merapikan dapur, ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah capek memasak.
      Waktu telah menunjukkan pukul 20.12 malam. Itu berarti sebentar lagi akan ada yang mengetuk pintu rumah yaitu kakak. Walau sebenarnya kuliahnya telah selesai sejak siang tadi, tapi itulah jadwal pulang yang biasa dilakukannya.
“Brum… Brum…” itu dia suara motornya.
Sarah membuka sedikit tirai jendela kamarnya untuk melihat keluar sana. Tampaklah seorang pria turun dari motornya dan masuk ke dalam rumah. Ia pun menutup tirai itu kembali.
“apa kakak udah makan ya? Mudah-mudahan kakak mau makan masakan ku!” sarah sedikit merenung disamping meja. Begitu besar perhatiannya pada kakaknya, walau kakaknya tak begitu memperdulikan dirinya, tapi ia tak memikirkannya. Ia tetap sayang.
                                       * * *
   Randi masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung merebahkan badannya diatas tempat tidurnya. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. “sekarang aku tidak lagi seorang bujangan. Statusku kini telah berubah menjadi seorang suami. Aku sudah mempunyai istri, tak seperti dulu lagi yang bebas mau apa aja tanpa ada yang harus dipikirkan.”  Menulis kata-kata didalam hatinya.. mencoba mengkaji kehidupannya..
“aku masih bingung, kenapa aku harus tinggal satu rumah tapi beda kamar dengan istriku? Robbi.. tunjuki aku apa arti semua ini, apa aku telah salah .. tapi aku tak bisa berbohong”  lirihnya.
Ia mulai memejamkan matanya hingga terhanyut ke alam mimpinya.
                                 * * *
Ia terduduk karena tersentak dari tidurnya. “Subhanallah.. aku bermimpi lagi bertemu dengan bidadari itu. Wajahnya bagaikan rembulan yang terang membuat mataku kaku terpana. Senyumannya indah, seindah bunga yang mekar merekah cerah. Matanya menatapku sepertiseorang kekasih bertemu dengan pujangga cintanya. Ingin rasanya aku memegang tangannya walau hanya berkenalan.” Randi tersenyum diatas tempat tidurnya .
Ia masih membayangkan wajah indah bak bidadari yang baru saja hadir dialam mimpinya.
   Ia lihat jarum jam, yang masih menunjukkan pukul dua malam. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat menghadapkan wajah pada sang penguasa alam, penguasa cinta.
  Dengan penuh harap ia menegadahkan tangannya sambil berdo’a.
“Ya Ilahi Robbi.. ampunilah hamba-Mu ini, begitu banyak kesalahan hamba. Sekarang aku sedang dudukbersimpuh dihadapan-Mu berharap akan petunjuk dari MU. Ini adalah yang kelima kalinya hamba bertemu dengan seorang bidadari didalam mimpi hamba. Ya Allah… hati hamba seakan terpaut kuat pada bidadari itu. Walau hanya mimpi, tapi hamba merasa itu semua nyata dan begitu dekat. Akankah Engkau temukan hamba dengannya. Engkaulah yang maha pemurah lagi kuasa, jika Engkau berkehendak maka semua akan terjadi.”
Ia begitu khusyu’ dalam do’anya ditengah hembusan angin yang membuat malam makin larut dan membuai  insan yang sedang terlelap diatas tempat tidurnya. Matanya menangis penuh haru bermunajad pada Robb-nya. Ia meraih sebuah kitab yang berhiaskan khot dhiwani didepan sampul yang berwarna biru. Perlahan dibukanya halaman yang telah dibatasi dengan untaian tali-tali mungil. Terdengar suaranya mengalun lembut membaca setiap baris-baris kalam illahi. Air matanya jatuh menetes mengiringi senandung lantunan al-qur’an itu. Sambil menunggu waktu subuh, ia membaca buku diatas sofa.
                                                   *  * *
Di lain tempat ternyata sarah juga sedang bermunajad kepada Robb nya. Suara isakan nya terdengar jelas ditengah heningnya malam. Ia sedang menegadahkan kedua tangannya berdo’a kepada sang Robb. Setelah selesai berdo’a, sarah mengambil sebuah Al-qur’an dan membuka lembaran-lembaran Al-qur’an tersebut tuk kemudian membacanya. Suaranya begitu merdu, menyejukkan hati yang mendengarkannya.
 Kini sepasang insan tengah bermunajat kepada Robb nya. Diruangan yang terpisah namun tak terlalu berbeda aksinya. Seperti telah bersepakat akan sama-sama bangun untuk sholat dan membaca kalamullah. Tapi itu semua tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu diantara mereka.
                                                     *  *  *
    Setelah sholat subuh Randi pergi mandi dan bersia-siap berangkat kuliah. Ia harus menyelesaikan study nya yang hanya tinggal 2 bulan lagi dan harus menyerahkan skripsinya.
   Dan Sarah juga mandi mempersiapkan diri untuk melakukan tugas-tugas yang telah menantikan kehadirannya kembali melakukan aktivitas harian nya.
  Setelah membersihkan rumah, Sarah duduk diberanda rumah. “ting..nong..” itu suara bel dari gerbang.
Terlihat pak nardi sedang membuka pintu gerbang. Tampak tengah berbicara dengan seseorang. Tangannya meraih sesuatu, terlihat ia tersenyum simpul dan kembali menutup pintu. Ditangannya telah bertengger setangkai bunga.
“itukan lili ungu, buat ku nggak ya?” Sarah sedikit terpenjarat, hatinya tengah bertanya-tanya.
“Assalamu’alaikum non sarah” pak nardi berupaya menyapa tatapan sarah yang duduk seperti tengah melamun.
“non.. non.. hallo non sarah” terlihat tangan pak nardi melambai-lambai menyadarkan lamunan sarah.
“eh.. i.. iya ada apa pak?” sarah tersentak.
“ngelamun ya non..? siang-siang kok ngelamun sih non”
“ah .. nggak kok pak”
“Nih non buat non”
“Dari siapa pak bunga lili ini?”
“Bapak juga nggak tau non. Tiap bapak tanya yang ngantar jawabnya, saya cuma disuruh ngantar pak, tanpa harus tahu dari siapa, kecuali untuk siapa” pak nardi berucap menirukan gaya sang pengantar bunga, mencoba menjelaskan pada sarah.
“ya udah pak, besok kalau bunga ini datang lagi jangan diambil ya pak. Bilang saya nggak mau nerima bunga-bunga ini lagi, suruh yang ngantar bilang sama atasannya. Biar dikasih tau sama yang ngirim bunga ini ya pak. Masak ngirim sama orang yang udah punya suami, kalau kakak tau gimana?.”
“baik non, insyaallah pesan non bapak sampaikan sama pengantar bunga ini besok. Kalau begitu bapak ke depan dulu non.”
“oh.. iya pak terima kasih ya pak.”
“sama-sama non” pak nardi kembali ke tempat ia bekerja tepatnya di dekat gerbang masuk.
Sarah yang masih memegang setangkai bunga itu mencoba membuka perlahan kertas yang selalu ada terselip disamping bunga itu. Ia mencoba mengeja kata-kata bermutiara syair-syair indah yang ditulis untuk dirinya. “sarah sengajaku kirim bunga ini pada siang ini. Karna aku tau sekarang kamu duduk-duduk mungkin karna capek. Aku harap kamu senang.”
“ kata-kata ini akan membuatku bahagia sekaligus senang apabila bunga ini kakak. Tapi aku jangan ngimpi deh..” sarah menggeleng-gelengkan kepalanya seperti meniadakan sesuatu.
“huh..” desahan nafasnya mengalun lembut menyingsih jiwanya yang paling meriah. Dalam hati ia berucap “semoga ia tak lagi mengirimi bunga ini untuk ku.karna ini akan membuat aku sedih juga berharap. Sedih karna ini bukan dari orang yang ku inginkan. Berharap kalau-kalau orang itu adalah kakak, tapi itu hanya harapan”  ujarnya.
Sarah kembali menyusun bunga lili ungu yang baru saja ia terima. Sarah meletakkannya diantara bunga-bunga yang serupa dengan bunga yang sebelumnya.
“sampai kapankah aku harus menerima bunga dari orang misterius ini. Kata-katanya begitu terasa mengenal diriku dan selalu mengawasi ku. Padahal aku disini sendiri tanpa ada yang memandangi ku, karna aku berada di dalam ruangan atau pun rumah yang didalamnya hanya ada aku, bi tati dan pak nardi,itu pun hanya di pos satpam. Jadi siapa sih sebenarnya kamu wahai sang pengirim misterius” ia begitu serius menatap bunga-bunga itu dengan penuh penasaran.
     Esok harinya Sarah menanti kedatangan si pengantar bunga, berharap akan tau siapa yang telah mengirimnya bunga tanpa alfa setiap harinya dan tak lupa dengan kata-kata mutiaranya. Tak lama menunggu akhirnya bel gerbang pun berbunyi. Ia pun memberi kode pada pak nardi agar membuka pintu gerbang. Pak nardi mendorong pintu itu, pak nardi mulai menyapa orang ada dibalik gerbang itu dan memang ia adalah pengantar bunga. Pak nardi mencoba menjelaskan pada pengantar bunga kalau majikannya nggak mau menerima bunga-bunga ini lagi.
“pak tolong terima bunga ini, kalau bunga ini nggak bapak terima nanti saya bisa dipecat karna bunga ini nggak diambil sama orang yang dituju. Tolong pak bilang pada majikan bapak, mohon bunga ini diterima saya mohon” sang pengantar meminta pada pak satpam.
 Sarah merasa kasihan, dan akhirnya menerima bunga itu lagi. Ia bawa bunga itu ke kamarnya, lalu ia membaca kertas kecil itu lagi *sarah engkaulah bunga cinta yang sangat tabah”
“maksudnya apa sih..” sarah mendesis. “Ya Allah berikan aku petunjuk..”
*  *  *
“Brum... brum...” Itu suara motor Randi.
“tumben jam segini aden udah pulang kan baru jam lima sore. Biasanya habis isya baru pulang” bi tati bertanya-tanya menyaksikan Randi masuk ke rumah.
“lagi ngapain bi” sapa randi dengan senyuman.
“ah aden nih, ya lagi berdiri sambil nengokin aden” jawab bi tati. Mata randi menerwang kearah kolam renang.
“bi itu siapa?” tanyanya.
“ah si aden lupa ya, itu non sarah den.”
Diperhatikannya sarah yang seperti sedang melamun diatas lambaian buaian ditepi kolam.
“lagi ngapain dia bi? Kok duduk disana kayaknya aneh gitu?”
“ah.. aden non sarah kayaknya sedih mungkin, aden tengok aja kesana. Non sarah lagi nangis matanya berlinang air mata.”
“masa’ sih bi?”
“aden bibi boleh nggak ngomong sedikitaja sama aden?”
“ya boleh bi, emangnya ada apa bi?”
“emangnya kenapa sih aden sama non sarah? Udah satu bulan lebih aden sama non sarah menikah tapi kok masih janggal aja bibi nengok.”
“janggal apanya bi?” tanya randi dengan heran.
“den.. yang pertama kenapa kamarnya beda? Setau bibi yang namanya suami istri tinggalnya ya satu kamar, bahagia. Tapi bibi tengok ngomong atau ketemu aja nggak pernah bibi lihat tu! Emang ada apa toh den? Coba cerita sama bibi, siapa tau bibi bisa bantu.  Soalnya bibi juga udah perah ngelamin masa-masa ini den.”
Randi terlihat sedikit menundukkan kepala, memikirkan sesuatuuntuk diucapkannya. “bi boleh saya cerita?”
“ya boleh lah den.”
“sebenarnya udah lama saya pendam ini semua bi, tanpa ada orang yang tau ceritanya.” Randi menarik nafas dalam-dalam membuka kata-kata dan menceritakan suatu kisah pada bi tati.
“bi udah sebulan lebih saya nikah, tapi pernikahan itu seperti dipaksakan bi.” Randi sudah mulai menjelaskan kisahnya.
“maksud aden apa?” tanya bi tati dengan penuh heran.
“bi papa, mama menyuruh saya menikah. Padahal saya masih kuliah, Cuma tinggal beberapa bulan lagi, tapi demi mereka saya menerimanya bi. Menikah dengan wanita yang tidak saya kenal siapa dia, wajahnya semuanyalah bi.”
“jadi aden nikah Cuma karna papa dan mama?.”
“iya bi.. demi melihat mereka bahagia saya nurut aja.”
