• Info Terkini

    Monday, November 19, 2012

    Butuh Solusi dari Sahabat FAM Indonesia

    Asalamualaikum Bunda. Sebelumnya saya minta maaf bila kedatangan pesan ini mengganggu akivitas Bunda. Dan sebelumnya saya minta maaf bila apa yang hendak saya sampaikan ini sangat lancang. Akan tetapi saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa selain Bunda yang saya kenal baik di FAM ini. Saya ingin menyampaikannya langsung di dinding FAM, akan tetapi dengan berbagai pertimbangan saya tidak jadi karena saya takut, malu, dan takutnya ada yang menganggap cerita saya ini rekaan semata.

    Apa yang saya ceritakan di sini adalah hal yang sebenarnya, tidak ada kebohongan dan cukup Allah yang membuat saya takut untuk melakukan penipuan.

    Begini Bunda, langsung saja, setahun yang lalu tepatnya pada bulan November 2011 saya memberanikan diri untuk mengeredit netbook dengan pertimbangan saya ingin membantu meringankan beban ekonomi lewat menulis, dan kebetulan saat itu juga yang mendorong saya berbuat seperti itu karena suami saya berniat untuk kuliah lagi. Namun hanya berselang satu bulan saja, karena saat itu libur semester panjang saya dan suami tidak jualan di kantin dan tak punya tabungan akhirnya untuk biaya sehari-hari dan modal dagang pas masuk sekolah suami mengadaikan BPKB motor ke bank. Dari sana harapan saya tentang melunasi kreditan netbook terasa berat dan impian suami untuk kuliah lagi pun tak terealisasi karena awalnya saya ingin menabung sendiri dari hasil dagang untuk membayar netbook tersebut, tapi ternyata karena gaji suami terpotong oleh bayaran bank otomatis untuk sehari-hari semuanya dari hasil dagang dan saya sangat kesulitan untuk menabung. Bahkan sempat terlilit utang kosipa yang bunganya selangit dan cicilan hariannya sangat memberatkan. Dan, sampai saat ini menjelang surat perjanjian Desember besok harus lunas saya baru membayar cicilan 4 kali. Saya sempat menyicil harian karena kebetulan yang membantu saya mengkredit netbook tersebut saya kenal tapi hanya bisa membayar satu bulan saja.

    Ya Allah Bunda, saya tak enak dengan suami saya sudah berjanji kalau netbook itu urusan saya. Saya berpikir menghasilkan uang dari menulis itu gampang, tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Saya sudah berusaha mengikuti banyak lomba menulis dan mengirimkan cerpen ke majalah tapi tak ada yang berhasil menghasilkan uang untuk mencicil netbook saya tersebut.

    Saya berbicara seperti ini, ingin meminta tolong pada FAM. Saya tahu FAM sedang tumbuh dan memerlukan banyak biaya, seharusnya saya menyumbang bukan malah meminta pinjaman. Tetapi apa daya saya Bunda, saya sudah cukup merepotkan orangtua dan meminjam pada teman mereka semua sudah berkeluarga dan tidak seperti dulu saya mengerti mungkin mereka semua lagi banyak kebutuhan.

    Bunda, jika FAM ada anggaran pinjaman untuk anggota mohon tolong saya. Dan saya berjanji akan mengembalikannya pada bulan Maret 2013 nanti. Memang cukup lama tapi itu yang saya bisa. Karena pada awal tahun depan saya mengajukan PMPM (semacam kredit usaha untuk ibu-ibu) di kampung. Saya tak bisa mengajukannya sekarang karena saya juga masih punya cicilan PMPM bekas modal tahun lalu. Bunda, saya benar-benar minta tolong bagaimana baiknya untuk masalah saya ini. Jika Bunda dan FAM tidak dapat membantu saya meminjamkan dana untuk pelunasan netbook tersebut, mohon diposting ulang oleh Bunda cerita saya ini di FAM, semoga saja teman-teman yang lain ada yang bisa membantu saya memberi solusi terbaik. Akan tetapi mohon jangan disebutkan nama saya, saya akan bersedia memberikan identitas saya nanti pada teman FAM yang mau menolong saya. Dan jika tak percaya dengan pelunasan saya misalkan bulan Maret yang sudah saya janjikan tidak saya tepati, maka saya bersedia dicopot dan di-nonaktifkan dari FAM untuk selamanya dan mengganti dendanya.

