• Info Terkini

    Tuesday, June 26, 2012

    Ulasan Puisi “Batu Malin Menangis” Karya Miftahul Jannah (Surabaya)

    [NO ANGGOTA: IDFAM705M, FAM Surabaya]

    Inspirasi memang bisa datang di mana-mana. Tidak mengenal tempat dan waktu, tidak mengenal cuaca atau suasana yang ada.

    Bila ia datang, seakan ia mengetuk pintu hati, seakan ada satu denyut yang seakan begitu menyentak untuk kita kenal, kita selami, kita maknai, dan kita hadirkan ke dalam wujud rangkaian kata-kata.

    Bila ada saat begitu yang kita rasa, semula satu getaran kecil, cepat tangkap, jangan biarkan ia berlalu tanpa segores kata yang tertanda. Tulis, mengalirlah, ikuti arusnya, hingga terhenti dalam suatu muara diam.

    Satu inspirasi yang terlahir begitu, setelah kita tangkap, endapkan beberapa saat/hari lalu revisi untuk perbaikan yang mungkin kita perlukan.

    Nah, Puisi "Batu Malin menangis” ini, mungkin saja penulis tertarik menguntaikannya saat berdarma wisata di Pantai Air Manis Padang, yang terkenal dengan Legenda Batu Malin Kundang. Sebuah legenda yang cukup terkenal dengan pesan moral agar tidak mendurhakai orang tua.

    Kita simak kutipan puisi berikut:

    Bulan penuh menyinari bumi
    Mayapada terang terasa
    Cahaya sinar menggugah
    Sebuah tabir kehidupan
    Lewat batu-batu Malin
    Di Pantai Aia Manih, Sumatera Barat…

    Sebuah awal bait yang digambarkan penulis dengan suasana malam saat terang bulan, suasana tenang, namun menyimpan beberapa misteri di kehidupan alam.

    Mungkin penulis akan kembali mengingatkan kita akan sebuah nilai agar kita tidak terlena dan lupa dengan keadaan.

    Ada sedikit tanya dengan pemakaian kata "batu-batu malin". Akan terbayangkan bila lebih dari satu Malin, walau sebenarnya penulis menggambarkan suasana di sekitar legenda Malin Kundang yang menjadi batu, ada anjungan kapal, tong-tong, tali temali kapal, dan si Malin sendiri yang dalam keadaan bersujud membatu.

    Tapi kesemua itu lebih dikenal dengan tempat "Batu Malin Kundang", bukan batu-batu. Sebuah kenyataan yang sebaiknya tidak kita simpangkan.

    Pada bait ke dua sampai bait ke lima, penulis cukup jeli dan selektif dalam pemilihan diksi untuk menggambarkan kronologis kejadian cerita itu. Nampaknya penulis memasuki imajinasi bagaimana saat kutukan itu terjadi setelah sang Ibu bermohon pada Yang Maha Kuasa. Coba simak bait ini:

    Tiada pernah kuimpikan
    Badai menggulung ombak

    Ada apa dengan kata "kuimpikan?" Apakah penulis saat legenda kutukan itu terjadi ia membayang sebagai saksi mata, atau penulis mereka-reka hingga tak terbayangkan dahsyatnya suasana itu?

    Pada bait tiga terakhir penulis mencoba mengambil hikmah cerita itu dengan menghadirkan suasana negeri ini yang tergambar banyak hal-hal yang perlu dibenahkan.

    Hanya sekadar permainan rima -rima dalam setiap barisnya:

    menangis... terkikis, mengais… iblis, berseri... hati. (dan rima lainnya).

    Apakah masih kita membaca korelasi nilai 'kedurhakaan Malin" dengan 'pejabat yang korupsi'?

    Penulis cukup berbakat untuk mengungkapkan suatu perasaan menjadi bait-bait puisi yang menarik dengan berbagai sudut rasa dan pemakaian kata.

    Sedikit saran, tanda elipsis (...) menurut aturan EYD kurang tepat di pakai di sini. Selamat menulis.

    Salam Aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [POSTINGKAN PUISI BATU MALIN MENANGIS SESUAI NASKAH ASLI, TANPA EDITING]

    BATU MALIN MENANGIS (PUISI)
    Karya Miftahul Jannah
    IDFAM705M  Anggota FAM Surabaya

    Bulan penuh menyinari bumi
    Mayapada terang terasa
    Cahaya sinar menggugah
    Sebuah tabir kehidupan
    Lewat batu-batu Malin
    Di Pantai Aia Manih, Sumatera Barat . .

    Tiada pernah kuimpikan
    Badai menggulung ombak
    Terhempas di tepian nan landai
    Cabik sudah layar pencegah mara . .

    Putus sudah tiang sasaka
    Akibat perbuatanmu yang hina
    Kau balas air susu dengan air tuba . .

    Tubuhmu bersujud membatu, Malin
    Kisahmu terkenang sepanjang zaman
    Memilukan hati para ibu
    Yang tak kuasa menunggu
    Kedatangan anaknya dari tanah rantau . .

    Kutukan ibumu, itulah akhir hidupmu
    Jadikan tubuhmu membatu
    Perasaan ini semakin miris
    Jejakmu tak kunjung habis
    Oh……… Batu Malin Menangis . .

    Batu Malin Menangis . .
    Jangan biarkan kebenaran terkikis
    Oleh tangan para pejabat
    Yang dengan lahapnya memakan uang rakyat
    Dan tak peka akan tangisan yang menyayat .

    Batu Malin Menangis . .
    Sampai kapan negeri ini mengalami nasib tragis
    Hingga tak ada keadilan yang mengais
    Hati dipenuhi oleh iblis

    Batu Malin Menangis . .
    Kapankah kesombongan akan terkikis ?
    Mensucikan hati dari duniawi
    Hingga negeri ini berseri
    Terbebas dari hal yang memilukan hati

    Kota Padang damai lestari . .
    Negeri Indonesia harum nan suci . .
    Makmurlah Padangku . .
    Jayalah Indonesiaku . .
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Batu Malin Menangis” Karya Miftahul Jannah (Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top