“den.. tapi nggak harus mengorbankan perasaan orang lainkan den! Aden nggak pernah mikirin gimana perasaan non sarah. Selama sebulan hanya harus bersedih den, tanpa ia pernah mengeluh dan sebagai nya. Yang aden lakukan hanyalah diam-diaman tanpa ada penjelasan untuk non sarah supaya dia bisa paham. Dia punya perasaan den..!” bi tati mebcoba menjelaskan nya.
Randi tertekun mendengar penjelasan bi tati yang membuat jiwanya terbuai. “tapi dia sepertinya paham bi, ketika saya tidur dikamar saya, dia nggak pernah nanya.”
“diam bukan berarti nerima den.. bisa jadi non sarah nggak mau nanya karna malu. Dia nggak pernah kenalan trus main nanya-nanya aja, ya malu lah den. Apa harus pemikiran aden dan non sarah sama?. Den.. dari pada aden nyiksa non sarah seperti ini, lebih baik aden biari non sarah sedikit tenang. Dari pada hidup yang tak jelas arah himbauannya!”
   Dahinya semakin berkerut memikirkan kata-kata bi tati. Ia mencoba meresapi semua petuah bi tati. “lebih baik aden piker-pikir dulu, coba jelaskan sama non sarah dan cari jalan yang terbaik untuk aden, non sarah, papa dan mama. Kalau gitu bibi kebelakang dulu den..”
“iya bi, makasih banyak ya bi”
“sama-sama den”
 Randi kembali melihat sarah yang masih duduk berayun-ayun dibuaian itu. Ia berjalan menapaki tangga-tangga menuju ke kamarnya. “tre..k” pintu kamar ditutup randi. Ia duduk dimeja belajarnya, tangannya menopang kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Terngiang-ngiang dikepalanya kata-kata bi tati tadi yang ia dengarkan “lebih baik aden biarin non sendiri yaiti cerai, dari pada harus nyiksa jiwanya.”
“memang aku nggak pernah memikirkan bagaimana perasaan sarah. Apa dia sanggup menjalani ini semua, tanpa ada penjelasan sedikit pun dariku.”
   Air matanya mengalir dipipinya “oh tidak..” ia menghapusnya, ia memasukkan kesedihan yang dialami adiknya sarah, yang harus selalu bermenung tanpa ada teman. “haruskah aku melihat dia stress karna egoku.”
                        *  *  *
     Seperti biasa pagi-pagi sekali randi berangkat ke kampusnya dengan mengendarai motornya.
     Pagi ini sarah duduk di depan jendela kamarnya yang terbuka sambil menghirup udara segar. Ia mencoba menarik nafas panjang dan mengeluarkan perlahan. Dia duduk didepan meja yang terdapat laptop diatasnya. Tangannya menyentuh sebuah buku dan pena.
“dear.. diary..
Aku sedih kalau harus selalu begini, hidup tanpa ada kepastian yang jelas. Semuanya seperti hampa, akankah mungkin aku kuat menghadapi nya hingga tua nanti.
Robbi… beri jalan keluar untuk hamba-MU ini…
Menikah bagi kebanyakan orang adalah suatu ajang yang membahagiakan, tapi bagiku adalah sesuatu yang menyiksa jiwaku. Hatiku hampa, perih demi ayah dan bunda aku menikah. Melihat bahagia aku pikir juga akan membuat ku bahagia, tapi semua palsu ternyata tanggung jawabnya sangat besar tak seremeh yang ku kira. Kini aku sedikit sengsara karna cinta. Cinta.. apa itu..? aku masih belum bisa berjumpa dengannya, belum bisa merasakan separuhnya dan mengetahui arti cinta itu sendiri.
Haruskah aku melepaskan ikatan ini? Bagaimana hubungan ayah, bunda dengan papa, mama kak randi?
Ya Robbi.. tunjukilah aku, dalam kebimbangan ini tak ada yang bisa aku lakukan selain berdo’a pada-MU. Aku yakin Engkau akan memberikan jalan keluar untuk ini semua, ku pasrahkan pada-MU.”
  Kini Sarah dan Randi tengah memikirkan perpisahankah yang terbaik untuk mereka. Ini membuat mereka bingung.
                        *  *  *
tok.. tok.. tok“non sarah.. non” sarah segera membukakan pintu.
“eh bibi, ada apa bi?”
“non didepan ada laki-laki nyariin non sarah, katanya dia mau ketemu sama non. Trus dia juga suruh ngasihin ini buat non” bibi menyerahkan pemberian laki-laki yang ada didepan itu. Alangkah kagetnya sarah “inikan bunga lili ungu..”  yang biasa ia terima setiap harinya. Ini adalah kesempatan yang ia nanti-nantikan. Ia butuh penjelasan atas semua bunga dan tulisan-tulisan yang ia terima. Ia bergegas keluar kamar, turun berlari-lari sambil membawa semua bunga yang telah ia terima.
   Didepan rumah sarah melirik sana sini taka da siapa-siapa. Ia bingung, dicobanya memandangi tulisan yang ada pada bunga itu “aku ada ditaman samping rumah”  ia segera berlari menuju taman. Sesampainya di taman ia melihat sesosok pria yang membelakangi kehadirannya. Berjacket kulit biru, topi putih wajahnya tak terlihat. Sarah mulai menyapa laki-laki misterius itu.
“maaf anda siapa dan mau apa?” suara sarah terdengar sedikit kaku. Laki-laki itu masih diam
“permisi.. apa anda bisa mendengar?” sarah mengajukan pertanyaan kepada laki-laki itu.
“untuk apa kamu tau..” laki-laki itu mulai membuka suaranya. Sarah menarik nafasnya, mengatur detak jantungnya yang berdenyut kencang. “maaf tuan, apa tuan yang mengirim bunga-bunga ini semua?”
“ya.. benar”
“a.. a.. apaa maksud anda atas semua ini? Bukankah anda tak mengenal saya?”
“siapa bilang, saya sangat mengenal anda lebih dari apa yang anda tau!”
“tidak.. anda jangan bohong, hati-hati anda kalau bicara. Saya bisa mengadukan anda sama kakak saya.”
“apa anda berani jika saya suruh anda memanggil kakak sekarang juga.”
“di.. dia..”
“kenapa..? anda tidak akan bisa minta bantuan pada kakak anda.”
“siapa anda sebenarnya? Apa maksud anda mengganggu saya? Apa salah saya?”
“anda sangat bersalah..! karna anda telah membuat saya jatuh cinta pada anda!”
“a.. apa itu tidak mungkin, bagaimana anda bisa tau dan kenal saya”
“anda tidak perlu tau dari mana saya kenal anda. Saya tau bahwa anda dan suami anda tidak dalam keadaan baik. Lebih baik anda dengan saya saja.”
“tidak.. anda jangan asal bicara. Hidup saya baiki-baik saja, anda jangan ikut campur urusan rumah tangga saya”
“saya nggak pernah ikut campur, saya hanya ingin melihat anda tersenyum bahagia. Apa salah..?”
“tapi anda bukan siapa-siapa saya, nggak sepantasnya anda bicara seperti itu?”
“sarah.., apa kamu nggak sadar kalau suami kamu itu udah menyia-nyiakan kamu? Lebih baik kamu dengan ku saja, aku akan menyayangimu.”
Air mata sarah telah mengalir dipipinya “nggak.. walaupun begitu aku tetap mencintai kakak”
“mengapa kamu bisa mencintai dia dengan sikapnya yang tak peduli padamu? Apa dia juga akan mencintaimu nanti?”
“ya.. cinta tak kenal siapa pun, waktu maupun keadaan. Cinta itu akan tumbuh dihati seseorang dengan sendirinya.”
“apa yang membuat kamu mencintai dia?”
“karna dia telah dipertemukan dengan ku dan cinta itu secara tak diketahui tumbuh tanpa ada syarat”
“apa kamu nggak takut jika suami kamu tidak suka dengan penampilan kamu yang pakai cadar dan jilbab besar?”
“nggak.. cinta tak pernah kenal pandang. Cinta bukan karna wajah atau penampilan, tapi ia adalah rasa dihati untuk saling menerima apa adanya.”
“kenapa kamu sampai mau menikah dengan Randi?”
“tak ada yang perlu tau. Maaf saya nggak bisa bicara dengan anda lama-lama. Ini bunga-bunga anda, terima kasih harap anda bawa kembali!” sarah membalikkan badannya ingin beranjak pergi dari situ.
“tunggu..” suara itu membuat langkah sarah terhenti. Dia berdiri terpaku menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan pria misterius itu. Pria itu membalikkan badannya, tapi sarah yang membelakanginya.
“aku harap bunga ini kamu bawa lagi. Ini milikmu setiap hari aku kirim buat kamu dengan arti cintaku padamu. Setiap hari, setiap waktu bertambah dan sekarang cintaku telah bersemi sebanyak bunga ini. Dan sungguh sangat susah untuk membuangnya begitu saja.”
Sarah tetap melanjutkan langkahnya. Laki-laki itu mengejar dan menggenggam tangannya kuat. Sarah langsung membalikkan badannya sambil melayangkan tamparan kewajah laki-laki-itu. “pla..k” tamparan itu mendarat dipipinya, tangannya tak juga melepaskan genggaman tangan sarah.
Pria itu menghadapkan wajahnya setelah terpalingkan oleh tamparan dahsyat sarah yang merasa tidak pantas dipegang oleh orang yang bukan mahromnya. Sambil memegang  pipinya.
Sarah masih meronta minta tangannya dilepas, tapi pria itu menatap matanya yang begitu indah. Dengan wajahnya yang tertutup oleh balutan cadar yang membuat dirinya bertambah anggun.
Mata sarah tak mau mencoba menatap pria itu, ia sengaja merunduk untuk menghindar. Tapi tangan itu menarik dagunya keatas hingga wajahnya bisa menatap pria itu. Ketika matanya sampai diwajah pria itu ia mencoba membuang muka. Tapi sarah mengembalikan tatapannya kearah pria itu. Ia tatap dalam-dalam wajah itu wajah ini.. ini kakak, kak.. kak Randi.
Air matanya menetes dipipinya dan ia tersenyum simpul pada sarah. Mata sarah mulai berkaca-kaca tangannya mencoba meraba wajah itu dan benar itu memang kak Randi. Tangan dan tubuhnya lemah, tak sanggup berbuat apa-apa. Ia menggeleng-geleng dengan ini semua.
“nggak.. nggak mungkin” ucap sarah kaku.
“mungkin sarah, ini aku.. Randi yang selama ini mengirimu bunga lili ungu. Karna aku tau kalau kamu menyukai lili ungu.”
“hik... hik... hik...” isaka tangisan sarah mulai menghiasi suasana saat itu. Tangannya masih berada digenggaman Randi.
“Sarah dirimulah yang mengajarkan aku kesabaran cinta. Aku sadar bahwa aku dan kamu diciptakan tuk bersama, untuk apa didustakan lagi, cinta itu akan selalu tumbuh. Sekarang aku sudah tau kalau kamu mencintaiku. Apa benar kamu mencintaiku?” Sarah hanya diam tak menjawab.
Randi menarik sarah kedalam pelukannya, ia peluk sarah begitu erat. “sarah izinkanlah aku mencintaimu apa adanya.”  Sarah pun larut dalam pelukan Randi yang mengungkapkan cintanya.
                        *  *  *
Dikamar, sarah kini telah berdua. Randi tidak lagi tidur dikamarnya, ia sekarang tidur bersama dengan sarah.
Randi masih belum mengetahui bagaimana wajah sarah. Tapi ia tetap mencintainya dengan setulus hati.
Ketika randi pulang dari kuliah membawa hasil ujiannya. Ia memanggil-manggil adiknya. “sarah.. sarah.. dek” ia membuka pintu kamar dan masuk.
“subhanallah..” ia langsung bertasbih ketika melihat sesosok wanita yang ada di dalam kamar itu. Kertas yang ada ditangannya jatuh. Wanita itu hanya tersenyum manis dan mendekat padanya.
“bi.. bida.. bidadari..”
“kakak..” perempuan itu memanggilnya dengan sebutan kakak.
“kamu siapa?” randi bertanya dengan nafas yang masih tak beraturan. Permpuan itu menyambut tangannya dan mencium tangannya dengan penuh hormat.
“kakak ini sarah”
“bukan.. kamu adalah bidadari yang selalu menghiasi mimpiku”
“tapi ini benar-benar sarah kak..”
Air matanya jatuh, ia peluk gadis itu dengan penuh cinta.
“benarkah kamu istriku..? Betulkah ini sarah..?
Sarah asal kamu tau, ternyata bidadari yang selalu menghiasi mimpiku adalah wajah kamu. Ya Allah.. terima kasih telah engkau anugerahkan aku seorang bidadari.”
Sarah kini hidup dengan cinta yang makin tumbuh dihatinya dan Randi.