    Bunda, saya benar-benar minta maaf atas pesan saya yang lancang ini. Saya benar-benar minta maaf Bunda....

    Dan jumlah yang saya perlukan tersebut sebesar Rp1,5 juta. Semuanya tinggal Rp2 juta lagi tapi yang 500 ribu saya sedang mencoba menyicil. Dan bulan mater 2013 itu bukan patokan Bunda, itu maksimal. Karena sekarang juga saya sedang berusaha dan berdoa lewat tulisan saya, karena hanya itu yang saya bisa. Jika ada rezeki dari honor menulis ya pasti saya melunasinya Bunda, saya akan tetap berusaha...

    Terima kasih Bunda atas waktunya. Dan saya yang sedang berputus asa ini memohon maaf yang sebesar-besarnya jika apa yang saya lakukan ini salah.

    Salam,
    Dari “S”, di Jakarta

    JAWABAN FAM INDONESIA:

    Waalaikumsalam Wr Wb.

    Adinda “S” yang baik. Terima kasih telah berkirim surat ke FAM Indonesia. Adinda yang berstatus anggota aktif punya hak berkirim surat, menyampaikan unek-unek, meminta pendapat dan solusi atas permasalahan yang terjadi, sebab begitulah indahnya bergabung di FAM Indonesia. Bukan sekadar wadah kepenulisan, tetapi di sini kita satu keluarga, sesama saudara, saling berbagi dan memotivasi.

    FAM paham maksud dari pesan yang disampaikan Adinda. Tak ada sedikit pun anggapan bahwa Adinda telah lancang. Tidak sama sekali. Justru di sinilah hubungan yang seharusnya terjadi dalam wadah FAM Indonesia. Ada komunikasi yang terjalin baik antara pengurus dan anggotanya.

    Adinda yang baik, setiap orang pasti punya masalah. Hanya masalah setiap orang itu tentu tidaklah sama, termasuk tidak sama pula cara menyikapinya. Masalah ekonomi juga pasti mewarnai kehidupan rumah tangga siapa saja, termasuk dalam manajemen FAM Indonesia. Tetapi sekali lagi, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.

    Niat Adinda untuk membantu mengangkat keadaan ekonomi keluarga dengan menulis, itu sangat baik sekali. Namun tentu saja langkah-langkah yang diambil dalam mewujudkan niat itu harus bisa terarah sehingga berbuah manis di kemudian hari. Apabila niat utama kita menulis adalah untuk menghasilkan uang dan kenyataannya berkata lain—ternyata setelah ditekuni belum juga menghasilkan apa-apa—maka ujung-ujungnya keputusasaanlah yang akan didapat, karena merasa dengan menulis belum bisa menghasilkan apapun. Itulah sebabnya, FAM Indonesia selalu menganjurkan bahwa menulis adalah dalam rangka berdakwah bil qalam. Royalti atau popularitas itu bonus saja dari proses dakwah yang kita jalani.

    Jika niat kita menulis dengan tujuan menyebar kebaikan, maka kita tidak akan terbebani dengan hasil yang akan didapat. Semangat dan sikap optimis memang harus, tetapi juga tidak mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi. Termasuk kemungkinan gagal. Semua usaha itu ada proses dan ujiannya. Tak sedikit penulis sukses hari ini yang dulunya jatuh bangun. Jika kita sudah siap mental dengan segala kemungkinan itu, maka tidak akan panik apalagi stress menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan.

    Sungguh, FAM tidak sedikitpun menyalahkan Adinda, namun sedikit FAM berbagi. Justru Tim FAM berusaha bisa mendapat fasilitas dari kerja menulis. Buku-buku pendiri wadah ini, awalnya ditulis dalam buku tulis karena belum memiliki peralatan pengetikan. Buku sudah tersebar di toko-toko Gramedia pun, awalnya Tim FAM belum memiliki netbook, padahal sudah mendapat royalti. Hanya ada komputer sederhana. Pendiri FAM benar-benar ingin memiliki peralatan menulis dari hasil sendiri yang tidak beresiko. Siapa sangka, dari kerja keras dan kerja ikhlas itu, berbagai rezeki dibukakan pintunya oleh Allah sehingga dapat memiliki peralatan sendiri. Itulah yang saat ini ada di kantor FAM Indonesia, di Pare, Kediri, Jawa Timur.

