• Info Terkini

    Sunday, May 26, 2013

    [Resensi Buku] Flamboyan Bertasbih Mengagungkan NamaNya

    Judul Buku: Flamboyan Senja
    Kategori: Kumpulan Cerpen
    Penulis: Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, Desember 2012
    Tebal: 139 Halaman
    ISBN: 978-602-17143-5-5
    Harga: 38.000,-

    Apa pun yang terjadi dalam hidup ini tak ada yang kebetulan. Semua sudah ada Yang Mendesain. Detik ini harus begini, detik berikutnya harus begitu. Semua telah tercatat dalam desainNya. Tak ada kelebihan yang sempurna, selalu bersanding manis dalam diri seseorang. Kekurangan itu akan mendorongnya terus belajar dan kelebihan itu akan mendorongnya untuk terus berbagi. Sehebat apa pun teori yang dimiliki, jika tak pernah membiasakan menulis maka teori itu akan menguap satu persatu hingga lupa sama sekali.

    Dirangkum semua cerita dalam buku cerpen “Flamboyan Senja”. Menyatukan butiran-butiran cinta yang berserak, menyematkan dalam hati terdalam, melebur bersama harapan dan doa, agar harum mewangi sepanjang masa.

    Buku ini ditulis oleh Aliya Nurlaela, seorang penulis dan pengurus wadah kepenulisan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia di kantor pusat FAM Pare, Kediri. Buku cerpen “Flamboyan Senja” adalah buku fiksi tunggalnya. Dalam Buku Cerpen yang berjudul “Flamboyan Senja”, yang di dalam buku itu memuat 10 cerpen. Ada banyak serangkaian realita kehidupan dengan tema dan nuansa yang berbeda yang disuguhkan dalam buku cerpen ini dan banyak nasihat yang terkandung di dalamnya.

    Cerpen pertama, “Flamboyan Senja”. Alam seakan bertasbih menyebut namaNya ketika kebimbangan yang melaut kulemparkan ke dasar jurang. Tarik menarik antara tawaran kebaikan dan keburukan yang sedari tadi datang silih berganti, perlahan memudar dan mengendor. Tawaran kebaikan lebih dominan menarikku dalam singgasanaNya. Meresapi kehadiranNya. Aku menyeka peluh dingin dari kening. Memandang lembut penuh kasih pada sebatang pohon Flamboyan yang berdiri kokoh disampingku. Ia kokoh, kuat dan tegak berdiri. Bunganya yang elok menebarkan pesona jelita. Siapapun yang memandangnya akan berdecak kagum. Bergelimangan sanjungan dan popularitas, mengejar mimpi-mimpi tentu harapan semua orang. Tapi bagi sosok seorang wanita yang di perankan dalam cerita ini dengan semua kemudahan yang dia miliki saat ini, baginya banyak melenakan dan dengan lantang berteriak untuk menyudahi kepopuleran yang ia peroleh selama ini, Nasehat agama yang selalu diajarkan kedua orang tuanya yang masih membekas, sehingga ia tak rela jika harus merentas sebuah jalan yang mengabaikan nasehat agama. Sebentuk ujian untuk mengukur kekuatan iman. Bersama senja ia telah bertekad untuk membulatkan tekad berhijrah dan tak ada seorangpun berhak mengubah keputusan jalan hidupnya.

    Cerpen kedua, “Geu Saram”. Geu saram nal utge han saram, Geu saram nal ulge han saram. Geu sarang jieul sueom neunde, Geu sarang ijeul sueom neunde. Geu sarami tteo naganeyo.” (dia adalah orang yang membuatku tersenyum, dia adalah orang yang membuatku menangis. Cinta itu tak bisa kuhapus, cinta itu tak bisa kulupakan. Namun dia sekarang telah pergi). Seorang penulis santun yang digambarkan penulis yang bernama Zahda Amir, penulis santun penyebar kebaikan sekaligus sang pahlawan hebat yang telah menolong dia, mengatakan dia orang yang baik dan selayaknya ada pada tempat terbaik. Yang membuatnya sadar untuk menuju CahayaNya dan tuntunanNya (Geu Saram= orang itu).