Sumber ilustrasi: gambaralam.com

“Mayat dalam Lumbung” Karya Siti Sofiyah Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Nasional

KEDIRI – Cerpen “Mayat dalam Lumbung” karya Siti Sofiyah (Semarang, Jawa Tengah) dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan diumumkan Kamis (3/7), bertepatan dengan Hari Sastra Nasional.

Pemenang kedua diraih Inung Setyami (Tarakan, Kalimantan Timur) dengan cerpen berjudul “Topeng Ireng”, dan pemenang ketiga diraih Irzen Hawer (Padangpanjang, Sumatera Barat) dengan cerpen berjudul “Ampek Sen”.

Selain menetapkan tiga pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih delapan cerpen yang diunggulkan, masing-masing berjudul “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta), “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban, Jawa Timur), “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember, Jawa Timur), “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya), “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon, Banten), “Lelaki yang Usai Mengembara” (Reddy Suzayzt, Yogyakarta), “Tapung Tawar” (Novaldi Herman, Pekanbaru, Riau), dan “Bawal” (Ikhsan Hasbi, Banda Aceh).

Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela, Jumat (4/7) mengatakan, sejak lomba dibuka pada tanggal 5 Mei 2014 dan ditutup 25 Juni 2014, panitia menerima 204 naskah cerpen. Selain pemenang utama, juga dipilih 40 cerpen nominator yang dibukukan bersama karya pemenang.

“Peserta terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum,” kata Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”.

Dia menyebutkan, lomba cerpen tingkat nasional 2014 itu digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Sastra Nasional. Hari Sastra ditetapkan pemerintah RI pada tanggal 3 Juli dan dideklarasikan sejumlah sastrawan Indonesia tahun lalu di Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Kami harapkan, lewat kegiatan ini Hari Sastra Nasional dapat lebih semarak, terutama untuk membudayakan menulis karya sastra di kalangan generasi muda,” katanya.

Sebagai tanda apresiasi kepada para pemenang utama, FAM Indonesia memberikan hadiah berupa uang tunai, paket buku, dan piagam penghargaan.

