Skip to main content

Bolehkah Membukukan Tulisan yang Sudah Pernah Terbit di Buku Antologi Bersama?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya. Karya tulis saya ada di beberapa buku cetakan FAM Publishing. Jika misalnya saya menerbitkan cerpen saya yang ada di buku antologi bersama yang ada di buku cetakan FAM ke dalam karya pribadi garapan sendiri, yang isinya beberapa kumpulan cerpen dan salah satu cerpen yang pernah FAM terbitkan disertakan juga di buku tunggal saya nanti, apakah itu boleh? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

ADE UBAIDIL
FAM1198M, Cilegon.

JAWABAN FAM INDONESIA

Waalaikumussalam Wr. Wb.

FAM Indonesia memberikan apresiasi atas minat Ade untuk menerbitkan buku tunggalnya berupa kumpulan cerpen. Apakah boleh mengumpulkan cerpen-cerpen yang sudah diterbitkan di berbagai buku antologi bersama lalu menjadikannya sebagai buku tunggal? Jawabannya boleh-boleh saja, namun dengan syarat pada cerpen-cerpen tersebut dibubuhkan keterangan bahwa cerpen itu sudah pernah diterbitkan di buku antologi bersama, sebutkan judul bukunya.

Untuk tahap awal kepenulisan, tidak ada larangan melakukan hal itu, malah semakin memotivasi penulis-penulis pemula untuk berkarya lebih giat ketika mereka sudah punya buku tunggal karyanya sendiri. Namun FAM juga menganjurkan, sebaiknya untuk cerpen-cerpen yang sudah dipublikasikan, termasuk tulisan lainnya, sebaiknya tidak diterbitkan lagi, lantaran sudah pernah terbit, di samping agar penulis lebih fokus terhadap karya-karya terbarunya. Dengan demikian, pembaca pun akan semakin tercerahkan, karena bisa saja, pembaca sudah membaca karya itu di dalam buku antologi bersama, lalu membaca lagi di dalam buku tunggal. Ini untuk menghindarkan kejemuan pembaca.

Demikian jawaban FAM Indonesia, semoga Ade semakin aktif berkarya.

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…