    Dengan peralatan sederhana, FAM Indonesia dikelola dengan cara-cara sederhana pula. Meskipun FAM Indonesia sudah memiliki banyak anggota dan tersebar di mana-mana, tetapi FAM tidak lantas terobsesi memiliki barang yang lebih ‘mewah’ dari sebuah notebook dan satu unit printer di kantor FAM. Semua ingin terjadi secara rasional dan tertata dengan baik. Sebab, FAM dibangun dari kesederhanaan. Kunci itu pula yang selalu dipegang Ketum dan Sekjen FAM Indonesia. Disepakatilah meniti dari bawah, merintis FAM Indonesia. Tak memedulikan pandangan orang, yang penting kita terus berkarya dan mengatur semua dengan baik. Termasuk dalam mengisi fasilitas kantor. FAM benar-benar berangkat dari nol rupiah. Di usia mendekati 9 bulan, FAM baru memiliki printer sendiri. Sebelumnya Tim FAM, terutama Sekjen FAM Mbak Aliya Nurlela, harus lari-lari ke warnet yang jaraknya lumaran jauh dari kantor. Ketika mendapat barang itu (printer) rasanya bahagia sekali. Karena itu hasil berlelah-lelah sekian bulan, menyisihkan dari rezeki mengembangkan wadah ini. Sampai-sampai Mbak Aliya Nurlela membawa barang itu naik becak. Kebahagiaannya itu bukan terletak pada barangnya, tetapi pada proses yang dirasakan dalam setiap detik ketika mendapatkannya.

    Sedikit demi sedikit FAM bisa memiliki barang dan mengontrak kantor sederhana, lalu perlahan memiliki karyawan. Jika tak ada tekad yang kuat dan saling menjaga dari kedua pendiri, maka langkah FAM ini akan ngawur, termasuk dalam masalah pengelolaan keuangan. Bisa muncul utang di mana-mana. Sebab kalau mengikuti kebutuhan kantor/kegiatan FAM yang berkembang pesat, pengeluaran biaya tak ada henti-hentinya, bahkan semakin membesar. Tapi FAM komit mengatur semuanya dengan rapi sehingga termenej dengan baik.

    FAM sangat berharap semua anggota FAM baik-baik saja, baik secara lahir maupun batin. FAM selalu mendoakan itu. Namun seperti yang disampaikan di atas, FAM membiayai wadah yang sedang berkembang ini dari usaha yang dirintis serba tak ada modal. Ibaratnya sekarang, sedikit-sedikit sedang merangkak untuk bisa berdiri di kaki sendiri. Jadi FAM memutar semua untuk kepentingan pengembangan wadah ini. FAM tak memiliki dana besar yang tersimpan di bank, apalagi sponsor atau donatur. Semua pengeluaran dan kreativitas yang kita lakukan hitungannya bukan hari apalagi bulan, tetapi per detik. Kedua pendiri FAM selalu sepakat, jika tak ada dana maka FAM akan semakin kreatif menggali dengan cara berkarya. Alhamdulilah, sampai saat ini semua bisa diatasi dengan baik, semoga demikian seterusnya. Amin.

    Terima kasih atas kepercayaan Adinda curhat kepada FAM Indonesia. Mungkin salah satu jalan darurat yang bisa ditempuh adalah dengan cara mencari orang yang bisa menggantikan membeli netbook tersebut. Adinda bisa menulis dulu di buku tulis. Ke depan jika ada rezeki lagi, bisa beli lagi yang lebih baik dari yang sekarang. Semoga segera ada jalan ya. Dan, semoga di antara sahabat FAM yang membaca surat Adinda ini, dapat juga memberi solusi yang lebih baik dari jawaban FAM Indonesia, aamiin.

    Pesan FAM, tetap semangat dan aktif berkarya. Lakukan yang terbaik untuk semuanya. Memohonlah selalu petunjuk kepada Allah SWT agar mendapat penyelesaian terbaik. Jangan panik, sedih dan terpuruk. Yakinlah, satu kesulitan Allah akan memberi dua kemudahan.

    Salam santun, salam karya.

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Butuh Solusi dari Sahabat FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top