FAM Indonesia adalah komunitas penulis nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 yang kehadirannya ditujukan untuk menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

“FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan,” tambah Aliya Nurlela. (FAM)

Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Update: Kamis, 3 Juli 2014, Pukul 22.00 WIB

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bismillahirahmanirrahim. Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT dan ucapan terima kasih kepada Tim FAM Indonesia yang terlibat sebagai Dewan Juri Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja FAM Indonesia, maka, dari 204 naskah cerpen yang masuk, inilah cerpen yang dinobatkan sebagai Pemenang 1, 2 dan 3 serta 8 cerpen pilihan:

JUARA 1:
“Mayat dalam Lumbung” (Siti Sofiyah, Semarang-Jawa Tengah)

JUARA 2:
“Topeng Ireng” (Inung Setyami, Tarakan-Kalimantan Timur)

JUARA 3:
“Ampek Sen” (Irzen Hawer, Padangpanjang-Sumatera Barat)

DELAPAN CERPEN PILIHAN YANG DIUNGGULKAN:

1. “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta)
2. “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban-Jawa Timur)
3. “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember-Jawa Timur)
4. “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya)
5. “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon-Banten)
6. “Lelaki yang Usai Mengembara” (Reddy Suzayzt, Yogyakarta)
7. “Tapung Tawar” (Novaldi Herman, Pekanbaru-Riau)
8. “Bawal” (Ikhsan Hasbi, Banda Aceh)

HADIAH PEMENANG:

Juara 1:
Uang tunai Rp250.000,- + Paket Buku + Piagam Penghargaan

Juara 2:
Uang tunai Rp200.000,- + Paket Buku + Piagam Penghargaan

Juara 3:
Uang Tunai Rp150.000,- + Paket Buku + Piagam Penghargaan

40 CERPEN PILIHAN (3 PEMENANG DAN 37 CERPEN NOMINASI) DIBUKUKAN DAN SELURUH PESERTA MENDAPAT PIAGAM FAM INDONESIA.

Catatan:
Hadiah Pemenang akan dikirim paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah pengumuman pemenang. Kepada 3 (tiga) pemenang agar mengirimkan alamat dan nomor rekening ke email famindonesia@gmail.com. Sementara proses pengiriman Piagam (e_piagam) dilakukan bertahap, dimulai Jumat, 4 Juli 2014 hingga paling lambat tanggal 11 Juli 2014. Apabila setelah tanggal tersebut belum mendapatkan piagam, silakan konfirmasi ke email famindonesia@gmail.com dengan menyebutkan identitas lengkap.

Peserta yang belum beruntung memasuki tahapan puncak lomba ini jangan berputus asa, terus asah pena untuk mengikuti event-event lomba FAM berikutnya, maupun lomba-lomba menulis lainnya yang lebih menantang.

Demikian Pengumuman ini disampaikan, keputusan dewan juri bersifat mutlak, mengikat, dan tidak diadakan surat menyurat.

Pare, 3 Juli 2014

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Pengumuman 11 Nominator Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Update Rabu, 2 Juli 2014, Pukul 22.00 WIB

FAMili, apa kabar Anda malam ini? Semoga tetap sehat dan terus aktif berkarya. Seperti yang telah diumumkan FAM Indonesia sebelumnya, malam ini, diumumkan 11 Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Awalnya, FAM akan memilih 10 Nominator yang diunggulkan untuk meraih posisi Pemenang 1, 2 dan 3, namun dari seluruh naskah, ternyata ada 11 cerpen yang berpeluang menang. Maka, inilah nama penulis dan judul cerpen yang diunggulkan itu (nama diurut berdasarkan Abjad):

1.    Ade Ubaidil, Cilegon-Banten (Kisah Pemenggal Kepala)
2.    Ikhsan Hasbi, Banda Aceh (Bawal)
3.    Inung Setyami, Tarakan-Kalimantan Timur (Topeng Ireng)
4.    Irzen Hawer, Padangpanjang-Sumatera Barat (Ampek Sen)
5.    Ken Hanggara, Surabaya (Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang)
6.    Novaldi Herman, Pekanbaru-Riau (Tapung Tawar)
7.    Reddy Suzayzt, Yogyakarta (Lelaki yang Usai Mengembara)
8.    Siti Nurbanin, Tuban-Jawa Timur (Kisah yang Berakhir Bahagia)
9.    Siti Sofiyah, Semarang-Jawa Tengah (Mayat dalam Lumbung)
10.    Weda S. Atmanegara, Yogyakarta (Katemi Masuk TV)
11.    Yahya Rian Hardiansyah, Jember-Jawa Timur (Sebuah Harapan)

SELAMAT KEPADA PARA NOMINATOR YANG DIUNGGULKAN!

Tahapan selanjutnya, dari 11 cerpen yang terpilih di atas, akan diseleksi kembali untuk menentukan Pemenang 1, 2 dan 3 yang berhak memboyong hadiah yang disediakan FAM Indonesia. Para pemenang akan diumumkan Kamis (3/7), bertepatan dengan peringatan Hari Sastra Nasional.

Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak, mengikat, dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam aktif, salam literasi!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
Jl. Mayor Bismo, No. 28
Pare, Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Baca nama-nama 40 Nominator yang karyanya dibukukan (klik): https://www.facebook.com/groups/forumaishiterumenulis/permalink/758253960891418/

Pengumuman 40 Nominator Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Senin, 30 Juni 2014, Pukul 16.00 WIB

FAMili, apa kabar Anda di Bulan Suci ini? Semoga tetap sehat dan terus aktif berkarya. Seperti yang telah diumumkan FAM Indonesia sebelumnya, hari ini, Senin (30/6), FAM mengumumkan Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Dari 204 peserta yang mengirimkan cerpen terbaiknya, hari ini ditetapkan 85 Nominator yang berpeluang menjadi Sang Juara. Ke-85 Nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurut berdasarkan Abjad):

1.    Ade Ubaidil, Cilegon-Banten (Kisah Pemenggal Kepala)
2.    Anna Ilham, Malang-Jawa Timur (Selaksa Cinta Anak Negeri)
3.    Atriza Binti Umar, Malaysia (Insya’ Allah)
4.    D.A Akhyar, Banyuasin-Sumatera Selatan (Kedipan Mata Guruku; Menampung Uraian-Uraian Jawabku)
5.    Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat (Impian yang Menguap Bersama Senja)
6.    Dhara Nurani, Semarang-Jawa Tengah (Malaikat Kecil Itu, Alex)
7.    Dinu Chan, Sleman-Yogyakarta (Sekerat Harapan untuk Abid)
8.    Eliza Aldani, Padang Pariaman (Televisi Tua)
9.    Fadhilatul Hasnah, Padang-Sumatera Barat (Sepetak Tanah Makam Ayah)
10.    Farihatun Nafiah, Jombang-Jawa Timur (Inikah, Rumah)
11.    Hamdi Alfansuri, Pekanbaru-Riau (Perjalanan Humaliki)
12.    Ikhsan Hasbi, Banda Aceh (Bawal)
13.    Indah RZ, Tasikmalaya-Jawa Barat (Ikrar Seorang Iffah)
14.    Intan Lestari, Cirebon-Jawa Barat (Pengetuk Hati)
15.    Inung Setyami, Tarakan-Kalimantan Timur (Topeng Ireng)
16.    Irzen Hawer, Padangpanjang-Sumatera Barat (Ampek Sen)
17.    Istiqomah, Bangkalan-Madura (Dari Gelap kepada Cahaya)
18.    K. Himawan Kunarto, Magetan-Jawa Timur (Negeri Api)
19.    Ken Hanggara, Surabaya (Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang)
20.    Laras Wati, Blitar-Jawa Timur (Aku Ingin Menjadi Presiden)
21.    Lu’lu’ Olivia Ningrum Kusuma Dewi, Yogyakarta (Cita-Cita Sarjana Muda untuk Indonesia)
22.    Mulyono Ardiansyah, Medan (Sepenggal Harapan Chiko)
23.    Nisa Azizah, Kebumen-Jawa Tengah (Laskar Tikus Pasar)
24.    Novaldi Herman, Pekanbaru-Riau (Tapung Tawar)
25.    Nurbing, Kepulauan Selayar (Rahasia Lukisan Rifqah)
26.    Nur Muchamad, Kuningan-Jawa Barat (Enigma Biru di Tanah Abu-Abu)
27.    Rahayu Nur Hidayah, Gresik-Jawa Timur ((Mantan) Murid Minoritas)
28.    Rahmi Intan, Pasaman-Sumatera Barat (Kami, Hanya Kaum Marginal)
29.    Reddy Suzayzt, Yogyakarta (Lelaki yang Usai Mengembara)
30.    Rini Nurul Hidayah, Jakarta Timur (Pulang)
31.    Rizka Andarosita, Mojokerto-Jawa Timur (Pak Presiden, Abi Ingin Jadi Dokter!)
32.    Rosyida Marfuah, Malang-Jawa Timur (Noval)
33.    Sahanara, Jambi (Aku, Kamu dan Sebatang Pohon Ara)
34.    Siti Nurbanin, Tuban-Jawa Timur (Kisah yang Berakhir Bahagia)
35.    Siti Sofiyah, Semarang-Jawa Tengah (Mayat dalam Lumbung)
36.    Tri Yani, Agam-Sumatera Barat (Almamater)
37.    Tsalza Shabrina Ushfuriyah, Malang-Jawa Timur (Mutiara yang Terabaikan)
38.    Weda S. Atmanegara, Yogyakarta (Katemi Masuk TV)
39.    Wildan Fuady, Bandung-Jawa Barat (Sandal Jepit Warna-Warni)
40.    Yahya Rian Hardiansyah, Jember-Jawa Timur (Sebuah Harapan)

SELAMAT KEPADA PARA NOMINATOR!

Tahapan selanjutnya, dari 85 cerpen yang terpilih di atas, akan diseleksi kembali untuk menentukan 40 cerpen yang dibukukan FAM Indonesia. Ke-40 cerpen terpilih yang layak dibukukan akan diumumkan Selasa (1/7). Dari ke-40 cerpen itu, diseleksi kembali untuk menentukan Pemenang 1, 2, dan 3 yang akan memboyong hadiah yang disediakan FAM Indonesia. Pengumuman pemenang dilakukan pada Kamis (3/7), bertepatan dengan peringatan Hari Sastra Nasional.

Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak, mengikat, dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam aktif, salam literasi!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
Jl. Mayor Bismo, No. 28
Pare, Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Selasa, 08 Juli 2014

Pengumuman 85 Nominator Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Senin, 30 Juni 2014, Pukul 16.00 WIB

FAMili, apa kabar Anda di Bulan Suci ini? Semoga tetap sehat dan terus aktif berkarya. Seperti yang telah diumumkan FAM Indonesia sebelumnya, hari ini, Senin (30/6), FAM mengumumkan Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Dari 204 peserta yang mengirimkan cerpen terbaiknya, hari ini ditetapkan 85 Nominator yang berpeluang menjadi Sang Juara. Ke-85 Nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurut berdasarkan Abjad):

1.    A. Rizka Syamsul Bahri, Makassar (Hari Ini, Esok dan Seterusnya)
2.    Ade Ubaidil, Cilegon-Banten (Kisah Pemenggal Kepala)
3.    Alfi Nur Saidah, Kediri-Jawa Timur (Singgasana Duniawi)
4.    Anna Ilham, Malang-Jawa Timur (Selaksa Cinta Anak Negeri)
5.    Anria Marini, Bekasi-Jawa Barat (Keringat)
6.    Apri Robingah, Kebumen-Jawa Tengah (Anugerah di Ujung Harapan)
7.    Ardy Nugraha, Lampung (Di Sini, Kami Saling Berpegang Tangan)
8.    Atriza Binti Umar, Malaysia (Insya’ Allah)
9.    Beni Purna Indarta, Kebumen-Jawa Tengah (BLT)
10.    Beni Purna Indarta, Kebumen-Jawa Tengah (Republik Dormogati)
11.    Cut Vivia Talitha, Bireuen (Kambing Hitam)
12.    D.A Akhyar, Banyuasin-Sumatera Selatan (Kedipan Mata Guruku; Menampung Uraian-Uraian Jawabku)
13.    D.A Akhyar, Banyuasin-Sumatera Selatan (Penyambung Lidah; Bukan Penghisap Darah)
14.    Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat (Impian yang Menguap Bersama Senja)
15.    Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat (Rumput-Rumput Liar)
16.    Dhara Nurani, Semarang-Jawa Tengah (Malaikat Kecil Itu, Alex)
17.    Dinu Chan, Sleman-Yogyakarta (Sekerat Harapan untuk Abid)
18.    Eliza Aldani, Padang Pariaman (Televisi Tua)
19.    Fadhilatul Hasnah, Padang-Sumatera Barat (Sepetak Tanah Makam Ayah)
20.    Farihatun Nafiah, Jombang-Jawa Timur (Inikah, Rumah)
21.    Fathurrahman, Amuntai Tengah (Mereka Lebih Menderita)
22.    Hamdi Alfansuri, Pekanbaru-Riau (Perjalanan Humaliki)
23.    Hany Windri Astuti, Semarang-Jawa Tengah (Aku Ini Siapa?)
24.    Hany Windri Astuti, Semarang-Jawa Tengah (Cahaya dalam Abu)
25.    Hardyanti Ayu Amalya, Makassar (Botol Parfum Papi)
26.    Hermawan, Banjarbaru-Kalimantan Selatan (Semangat Pendidik)
27.    Hidayah Nuril Pasha, Bojonegoro-Jawa Timur (Setumpuk Anak Sampah)
28.    Ikhsan Hasbi, Banda Aceh (Bawal)
29.    Imas Siti Liawati, Bandung-Jawa Barat (Rajin Ganti Kurikulum)
30.    Indah RZ, Tasikmalaya-Jawa Barat (Ikrar Seorang Iffah)
31.    Intan Lestari, Cirebon-Jawa Barat (Pengetuk Hati)
32.    Inung Setyami, Tarakan-Kalimantan Timur (Topeng Ireng)
33.    Irzen Hawer, Padangpanjang-Sumatera Barat (Ampek Sen)
34.    Istiqomah, Bangkalan-Madura (Dari Gelap kepada Cahaya)
35.    K. Himawan Kunarto, Magetan-Jawa Timur (Negeri Api)
36.    Ken Hanggara, Surabaya (Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang)
37.    Ken Hanggara, Surabaya (Murah Mart)
38.    Kukuh Septio Aji, Demak-Jawa Tengah (Aku dan Para Bintang)
39.    Laras Sekar Seruni, Tangerang Selatan (Ketika Banjir)
40.    Laras Wati, Blitar-Jawa Timur (Aku Ingin Menjadi Presiden)
41.    Lenni Ika Wahyudiasti, Surabaya-Jawa Timur (Buah Manis Perjuangan Hafidz)
42.    Luqyana Dahlia, Sumedang-Jawa Barat (Obatnya Adalah Kesejahteraan)
43.    Lu’lu’ Olivia Ningrum Kusuma Dewi, Yogyakarta (Cita-Cita Sarjana Muda untuk Indonesia)
44.    Malisa Ladini, Semarang-Jawa Tengah (Jerit Suara Rakyat)
45.    Maya Astuti, Cirebon-Jawa Barat (Hitam Putih Hidup Saritem)
46.    Merliana Ulin Nikmah, Surabaya-Jawa Timur (Bendera Kuning)
47.    Merliana Ulin Nikmah, Surabaya-Jawa Timur (Langit Merah di Surabaya)
48.    Mia Cisadani, Semarang-Jawa Tengah (e Mana Kucari Keadilan)
49.    Muchlis, Samarinda (Bicara pada Diri Sendiri)
50.    Muhamad Pajri, Mataram-Nusa Tenggara Barat (Keluh Kesah Sang Guru Honor)
51.    Mulyono Ardiansyah, Medan (Aku Ingin Jadi Presiden)
52.    Mulyono Ardiansyah, Medan (Sepenggal Harapan Chiko)
53.    Munika Duri, Blitar-Jawa Timur (Sekolah Impian Diko)
54.    Nisa Azizah, Kebumen-Jawa Tengah (Laskar Tikus Pasar)
55.    Novaldi Herman, Pekanbaru-Riau (Tapung Tawar)
56.    Nurbing, Kepulauan Selayar (Rahasia Lukisan Rifqah)
57.    Nur Muchamad, Kuningan-Jawa Barat (29 Mimpi dalam 2 Bait)
58.    Nur Muchamad, Kuningan-Jawa Barat (Enigma Biru di Tanah Abu-Abu)
59.    Nurul Fauziah Asal, Pasuruan-Jawa Timur (Sebaik-Baik Cara-Nya)
60.    Nurul Muchlisa, Makassar (Harapan Indonesiaku)
61.    Okti Dwi Hartatik, Tegal-Jawa Tengah (Harapan Winah)
62.    Rahayu Nur Hidayah, Gresik-Jawa Timur ((Mantan) Murid Minoritas)
63.    Rahmi Intan, Pasaman-Sumatera Barat (Kami, Hanya Kaum Marginal)
64.    Rajwa Naajiyah, Malang-Jawa Timur (Sekolah Impian)
65.    Rana Ida Sugatri, Cimahi-Jawa Barat (Kau Pemimpin Masa Depan)
66.    Randy Jullihar, Pasuruan-Jawa Timur (Demonstran dan Pedagang Kacang Rebus)
67.    Ratnani Latifah, Jepara-Jawa Tengah (Bagaikan Bumi dan Langit)
68.    Reddy Suzayzt, Yogyakarta (Lelaki yang Usai Mengembara)
69.    Renny Puteri Utami, Palembang (Pesawat Malaikat Jatuh)
70.    Rihlatul Adni, Bandung-Jawa Barat (Alscy)
71.    Rini Nurul Hidayah, Jakarta Timur (Pulang)
72.    Risa Nurlatifah, Bandung-Jawa Barat (Saku Pak Tua)
73.    Rizka Andarosita, Mojokerto-Jawa Timur (Pak Presiden, Abi Ingin Jadi Dokter!)
74.    Rosyida Marfuah, Malang-Jawa Timur (Noval)
75.    Sahanara, Jambi (Aku, Kamu dan Sebatang Pohon Ara)
76.    Siti Nurbanin, Tuban-Jawa Timur (Kisah yang Berakhir Bahagia)
77.    Siti Sofiyah, Semarang-Jawa Tengah (Mayat dalam Lumbung)
78.    Sri Rahayuningsih, Jakarta (Kerinduan Somad)
79.    Tri Yani, Agam-Sumatera Barat (Almamater)
80.    Tsalza Shabrina Ushfuriyah, Malang-Jawa Timur (Mutiara yang Terabaikan)
81.    Ulum Minnafiah, Pati-Jawa Tengah (Wheleh)
82.    Vety Alvionita Saputri, Pasuruan-Jawa Timur (Tidak Ada Anak yang Bodoh, Manda Sayang)
83.    Weda S. Atmanegara, Yogyakarta (Katemi Masuk TV)
84.    Wildan Fuady, Bandung-Jawa Barat (Sandal Jepit Warna-Warni)
85.    Yahya Rian Hardiansyah, Jember-Jawa Timur (Sebuah Harapan)

SELAMAT KEPADA PARA NOMINATOR!

Tahapan selanjutnya, dari 85 cerpen yang terpilih di atas, akan diseleksi kembali untuk menentukan 40 cerpen yang dibukukan FAM Indonesia. Ke-40 cerpen terpilih yang layak dibukukan akan diumumkan Selasa (1/7). Dari ke-40 cerpen itu, diseleksi kembali untuk menentukan Pemenang 1, 2, dan 3 yang akan memboyong hadiah yang disediakan FAM Indonesia. Pengumuman pemenang dilakukan pada Kamis (3/7), bertepatan dengan peringatan Hari Sastra Nasional.

Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak, mengikat, dan tidak diadakan surat-menyurat.

