• Info Terkini

    Tuesday, November 6, 2012

    FAM, Tolong Jangan Kirim Member Card ke Alamat Saya!

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya anggota FAM Indonesia dari Kota “K”. Saya telah mengantongi Nomor ID FAM. Jika diperbolehkan, saya ingin meminta tolong kepada Tim FAM untuk tidak mengirimkan KTA (Member Card) ke alamat saya.

    KTA memang merupakan hal penting sebagai identitas, begitupun bagi saya. Namun, ada beberapa hal yang tidak dapat saya jelaskan sebagai alasannya. Tetapi intinya begini, pada dasarnya keinginan menulis disetujui oleh orangtua saya. Tetapi, menurut orangtua, aktivitas menulis sangatlah menguras konsentrasi dan waktu saya, mengingat kemampuan berpikir saya yang tak bisa bercabang. Sedangkan, saya sendiri adalah orang yang 'kepinginan' jika ada teman yang menandai lomba atau semacamnya.

    Banyak hal yang kadang terbengkalai karena saya menulis. Dari situlah, saya mulai sangat dibatasi untuk menulis. Eh, bukan dibatasi, tapi diminta untuk vakum menulis dahulu. Saya harus memikirkan banyak hal dan tidak terlalu menguras diri dengan menulis. Saya iyakan permintaan tersebut meski sampai sekarang saya masih diam-diam menulis. Setahu orangtua saya sudah vakum menulis dan akan meneruskannya bukan di waktu yang dekat ini. Jika Member Card FAM  dikirim, tentu akan memunculkan ketidakseimbangan baru. Mohon maaf sebelumnya. Terima kasih.

    Wassalam,
    Dari: M, di Kota K

    JAWABAN FAM INDONESIA:

    Waalaikumussalam Wr. Wb.

    Ananda M yang baik, terima kasih sudah berkirim pesan yang diterima FAM Indonesia lewat admin yang menangani email masuk. Kami membaca surat Ananda, sekali dua kali tidak cukup, lalu kami baca berulang kali, kami renung-renungkan. Kami timbang semasak-masaknya, mana baik dan tidaknya.

    Kami hargai permintaan Ananda untuk tidak dikirimkan Member Card FAM Indonesia, sebagai identitas resmi anggota FAM Indonesia. Member Card ini, fungsinya sama halnya seperti Kartu Tanda Penduduk dan sejenisnya yang menyebutkan status orang yang memegang kartu itu. FAM Indonesia, sebagai komunitas menulis nasional, juga bersikap profesional dengan membuktikannya lewat Member Card sebagai pegangan setiap anggota.

    Sebenarnya, dengan dikirimnya Member Card itu ke alamat Ananda, adalah upaya FAM untuk mengurangi beban amanah yang dipikulnya. Sebab, setiap anggota yang bergabung di wadah kepenulisan ini, mereka membayar biaya registrasi. Nah, biaya itulah yang FAM gunakan untuk mencetak Member Card dan sebagai biaya kirimnya. Jadi, FAM tidak sekali-kali hendak mengambil keuntungan dari registrasi anggota itu. Intinya, uang yang dibayarkan sebagai registrasi FAM, dikembali lagi kepada anggota dalam bentuk Member Card. Demikianlah yang dilakukan FAM, agar komunitas ini betul-betul berjalan di atas rel, tidak menyimpang dari visi dan misinya sebagai wadah kepenulisan yang bermotto “Membina Dengan Hati Calon Penulis Islami”.

    Sebagai orangtua, kami memahami sikap orangtua Ananda yang menginginkan Ananda dapat fokus belajar. Tidak seorang pun orangtua di dunia ini yang menginginkan anak-anaknya gagal di masa pendidikannya. Meski demikian, sikap orangtua Ananda yang meminta Ananda vakum sepenuhnya menulis sangat disayangkan oleh FAM Indonesia. Tapi itu adalah hak orangtua Ananda, karena Ananda adalah anaknya dan berkewajiban patuh kepada kedua orangtua.

