• Info Terkini

    Thursday, October 25, 2012

    Konsultasi: Soal Membuat Cerita yang Mengada-ada Dalam Tulisan

    Assalamualaikum, sahabat FAM dan terutama untuk Sekjen dan Ketum FAM Indonesia. Ada hal yang ingin saya tanyakan. Saya sering kali berdebat dengan teman ketika saya berjumpa dengan teman akrab saya yang satu ini. Yang memulainya memang bukan saya, karena dia memancing saya untuk berpendapat memakai Alquran dan sunnah.

    Tadi teman saya datang, seorang teman yang pandai dalam hal beragama. Nah dia mengatakan bahwa cerita yang dibuat-buat itu merupakan hal yang tidak boleh dalam agama, karena mengada-ada sebuah cerita. Nah menurut sahabat sekalian bagaimana dengan hal itu? Perdebatan kali ini tidak sampai selesai saya lakukan, karena saya ingin mendapatkan bukti bahwa apakah hal itu benar dari dalil. Ini sudah membuat saya berkali-kali binggung dibuatnya.

    Mohon bantuan nya, maaf jika pertanyaan ini menyinggung.

    Ahmad Saadillah

    Jawaban FAM Indonesia:

    Waalaikumussalam Wr. Wb.

    Ahmad Saadillah yang baik. Terima kasih sudah mengajukan pertanyaan kepada FAM Indonesia. Bisa dimaklumi bahwa teman Anda tersebut kurang paham apa sebenarnya manfaat dari menulis. Bila dikaitkan dengan dakwah, maka menulis (bil qalam) adalah salah satu cara berdakwah yang paling dahsyat, selain dakwah bil lisan (ucapan) dan bil hal (perbuatan). Bayangkan saja, seandainya para ulama terdahulu tidak menulis dan tidak meninggal buku dan kitab-kitab, alamat kita yang hidup hari ini dilanda kebutaan. Dunia gelap gulita dan jahiliyah. Syukurlah, orang-orang terdahulu meninggalkan karya tulis untuk kita baca hari ini.

    Nah, berkaitan dengan pertanyaan teman Anda tersebut, yang katanya paham agama, tentang menulis cerita yang mengada-ngada, harus didudukkan dulu pokok masalahnya. Bila menulis cerita yang mengada-ngada untuk merugikan orang lain, memfitnah, menggunjing, berbohong dan mengarahkan manusia kepada kesesatan, itu jelas sangat salah dan dilarang oleh agama. Sebaliknya, bila menulis cerita yang diniatkan untuk mengajak pembaca kepada jalan kebenaran, why not? Sangat dianjurkan sekali, apalagi bila cerita itu dibumbui dengan pesan-pesan agama.

    Alquran menyebut Iqra’ atau perintah membaca, dan ini adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. Dalam arti kata lain, diturunkannya wahyu pertama dengan kata pertama iqra’ menunjukkan arti pentingnya aktivitas “membaca”. Sementara itu, perintah menulis memang tidak secara eksplisit disebutkan oleh Alquran sebagaimana perintah membaca. Tapi, membaca dan menulis sejatinya merupakan dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga perintah “membaca” secara tersirat sebenarnya juga merupakan isyarat perintah untuk “menulis”. Sebab tidak ada kata “membaca” jika tidak ada bahan yang dapat dibaca (tulisan).

    Nah, jadi Anda tidak perlu bimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan teman Anda itu soal boleh tidaknya menulis cerita yang mengada-ngada. Kembalikan saja kepada niat, untuk apa kita menulis. Untuk apa FAM Indonesia didirikan? Tak lain dan tak bukan untuk menyatukan ukhuwah penulis-penulis Islami agar mereka menyebar dakwah lewat tulisan, mengingatkan yang salah dan menyampaikan yang benar, bukan pula untuk “mengada-ngada” saja.

    Salam santun,
    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Konsultasi: Soal Membuat Cerita yang Mengada-ada Dalam Tulisan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top