Salam aktif, salam literasi!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
Jl. Mayor Bismo, No. 28
Pare, Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Sabtu, 05 Juli 2014

Ulasan Puisi "Kunamai Kau Pahlawan" Karya DA Akhyar (FAM Banyuasin-Sumsel)

Pahlawan memang tak selalu nampak keren, gagah, ganteng, cantik, dan segala sebutan dari wujud fisik yang bagus semata. Pahlawan itu jiwa yang suci dan mulia, yang terukir lewat tindakan berani dan rela berkorban. Puisi ini, selain mengajarkan kita untuk meraba pahlawan dari perwujudan fisik yang buruk, juga mengingatkan kita betapa benar pepatah yang melarang kita menilai segala sesuatu hanya dari luarnya saja.

Sayangnya, tak semua dari kita sadar. Kita bahkan lupa, wujud yang indah tak selamanya bertahan seperti itu, bisa lebur atau bahkan musnah. Sedangkan jiwa atau ruh yang bersemayam di dalamnya akan tetap sama, bahkan abadi. Ini poin penting tentang memaknai pahlawan. Maka, hendaklah kita menghargai pahlawan bukan hanya dengan menghormati wujud jasadnya, melainkan pula mewarisi nilai perjuangan dalam jiwa yang sekarang mulai banyak terkikis.

Sedikit koreksi ada pada penulisan kata "nafas" yang seharusnya "napas", serta "hafal" yang seharusnya "hapal". Selebihnya tampak sudah benar. Sementara untuk penulisan puisi ini sendiri, penulis sudah bisa menyarikan pesan sederahana dalam kekuatan diksi, hingga puisi terasa kuat menggenggam hati pembaca. Terus perdalam ciri khas pena Anda dan tetap tebarkan nilai positif dalam karya-karya berikutnya.

Salam santun, salam karya!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Kunamai Kau Pahlawan
D.A. Akhyar Ibn Tarmujiy Ibn Rusydiy El-Jawiy (D.A.Akhyar) IDFAM2075M

/1/
Ini hanya tentang sejumlah tubuh, biru dan lebam
Tersangkut batu, pasir, ranting dan sampah
Beberapa merintih beberapa diam, selamanya....
Dan selekas kau terhenyak, selekas pula kau lupa
Bisakah kau rasa, beda air mata dan darah?
Tubuh membusuk dan luka bernanah?
Di bumi pertiwi, ada aroma kalian di sana
Aroma yang mengharumkan bangsa
Masih ada ; pada batu, pasir, ranting dan sampah
Benar, tak hanya di sana, kalian ada di sejumlah lainnya
Adakah mereka hafalkan?
Karena kaulah pahlawan yang hilang aksara....
/2/
Kunamai kau pahlawan
Di jiwamu kutemukan jiwa pemberani
Berani menumpahkan darahmu untuk bangsa
Kulayari hari-hari seperti pelaut mabuk
Menelusurimu pada pantai yang menyisakan kenang
Dalam perjalanan tanpa peta dan mimpi
Sekejap, mata kalian adalah savanna
Lalu aku memilih menjadi karnivora terliar
Yang mentafakuri tarian purba
Seperti tarian satwa di padang botswana

/3/
Ketika nafas adalah satu-satunya oase yang tersisa
Aku memilih berlari, mencuri mimpi dari pelukmu
Kunamai kau pahlawan karena kutemui dalam jiwamu
Ada jiwa yang ikhlas dalam membela Bangsa Indonesia.

Palembang, Sumatera Selatan

Sumber Ilustrasi: unknown-mboh.blogspot.com

Minggu, 22 Juni 2014

Ulasan Artikel “Relevansi Guru Sebagai Profesi” Karya Shonhaji Muhammad Al-Gowzhyne (FAMili Sidoarjo)


Sumber ilustrasi: smpn1panumbangan.sch.id
Tim FAM Indonesia mengapresiasi artikel berjudul “Relevansi Guru Sebagai Profesi” sebagai sebuah karya yang mencerminkan daya kritis penulisnya. Melalui artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk menyoroti kinerja seorang guru sebagai seorang pendidik. Penulis juga ingin menyampaikan pandangannya tentang dilema yang dihadapi seorang guru, antara profesionalisme dan kebutuhan ekonomi di saat situasi sulit. Tim FAM Indonesia juga mengapresiasi usaha penulisnya untuk memperkuat artikelnya dengan diksi yang “tidak biasa”.

Namun demikian, Tim FAM Indonesia memberikan catatan-catatan sebagai perbaikan, antara lain:

Arti kata “relevansi” adalah kaitan atau hubungan. Berpijak dari arti kata relevansi tersebut, maka penggunaan kata relevansi pada judul artikel “Relevansi Guru Sebagai Profesi” tidak tepat. Sebaiknya kata relevansi dihilangkan saja. Cukup “Guru Sebagai Profesi”.

Penggunaan kata “titik sentral” pada kalimat “Titik sentral guru terhadap dekadensi moral sangat krusial sekali”, kurang tepat. Akan lebih pas jika diganti dengan “peran sentral”.

Penggunaan kata “cindera mata” pada kalimat “Dan atas pengorbanannya itu masyarakat memberikan cindera mata yang sangat berarti”, juga agak kurang tepat. Sebaiknya diganti dengan kata “predikat”.

Sejumlah kesalahan pengetikan lainnya, di antaranya:

tanggung jawab-nya, seharusnya tanggung jawabnya.
jaman seharusnya zaman
cindera mata seharusnya cenderamata
simbul seharusnya simbol
meski menerima apa adanya. (Mungkin yang dimaksud penulis adalah mesti menerima apa adanya?)
Keaneka ragaman seharusnya keanekaragaman.
Karismatik guru seharusnya karisma guru.
Kata image seharusnya dicetak miring.
Fihak seharusnya pihak

Keterpaduan antar paragraf pada artikel ini menjadi kurang karena penulis memperlebar masalah dengan membahas masalah CPNS dan juga pendidikan modern. Padahal topik tulisan yang diangkat adalah masalah profesi guru.

Tim FAM Indonesia menganjurkan pada penulis untuk memperkuat penulisan artikelnya  dengan membaca referensi-referensi ilmiah terkait dengan tema yang diangkat sehingga kupasan yang tersaji dalam tulisannya bisa lebih mendalam namun tetap menjaga keterpaduan mulai dari judul hingga paragraf terakhir.

Terus berkarya ya, ditunggu karya-karya berikutnya.

Salam aktif

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Relevansi Guru Sebagai Profesi
Oleh Shonhaji MA (IDFAM2150U)

Profil guru adalah salah satu figur yang mempunyai amanat paling agung dan paling berat tanggung jawab-nya. Guru adalah sebuah titel terhormat dan beliau seorang pembawa misi mulia. Titik sentral guru terhadap dekadensi moral sangat krusial sekali. Karena baik buruknya nilai moral bangsa ini hampir terletak pada bimbingan guru. Pengabdian guru tak habis dimakan waktu dan tak lekang oleh jaman dalam rangka mendidik generasi bangsa ini, sehingga tidak peduli dengan materi yang didapat. Dan atas pengorbanannya itu masyarakat memberikan cindera mata yang sangat berarti. Seperti dalam sebuah untaian kata “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”.

Pada mulanya ungkapan tersebut dimaksudkan untuk menjunjung tinggi martabat dan kehormatan guru. Sebutan itu sebagai simbul pengabdian guru tanpa pamrih dan ikhlas, “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Sekalipun bekerja seharian untuk mendidik siswanya.

Di sisi lain ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa bisa tidak menguntungkan bagi para guru dan profesi keguruan. Dengan ungkapan itu ada kesan seakan-akan guru merupakan sekelompok komunitas yang melakukan pekerjaan terhormat, bernilai agung dalam mendidik bangsanya. Namun atas keringat dan jerih payahnya itu mereka meski menerima apa adanya, tidak perlu banyak menuntut atau mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka dapatkan.

Tidak pula guru mengeluh bila daya beli gajinya rendah karena tingkat dan jumlah kenaikan gaji tidak mampu mengimbangi depresiasi. Tidak perlu pula bersedih bila kenaikan pangkatnya terlambat.

Kemajuan semakin pesat dan waktu terus berjalan dunia pendidikan pun di tuntut harus bisa menyesuiakan diri dengan perkembangan jaman. Di satu sisi material adalah sebuah tuntutan bagi seorang guru untuk memenuhi kelangsungan hidupnya, karena keaneka ragaman jenis kebutuhan yang harus dipenuhi. Keadaan yang demikian seakan-akan berakibat lunturnya karismatik guru. Sehingga hal itu menjadi sebuah dilema dalam image seorang guru. Jika hal itu terjadi, relevankah bunyi statemen bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Realitas yang ada, setelah terselenggaranya rekrutmen CPNS memunculkan berbagai reaksi dari fihak yang mendaftar. Bagi yang diterima menyambutnya dengan suka cita, sementara mega kelabu seakan-akan menyapu guratan wajah mereka yang gagal.

Begitu menggodanya profesi ini, sampai beragam cara ditempuh untuk menebusnya. Dari yang bermodalkan kompetensi diri, mengandalkan hubungan kekerabatan, kolega dan sampai pada titik  aksi rupiah.