    Cerpen ketiga, “Impian yang terhapus”. Tuhan, suatu saat aku akan berdiri di hadapan-Mu, memperlihatkan jahitan demi jahitan yang ada dalam tubuhku. Sebagai bukti bahwa aku telah berjuang sendiri untuk keselamatanku. Aku akan meminta belas kasihMu dan belaian lembutMu yang selama ini tak pernah kudapatkan dari seorang makhluk ciptaanMu. Di bagian ini penulis meggambarkan sosok Amanda yang begitu tegar dalam mengarungi rumah tangga dengan seorang lelaki yang menyanjungnya di awal pertemuan, tak menyisakan manisnya membangun mahligai rumah tangga, jiwanya sering tersakiti bahkan mendapat perlakuan yang tak pernah peduli apapun yang terjadi dengan ia sebagai seorang istri, tak peduli raganya yang lemah, tekad Amanda hanya satu menyelamatkan keluarga kecilnya agar layak dimata manusia terlebih dimata Tuhan. Tak pernah berfikir untuk mengakhiri rumah tangga bersama suami yang dicintainya, meskipun cinta itu memudar akibat sikap aneh suaminya.

    Cerpen keempat, “Tak ada keranjang di matanya”. Lelaki dan wanita diciptakan untuk berpasangan, saling bekerjasama, bukan saling membenci. Jika ia pernah trauma pada lelaki, mungkin banyak pula lelaki yang trauma pada ulah wanita. Berulangkali sang ayah mengingatkan,bahwa pendapat nya salah. Tidak semua laki-laki seperti yang di cap Raini. Sang ayah bilang, "seperti ayah yang setia pada ibu.” Pada bagian ini digambarkan, Sosok seorang Raini yang cukup kuat bertahan untuk tidak membiarkan seorang lelaki pun hadir dihatinya. Bahkan selalu menunda untuk segera menikah, bukan dikarenakan dia terkena penyakit anti lelaki, tapi dimatanya semua lelaki sama hanya menorehkan kekecewaan. Seiring waktu berjalan, seorang lelaki yang tak pernah dia lihat wajahnya bisa melenyapkan seluruh emosinya, melembutkan hatinya menjadikan ia lebih ramah dari biasanya. Lelaki itulah yang diharapkan Raini menjadi pendamping hidupnya kelak. Bukan cinta yang sesaat, saat ini mencintai Raini dan pada saat yang lain mencintai wanita lain. Keagungan seorang gadis pada sosok ayahnya yang perhatian, penuh kasih sayang dan setia pada keluarga itulah yang ia harapkan kelak dan menemukan laki-laki hebat seperti ayahnya.

    Cerpen kelima, “Air Mata Lelaki.” Tuhan maafkan semua perbuatanku yang telah menyakiti ibu dan adikku. Aku telah bertindak semena-mena pada mereka. Aku telah angkuh di hadapan-Mu menonjolkan emosiku agar semua aturanku diterima. Tuhan, andai ibu hari ini tak berkata pada Nindi, sampai kapanpun aku tak akan perrnah tahu jika semua yang kulakukan itu salah. Tuhan, semua kulakukan karena rasa sayang pada mereka yang berlebihan. Aku takut kehilangan mereka, hanya merekalah keluargaku. Berilah kesempatan ya Tuhan, agar aku bisa membahagiakan mereka dengan cara yang lebih baik. Disini digambarkan sosok seorang kakak yang begitu bertempramen keras dan sulit menerima nasehat, sehingga sampai akhirnya ia menyadari bahwa sikapnya itu salah dan mengakui kesalahannya di hadapan TuhanNya, dan punya tekad untuk memperbaiki diri. Hanya Allah yang membolak-balikan hati manusia

    Cerpen keenam, “Pekat”. Tak ada yang sia-sia di dunia ini. Hal yang kelihatannya tak berharga, jika dirawat dan diberi sentuhan lembut berasal dari hati maka akan menjadi berharga dan berguna. Disini digambarkan bahwa ditengah orang-orang yang tidak peduli akan nasib orang yang tidak berkelas ini ada sekelompok orang yang peduli akan nasib mereka, merangkul dan merawat mereka.

    Cerpen ketujuh, “Benalu”. Wahai para benalu, mengapa anda tega mempermainkan nasib kami? Kemiskinan ini bukannya meraih kepedulian dari pihak-pihak yang memiliki kelebihan rezeki. Justru di korbankan sebagai ajang permainan busuk para benalu. Uang seratus ribu dalam kondisi sepertiku sangatlah besar. Aku harus menghemat uang makan hingga berminggu-minggu. Bahkan jika perlu puasa setiap hari kulakoni. Pada bagian ini digambarkan jatuh bangunnya seseorang dalam mencari pekerjaan di tengah kehidupan yang kejam dan tidak berpihak kepada orang yang terhimpit perekonomian.

