Skip to main content

[Resensi Buku] Segala Sesuatu Tercipta Dua Kali

Judul Buku: Membungkus Mimpi
Kategori: 43 Pucuk Surat Pilihan
Penulis: Muhammad Sofyan Arif, dkk.
Penerbit: FAM Publishing
Tahun Terbit: Cetakan I April 2013
Tebal: xii+197 halaman.
ISBN: 978-602-7956-03-2.
Harga: Rp 41.000,-

Tahukah kita, bahwa segala sesuatu di dunia ini tercipta dua kali? Sebelum lahir dan berwujud secara nyata, segala sesuatu itu telah pernah lahir dan tercipta dalam impian tiap pelakunya. Sebut saja penemuan pesawat terbang, kapal, bola lampu, telepon, komputer, internet, dan sebagainya, ini semua telah pernah dirancang dengan baik, langkah demi langkah oleh tiap penemu yang mengimpikannya. Walaupun tak jarang mereka dianggap aneh dan gila.

Buku “Membungkus Mimpi” ini hadir, dalam rangka mengajak kita untuk mau bermimpi, bahkan mungkin hal yang mustahil dicapai untuk saat ini. Karena tanpa berani memimpikan sesuatu, maka kita takkan pernah memperoleh apapun. Buku kecil ini merupakan kumpulan surat, yang ditulis oleh penulis-penulis yang mempunyai segudang mimpi untuk dapat terbang dan menginjakkan kaki di berbagai negara diseluruh benua. Tentu ini merupakan impian yang tidak main-main, karena telah berani untuk dituliskan.

Membaca surat pertama dalam buku ini, kita akan disuguhi akan indahnya Korea Selatan, dengan berbagai etika kesopanan yang mereka junjung tinggi, hingga kedisiplinan yang mewarnai tiap sudut kota. Dalam akhir surat ini, penulis berharap suatu saat nanti akan dapat menyuguhkan kebiasaan baik ini di negeri tercinta, Indonesia. Tentu merupakan sebuah impian yang perlu dukungan semua.

Pada surat kedua, kita akan disuguhi dalamnya mimpi seorang anak yang ingin mewujudkan impian kedua orang tuanya untuk berkunjung ketanah suci, Makkatul mukarromah. Tentu jika mendengar hal ini, semua kita akan mengatakan, siapa yang tak ingin membawa kedua orang tuanya ke sana? Namun tahukah kita apa yang berbeda? Penulis berani menuliskannya. Mungkin tokoh Fahri tidak asing bagi kita dalam Ayat-ayat Cinta, apa yang dia lakukan akan segala mimpi-mimpinya? Dia menuliskannya. Dan menuliskan impian adalah langkah yang tak kalah penting dalam mencapai mimpi itu sendiri.

Sedangkan surat ketiga, mengajak kita kembali terbang ke negeri tercinta, Indonesia. Dengan segala harapan, yang menginginkan negeri ini menjadi sebuah negara yang dapat menjaga tradisi secara utuh, dan diwariskan pada generasi penerus bangsa ini.

Begitu juga dengan ke-empat puluh surat lain, yang tak kalah luar biasanya. Semua mimpi-mimpi itu telah ditulis dengan ikhlas, dari relung terdalam dari tiap penulisnya. kini hanya tinggal mengusahakan untuk mewujudkannya.

Karena buku ini disusun dari himpunan surat-surat, terkadang bahasa yang digunakan tidak terlalu formal, dan terkesan curhat yang terlalu panjang. Namun hal ini tidak mengurangi pesan dan impian yang ingin disampaikan.

Buku ini sengaja disusun, untuk menebar manfaat bagi semesta. Bagi kita yang selama ini kesulitan dalam membangun mimpi, atau tidak berani dalam menuliskan dan mengutarakannya, mungkin inilah waktu yang tepat. Buku istimewa ini, layak untuk menjadai inspirasi kita.

Peresensi:
SYAFRUDDIN (FATIH EL MUMTAZ)
Pekanbaru-Riau
Email: Fatihul_mumtaz@yahoo.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…