Banyak alasan mengapa mereka tertarik untuk mengais rejeki diparlemen. Dari jawaban yang paling idealis, semisal menjadi abdi Negara sampai jawaban yang pragmatis. “Kepastian gaji perbulan, uang pensiun, prestise dimata masyarakat sampai pada alasan putus asa dari pada menjadi pengangguran”. Dan entah alasan apa yang paling banyak memotivasi pelamar CPNS. Satu simpulan umum yang dapat digaris bawahi bahwa pegawai negeri sipil dimata warga bukanlah sekedar profesi melainkan telah berkembang menjadi gaya hidup.

Di tengah susahnya mencari rupiah, PNS menawarkan alternatif terbaik untuk menyambung hidup, kehormatan dan prestise di tengah-tangah masyarakat. Gaji mungkin tak seberapa tapi ceperan bisa datang dari setiap  celah. Ditambah lagi dengan sudah dipegangnya sebuah jabatan, masa depan diprediksi menjadi cerah.

Anda boleh sepakat, boleh juga meyangkal pandangan diatas. Dan stereotype demikian justru muncul dari keseharian yang dilakukan oleh sebagian PNS yang terekam oleh masyarakat. Kemudian yang menjadi pertanyaan untuk para calon pegawai negeri sipil adalah : sudahkah para pendaftar CPNS itu sadar akan tantangan yang menanti mereka, setelah resmi menyandang predikat PNS …??? Sanggupkah PNS memikul beban itu dengan menunjukkan kenerja yang profesional dan mengedepankan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi dan golongan..??? waktulah yang akan menjawabnya…..

Ironisnya ilmu pendidikan modern mulai kehilangan sentuhan kasih sayang dan kepekaannya kepada peserta didik. Topik yang dibicarakan kebanyakan hal-hal yang sifatnya teknis metodologis. Praktek pendidikan modern, baik tersurat maupun tersirat di bangun diatas asumsi yang sarat dengan kepercayaan penuh pada keampuhan metode dan tekhnik mengajar. Landasan falsafahnya yang diangkat dari aliran-aliran kognitifistik dan sejenisnya.

Karena orientasinya itu, pendidikan modern terasa makin menjauh misi hakikinya, untuk mendewasakan peserta didik. Sasaran yang lebih menonjol adalah bagaimana supaya anak mengerti dan bisa melakukan sesuatu lebih jauh lagi. Ada kecendrungan pendidikan ibarat sudah menjadi transaksi bisnis. Ada yang menjual jasa pendidikan, dan ada yang membelinya. Dewasa ini tidak mudah menemukan pakar pendidikan, atau penulis buku-buku pendidikan yang masih mendalami secara sungguh-sungguh ilmu mendidik.

Walhasil, mencari guru sebagai pendidik sangat sulit sekali. Dan lebih mudah menjumpai guru sebagai pentransfer (transforman) ilmu terhadap peserta didik.

“Hidup ada pada ketenangan dan perjuangan bukan pada tuntutan yang tak mengerti akan keadaan”.

Sabtu, 14 Juni 2014

Ulasan Puisi "Sang Pewakil Kami" Karya Eka Susanti (FAMili Sumbar)

Sumber ilustrasi: www.harianaceh.co.id
Puisi ini merupakan bentuk kekesalan seorang rakyat kepada wakil rakyat yang mudah menebar janji sekaligus melupakannya. Begitulah kebanyakan yang terjadi. Seperti halnya syair, obral janji itu terdengar begitu indah di telinga. Namun bedanya, syair tidak sekadar omong kosong, sedangkan janji palsu itu sebatas omong kosong.

Penulis berusaha membandingkan kebenaran seorang penyair yang "berpikir" lewat kata-kata indahnya, dengan politisi yang lebih "tidak berpikir" dengan kata-kata yang sama indahnya. Maka, jelaslah tampak mana yang benar dan mana yang salah.

Koreksi dari Tim FAM ada pada penulisan kata "kedepannya", yang seharusnya ditulis "ke depannya". Ada pula kesalahan ketik pada "rangakaipun", yang sebetulnya "rangkai pun".

Terus berkarya.
Salam santun, salam karya!

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Sang Pewakil Kami
Eka Susanti (IDFAM685U)

Tampangmu begitu gagah dan bengis, penuh kewibawaan dan percaya diri
Meyakini setiap lontaran kata yang diulurkan, tanpa mengingat kedepannya
Mengobral-obralkan janji yang begitu murah, tak semurah BBM yang kau tawarkan. Tak seharga sembako yang kau janjikan sebelumnya

Katamu indah sebagaimana kata mereka, kau pandai bermain merangkai kata sehingga kami terpedaya. Kau rangkai kata demi kata bak seorang penyair menyalurkan inspirasinya. Inspirasimu berbeda dengan penyair, kata yang kau rangakaipun berbeda dengan seorang penyair.
Kau tak memikirkan siapa yang akan menikmati katamu, kau juga tak memikirkan analisis yang akan dilakukan pendengarmu. Kedepannya,

Semarak Korupsi di Meja Bundar

Jumat, 13 Juni 2014

Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” Diluncurkan

KEDIRI – Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” (2014) karya Aliya Nurlela diluncurkan di kantor Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Pare, Kediri, Selasa (10/6) kemarin. Novel itu diluncurkan Ketum FAM Indonesia, Muhammad Subhan, di hadapan utusan pelajar, mahasiswa dan guru yang datang dari beberapa kota di Jawa Timur.

Peluncuran novel setebal 505 halaman dan berlatar Tanah Pasundan (Jawa Barat) itu, menandai dibukanya Workshop Menulis Novel Angkatan 1 FAM Indonesia. Workshop itu akan secara rutin digelar FAM Indonesia dalam rangka memberikan bimbingan kepenulisan novel, khususnya bagi pemula.

Tampil sebagai narasumber Muhammad Subhan yang juga penulis novel “Rinai Kabut Singgalang” (2011). Dalam materinya “Menggali Ide Novel Lewat Pengalaman Pribadi”, dijelaskan bahwa pengalaman pribadi seorang penulis adalah modal dasar yang cukup bagus dikembangkan dalam menggarap sebuah novel.

“Ingat-ulang kembali segala peristiwa di masa kecil, ramu dengan bumbu kreativitas, dramatisir konflik dan tokoh-tokohnya,” kata Muhammad Subhan.

Menurutnya, dalam kehidupan pribadi seseorang menyimpan banyak sekali kenangan dengan segala macam suka dan dukanya. Maka, sebelum menceritakan orang lain, alangkah baiknya bagi penulis (pemula) menjemput realitas kehidupan pribadinya dan menjadikannya sebagai realitas sastra (novel).

“Nanti, jika sudah benar-benar mahir, baru garap ide-ide kreatif lainnya, terutama ide-ide yang diangkat dari realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat dan ditulis dengan lebih kritis,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga berbagi kiat tentang modal lainnya yang harus dimiliki seorang pemula yang ingin menulis novel, yaitu dengan cara banyak membaca novel-novel karya penulis ternama.

Dia merekomendasikan novel-novel terjemahan dari bahasa asing untuk dibaca, di samping novel-novel yang ditulis oleh pengarang-pengarang dalam negeri.

“Dengan banyak membaca novel-novel itu, akan sangat memudahkan penulis pemula melahirkan novel perdananya,” ujar Muhammad Subhan.

Soal menggali ide dari pengalaman pribadi, dia mencontohkan novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” karya Aliya Nurlela yang juga berangkat dari pengalaman pribadi si penulis. Novel itu secara cerdas ditulis, bukan saja mengungkap kehidupan yang “indah-indah”, tetapi juga menceritakan sisi lain dari masa kecil dan kehidupan remaja si penulis.

“Adegan dan konflik ceritanya hidup, mengalir, dan banyak pesan-pesan inspiratif yang terkandung di dalam novel itu,” tambahnya.

Workshop Menulis Novel Angkatan 1 diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Milad ke-2 FAM Indonesia. Seharusnya, gebyar Milad FAM Indonesia dirayakan pada tanggal 2 Maret 2014 lalu, namun pasca erupsi gunung Kelud menyebabkan kondisi kantor FAM Indonesia belum cukup repersentatif mengadakan sebuah kegiatan akbar.

“Alhamdulillah, sekarang kondisi Kelud sudah normal, begitupun Pare, kotanya telah hidup kembali dengan berbagai aktivitas masyarakat,” kata Aliya Nurlela, yang juga Sekjen FAM Indonesia. (*)

Kamis, 12 Juni 2014

Meriah, “Arek Suroboyo Berpuisi” di SMK PAL Surabaya

SURABAYA – Suasana sepi yang biasanya menyelimuti SMK Teknik PAL Surabaya di hari libur mendadak sirna. Sekolah itu menjadi semarak. Penyebabnya, Ahad (8/6), sekitar 40-an aktivis literasi berpuisi dalam rangka ikut memeriahkan HUT ke-721 Kota Surabaya.

Acara yang ditaja Tim Event Organizer Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang dikoordinatori Yudha Prima itu, bertajuk “Arek Suruboyo Berpuisi” bekerjasama dengan SMK PAL Surabaya dan didukung Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Acara dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Fileski yang membacakan puisi berjudul “Kota Kenangan yang Terbakar”. Puisi itu semakin terasa indah ketika seniman otodidak ini membawakannya dengan diiringi biola yang mengalun syahdu.

Selain Fileski, ikut membaca puisi Ardi Susanti, penyair perempuan asal Tulungagung yang membacakan puisinya berjudul “Bicaralah, Nak”. Baik Fileski dan Ardi Susanti, membaca puisi-puisi yang tercantum dalam buku puisi “Menjadi Indonesia” yang penerbitannya digagas FAM Cabang Surabaya dan diluncurkan di hari itu.