    Cerpen kedelapan, “Bulan Merindu”. Biarlah kerinduan ini menjadi milikku dan bulan. Aku tak bisa menghindar dari harapan kehadiranmu secara nyata di depan mataku. Kerinduan ini memang telah menyeretku untuk mengubah takdir baik antara kau dan aku. Meski hanya sejenak. Namun, kerinduan ini bukan bersumber dari nafsu yang membabi-buta yang dapat menghanguskan semua. Termasuk meredupkan sinar bulan purnama selamanya. Kerinduan ini sebentuk kasih suci yang akan selalu terpelihara dalam hati. Kasih suci adalah kerelaan memberikan kebahagiaan abadi bagi orang yang dikasihi. Kebahagiaan bukan berarti harus bertemu dan bersatu. Kebahagiaan juga adalah kenikmatan melihat tawanya berderai di mana pun dan bersama siapa pun. Aku memohon penjagaan dari Sang Penguasa Malam untuk kebahagiaanmu selamanya. Biarlah aku di sini tetap menghitung datangnya purnama hingga waktu yang tak terhitung lagi. Biarlah aku menjadi “Bulan Merindu” dalam pesona malam. Mendendangkan tembang-tembang pujian untuk kebahagiaan abadi kau dan aku dalam hidup sekarang dan berikutnya.” Pada bagian ini digambarkan kisah sedih seorang gadis yang menantikan pujaan hatinya, semangat menghadapi ketidakberdayaan dengan kondisi yang ia alami. Bahkan penduduk sekitar pun yang mengetahui kisahnya ikut merasa pilu dan iba atas kandasnya harapan gadis itu.

    Cerpen kesembilan, “Tak mencintai Bukan Berarti Membenci”. Bahasa yang digunakan di sini sangat menarik dan akan tergambar apa yang dimaksud penulis, “Tuhan, maafkan aku atas kelancangan ini. Bukan aku tak mengikuti seruanMu untuk mencintai sesama makhluk. Bukan aku membenci ciptaanMu. Bukan tak menghargai kehadirannya di dunia ini dan takdir kehadirannya di hadapanku. Tapi, satu alasanku. Semoga Kau mengampuniku. Hingga hari ini, diri ini tak kuasa menatap apalagi membelai maakhluk ciptaanMu yang satu ini. Ya, si hitam yang mengkilat licin dan selalu berjalan santun itu. Dialah CACING! Makhluk ciptaanMu yang dicari banyak orang. Entahlah, bagiku tidak. “Tuhan maafkan aku.”

    Cerpen ke sepuluh, “Kelopak Flamboyan itu bertasbih”. Dengarlah ia berbisik, kelopak itu berbisik tentang hakikat cinta, kelopak lain mengajak tersenyum penuh semangat, kelopak lain mengajak tersenyum penuh semangat, ada duka terselip pada satu kelopak kecilnya, kelopak itu membenci keputusasaan, ia mengajak menyelami keagungan hasil ciptaanNya, ia menghibur raga yang sakit, mari mengukir impian. Pada bagian ini banyak nasehat yang diberikan serta mengajak pembaca untuk lebih mengenal keindahan pencipta, mengagungkan namaNya dan mengajakan mereka bertasbih.

    Sisi kelebihan buku cerpen “Flamboyan Senja”, secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini bagus, tidak pernah bosan untuk membacanya terutama “kelopak Flamboyan itu bertasbih” dibagian inilah banyak pesan hikmah dan semangat hidup. Saya fikir para pembaca selain saya juga punya pemikiran yang sama setelah membaca buku cerpen Flamboyan Senja ini. Selain itu bentuk buku ini lumayan menarik, ada pembatas buku dan gantungan kunci bertuliskan Flamboyan Senja, dari cover buku sangat kreatif “Flamboyan dan senja”, dua simbol keindahan. Bila keduanya disatukan maka siapa pun yang memandangnya akan berdecak kagum. Cerita yang disampaikan benar-benar membuat kita sadar bahwa kita harus selalu mengingatNya, bertasbih, bersyukur dan berdzikir kepadaNya. Bahkan kelopak Flamboyan itupun selalu betasbih bersama seluruh semesta alam yang tak pernah lelah dan berhenti untuk terus bertasbih kepadaNya, menyebut asmaNya di setiap harinya.

    Sisi kekurangan isi buku cerpen “Flamboyan Senja”, alangkah lebih menarik lagi satu lembar halaman disediakan, setelah info tentang penulis, di setiap buku terbitan FAM baik Flamboyan Senja ataupun karya yang lainnya, dimuat juga gambar buku karya terbitan FAM yang telah terbit. Agar para pembaca lebih mengetahui lagi buku-buku karya FAM publishing yang lainnya, karna buku FAM Publishing ini layak dibaca dan dimiliki.
    Demikian resensi buku ini, semoga bermanfaat untuk saya dan kita semua.

    Peresensi:
    TRI WINDARI HESTI
    Sukamara, Kalimantan Tengah
    E-mail: winda.arfah@yahoo.co.id


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Flamboyan Bertasbih Mengagungkan NamaNya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top