    Tetapi secara umum, kepada para orangtua lainnya, dan calon-calon orangtua terutama yang berstatus anggota FAM Indonesia, FAM berharap tidak ada “pelarangan menulis” bagi anak-anaknya di kemudian hari. Melarang anak menulis, itu sangat keliru sekali. Sebab, dengan melatih anak-anak menulis sejak dini, dengan demikian orangtua mafhum tentang pentingnya ilmu pengetahuan yang tidak sekadar didapatkan lewat membaca, tetapi juga harus dituliskan. Cobalah dibayangkan, seandainya orang-orang terdahulu dilarang menulis oleh orang-orang tua mereka, maka kita hari ini tidak mendapatkan sumber-sumber teks bacaan, karena tidak ada orang yang menulisnya di masa lalu. Sungguh kita bersyukur, hari ini sumber-sumber teks bacaan itu banyak bertebaran di toko buku, di perpustakaan-perpustakaan sekolah, di taman-taman bacaan, dan semua orang yang membaca dapat memetik manfaat yang tidak sedikit. Ilmu matematika, fisika, kimia, antropologi, bahasa, budaya, dan lainnya, dapat kita nikmati lantaran kita membacanya di dalam buku teks terkait cabang ilmu itu.

    Alquranul Qarim, Kitab Suci Umat Islam yang agung itu, memerintahkan kata “Iqra’, bacalah. Artinya kita disuruh membaca. Bukan saja membaca yang tersurat, tetapi juga yang tersirat di alam mayapada ini. Allah juga bersumpah tentang pentingnya menulis dalam QS. Al Qalam 68:1, “Nuun” (Tinta). “Demi pena dan apa yang mereka tulis”. Artinya, kedua hal ini, membaca dan menulis, sangat penting sekali bagi manusia untuk mengembangkan daya akal dan pikirannya serta membagikannya kepada kemashlahatan umat.

    Menurut hemat kami, orangtua-orangtua yang baik, mereka akan mengajak anak-anaknya sedini mungkin mendatangi toko buku, mengenalkan buku-buku bacaan kepada anak-anak mereka, memberikan hadiah buku kepada anak-anaknya, agar mereka suka membaca buku di kemudian hari. Demikian juga, orangtua-orangtua demikian, mengarahkan anak-anaknya untuk menulis, agar mereka terlatih dan terampil menuliskan ide pemikirannya di atas kertas dan di media-media yang dapat menyebarkan gagasannya itu.

    Sesungguhnya, menulis itu adalah media dakwah. Dakwah lewat menulis ini, hasilnya akan dahsyat sekali. Orang yang berdakwah lewat lisan dan perbuatan, keduanya baik. Tetapi sayang bila mereka meninggal dunia, tidak ada karya yang membekas dan dapat dibaca generasi sesudahnya. Tetapi orang yang berdakwah lewat tulisan, walau jasadnya telah berkalang tanah, tetapi namanya tetap hidup sepanjang masa. Pemikiran-pemikirannya tetap dijadikan tuntunan, dan dibahas di ruang-ruang kelas, dan tentu saja orang-orang yang membaca karyanya berdoa kepadanya dan menjadi amal jariyah yang membawa kesejukan di alam kuburnya.

    Demikianlah jawaban FAM Indonesia atas surat Ananda M di Kota K ini. FAM menghargai sikap Ananda yang ingin berbakti kepada kedua orangtua. Tetapi kami berharap, tetaplah menulis, membiasakannya, dan cobalah menunjukkan prestasi menulis itu kepada kedua orangtua. Yakinkan orangtua bahwa Ananda bisa sukses menulis, walau nanti Ananda akan menjadi seorang dokter misalnya. Silakan kejar cita-cita dokter Ananda itu, dengan cara masuk ke Fakultas Kedokteran dan seterusnya. Tetapi kelak ketika Ananda telah benar-benar menjadi seorang dokter, Ananda akan menulis buku tentang dunia kedokteran, buku tentang penyakit dan cara mengobatinya. Sungguh, akan sangat dahsyat sekali itu.

    Tuhan memberikan waktu 24 jam kepada orang sukses, juga 24 jam kepada orang yang belum sukses. Jumlah waktu yang sama. Tetapi kenapa mereka beda-beda suksesnya? Ya, tidak lain lantaran kita berbeda-beda cara memenej waktunya. Jadi, menejlah waktu itu sebaik mungkin untuk kesuksesan Ananda.

    Salam santun, salam karya.

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: FAM, Tolong Jangan Kirim Member Card ke Alamat Saya! Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top