Pada kesempatan tersebut juga dibedah buku puisi “Rumah Kartu” karya Eko Prasetyo yang dibahas oleh Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia yang juga seorang jurnalis dan penulis. Diskusi dipandu moderator Evie Suryani, penulis Surabaya yang juga pengurus Badan Perpustakaan Kota Surabaya.

Dalam makalahnya berjudul “Memahami Puisi-puisi Cinta Eko Prasetyo” Muhammad Subhan mengatakan, meski buku puisi “Rumah Kartu” cenderung bersifat personal yang ditujukan kepada Jeng Ratih-ku sayang, namun bukan berarti Eko Prasetyo tidak jeli menyikapi persoalan yang sedang terjadi di sekitarnya.

“Ia dengan cerdas menjadikan Jeng Ratih-ku sayang yang tak lain adalah istrinya sendiri sebagai tumpahan luapan emosionalnya lewat puisi namun ditulis dengan begitu mesra terhadap berbagai anomali yang terjadi, atau terhadap persoalan-persoalan yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat,” kata Muhammad Subhan.

Sebagai bentuk apresiasi kepada penulis buku puisi “Rumah Kartu”, mahasiswa FIB Universitas Airlangga (Unair) Wildan Taufiqurrahman dan petugas Taman Bacaan Dukuh Kupang, Cak Ndog, membacakan empat puisi karya Eko Prasetyo itu serta mendapat testimoni dari Reffi Dhinar, peserta yang juga anggota FAM Cabang Surabaya.

Koordinator EO FAM Indonesia, Yudha Prima, pada kesempatan itu mengatakan, acara tersebut diangkat FAM Indonesia sebagai rangkaian kegiatan Milad ke-2 FAM Indonesia yang akan dilanjutkan dengan Workshop Menulis Novel serta peluncuran Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” yang kegiatannya dihelat di Pare, Kediri, pada Selasa (10/6).

“Selain itu, kegiatan ini juga untuk mendukung Kota Surabaya sebagai kota literasi yang telah dicanangkan Walikota dengan gerakan membaca dan menulis,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMK Teknik PAL Surabaya, Eko Agus Triswanto, pada kesempatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang digelar FAM Indonesia. Secara khusus ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat bermanfaat terutama bagi siswa-siswanya. (*)

Senin, 09 Juni 2014

Penerbitan Buku Antologi Inspiratif “Suka Duka Meraih Impian”

Setiap orang pasti memiliki impian (obsesi/cita-cita), sebab impian adalah kekuatan yang akan menuntun seseorang dalam memprioritaskan apa yang akan dilakukannya. Impian adalah semangat menyongsong masa depan dengan penuh rasa optimis. Impian adalah tonggak awal langkah kaki seseorang menuju kemajuan, kesuksesan dan meraih sesuatu yang dianggap mustahil. Berkat impianlah orang memiliki kekuatan untuk bertahan dan berjuang dengan segala risikonya. Oleh karena itu, impian perlu diperjuangkan jika seseorang ingin berhasil meraihnya.

Impian setiap orang pasti berbeda-beda. Setiap orang memiliki catatan harapan tersendiri dengan cara peraihan yang berbeda pula. Proses memperjuangkan impian ini, tentu sangat indah sekali untuk dituliskan. Mungkin Anda pernah dianggap muluk-muluk dengan impian yang sedang dibangun. Atau bahkan dicemooh, dianggap aneh-aneh, dijatuhkan semangat dan berbagai sikap negatif lainnya. Tapi Anda tetap percaya dengan impian itu, terus memperjuangkan dan yakin suatu saat akan teraih. Nah, mari kita tuliskan impian kita serta perjuangan seperti apa dalam meraihnya.

Penerbit FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia sebagai wadah kepenulisan nasional tergerak untuk membukukan kisah-kisah inspiratif Anda dengan tema “Suka Duka Meraih Impian.” Silakan kirim naskah Anda yang menceritakan kisah pribadi Anda tentang suka duka meraih impian. Siapa pun boleh menuliskan kisah pribadinya dalam meraih impian dan mengikuti antologi ini, tidak disyaratkan impian yang sudah teraih. Boleh juga menuliskan impian-impian yang sedang diperjuangkan.

Penerimaan naskah dibuka sejak 10 Juni 2014 hingga 10 Juli 2014. Biaya penerbitan buku ini ditanggung sepenuhnya oleh Penerbit FAM Publishing. Setiap penulis yang naskahnya lolos seleksi hanya diharuskan membeli minimal 1 (satu) eksemplar buku seharga Rp75.000 (untuk anggota FAM/sudah termasuk ongkos kirim) dan Rp80.000 (untuk nonanggota FAM/sudah termasuk ongkos kirim).

Adapun ketentuan mengikuti antologi ini, sbb:

1. Peserta umum (untuk anggota FAM maupun nonanggota/baik muslim maupun nonmuslim).

2. Kisah yang ditulis adalah kisah nyata diri sendiri (bukan kisah orang lain).

3. Naskah ditulis di microsof word 2003 atau 2007, ukuran kertas kuarto A4, jenis huruf Time New Roman, ukuran huruf 12.

4. Panjang naskah maksimal 3-4 halaman, 1 spasi.

5. Di bawah naskah mencantumkan profil penulis dalam bentuk narasi (maksimal 10 baris) serta foto diri.

6. Di bawah naskah penulis harap mencantumkan alamat domisili, alamat email dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

7. Naskah dikirim melalui email: gudangnaskah@yahoo.com. Naskah yang masuk akan mendapat balasan dari admin FAM.

8. Naskah yang dinyatakan lolos seleksi akan diberikan ucapan selamat melalui email. Nama-nama penulis yang naskahnya lolos akan diumumkan di grup “Forum Aishiteru Menulis” dan fanspage “Penerbit FAM Publishing.”

Jika Anda sudah mantap, jangan menunggu deadline, segera kirimkan naskahnya. Jangan takut bermimpi!

Salam santun, salam karya.

FAM PUBLISHING

Arek Suroboyo Berpuisi di SMK PAL Surabaya

SURABAYA – Suasana sepi yang biasanya menyelimuti SMK Teknik PAL Surabaya di hari libur mendadak sirna. Sekolah itu menjadi semarak. Penyebabnya, Ahad (8/6), sekitar 40-an aktivis literasi berpuisi dalam rangka ikut memeriahkan HUT ke-721 Kota Surabaya.

Acara yang ditaja Tim Event Organizer Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang dikoordinatori Yudha Prima itu, bertajuk “Arek Suruboyo Berpuisi” bekerjasama dengan SMK PAL Surabaya dan didukung Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Acara dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Fileski yang membacakan puisi berjudul “Kota Kenangan yang Terbakar”. Puisi itu semakin terasa indah ketika seniman otodidak ini membawakannya dengan diiringi biola yang mengalun syahdu.

Selain Fileski, ikut membaca puisi Ardi Susanti, penyair perempuan asal Tulungagung yang membacakan puisinya berjudul “Bicaralah, Nak”. Baik Fileski dan Ardi Susanti, membaca puisi-puisi yang tercantum dalam buku puisi “Menjadi Indonesia” yang penerbitannya digagas FAM Cabang Surabaya dan diluncurkan di hari itu.

Pada kesempatan tersebut juga dibedah buku puisi “Rumah Kartu” karya Eko Prasetyo yang dibahas oleh Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia yang juga seorang jurnalis dan penulis. Diskusi dipandu moderator Evie Suryani, penulis Surabaya yang juga pengurus Badan Perpustakaan Kota Surabaya.

Dalam makalahnya berjudul “Memahami Puisi-puisi Cinta Eko Prasetyo” Muhammad Subhan mengatakan, meski buku puisi “Rumah Kartu” cenderung bersifat personal yang ditujukan kepada Jeng Ratih-ku sayang, namun bukan berarti Eko Prasetyo tidak jeli menyikapi persoalan yang sedang terjadi di sekitarnya.

“Ia dengan cerdas menjadikan Jeng Ratih-ku sayang yang tak lain adalah istrinya sendiri sebagai tumpahan luapan emosionalnya lewat puisi namun ditulis dengan begitu mesra terhadap berbagai anomali yang terjadi, atau terhadap persoalan-persoalan yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat,” kata Muhammad Subhan.

Sebagai bentuk apresiasi kepada penulis buku puisi “Rumah Kartu”, mahasiswa FIB Universitas Airlangga (Unair) Wildan Taufiqurrahman dan petugas Taman Bacaan Dukuh Kupang, Cak Ndog, membacakan empat puisi karya Eko Prasetyo itu serta mendapat testimoni dari Reffi Dhinar, peserta yang juga anggota FAM Cabang Surabaya.

Koordinator EO FAM Indonesia, Yudha Prima, pada kesempatan itu mengatakan, acara tersebut diangkat FAM Indonesia sebagai rangkaian kegiatan Milad ke-2 FAM Indonesia yang akan dilanjutkan dengan Workshop Menulis Novel serta peluncuran Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” yang kegiatannya dihelat di Pare, Kediri, pada Selasa (10/6).

“Selain itu, kegiatan ini juga untuk mendukung Kota Surabaya sebagai kota literasi yang telah dicanangkan Walikota dengan gerakan membaca dan menulis,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMK Teknik PAL Surabaya, Eko Agus Triswanto, pada kesempatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang digelar FAM Indonesia. Secara khusus ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat bermanfaat terutama bagi siswa-siswanya. (*)

KABAR TERBARU

KOMENTAR PEMBACA

BUKU BARU

narrowsidebarads

Masukkan Kode HTML yang ingin kamu optimalisasi: