• Info Terkini

    Friday, May 31, 2013

    Ulasan Artikel “Celoteh Ngimpi tentang Kemakmuran Indonesia” Karya Funky Dyan Pertiwi (FAMili Surabaya)

    Setelah mencermati substansi dari artikel ini, Tim FAM Indonesia berkeyakinan bahwa penulis tidak bermaksud untuk bersikap apatis terhadap perjalanan sejarah negeri ini. Sebaliknya, artikel ini bisa diapresiasi sebagai buah kontemplasi yang diperkuat data-data ilmiah, jujur, kritis, dan lugas dari penulisnya setelah membaca realita yang ada. Melalui artikel ini penulis juga berusaha menumbuhkan ekspektasi terhadap masa depan bangsa.

    Ada beberapa poin penting yang ingin disampaikan oleh penulis artikel ini:

    1. Adanya kontradiksi antara pendidikan dengan adab dan tingkah laku. Di satu sisi, pendidikan diharapkan menjadi ajang transfer ilmu dan pembinaan tingkah laku, namun di sisi lain banyak generasi muda yang semakin tak mengenal tata krama.

    2. Semakin banyak yang bersikap tak peduli, setidaknya untuk ikut memikirkan persoalan bangsa ini.

    3. Harapan penulis terhadap pembangunan sektor kesehatan dan pendidikan.

    4. Sorotan penulis terhadap persoalan ketidakmerataan pembangunan ekonomi padahal pihak pemerintah selalu menghembuskan kabar baik bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan perkapita.

    Hanya saja, tim FAM Indonesia juga merekomendasikan beberapa pembenahan dari sisi penulisan agar artikel ini bisa semakin menarik untuk dinikmati, antara lain:

    1. Perubahan judul menjadi: “Indonesia 2030, Antara Harapan dan Kenyataan”

    2. Pemisahan bahasan menjadi 3 sub judul: Aspek Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi.

    3. Mengingat jenis tulisan ini adalah artikel ilmiah, maka sangat diperlukan pemilihan kata yang menimbulkan kesan ilmiah. Seperti kalimat “Berceloteh mengenai masalah pendidikan” (awal alinea ke-8), akan lebih baik jika diganti dengan “Menganalisa masalah pendidikan”.

    4. Meski sebenarnya menarik, namun sebaiknya alinea pertama dan kedua dihilangkan agar bisa langsung menggiring pembaca fokus pada permasalahan yang akan dikaji yaitu Indonesia 2030 dari aspek pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

    Selanjutnya, Tim FAM Indonesia mennganjurkan agar penulis terus akif berkarya untuk menuangkan gagasan pemikiran dan daya kritisnya.

    Salam Santun, Salam Karya, Salam Pencerahan

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Celoteh Ngimpi tentang Kemakmuran Indonesia

    Oleh: Funky Dyan

    Indonesia, negeri dimana saya dilahirkan dan negeri dimana saya belajar tentang segala aspek seperti budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Mempelajari negeri ini dengan setiap adab dan norma sesuai konteks yang telah dibuat. Dari Bahasa Indonesia hingga Kewarganegaraan atau PPKn dulu merupakan pelajaran yang harus saya pahami, percayai dan saya amalkan ke dalam kehidupan sehari-hari ketika saya masih duduk di bangku SD. Masih teringat kuat jika selalu membuang sampah itu harus pada tempatnya dan jika ibu Budi itu selalu pergi ke pasar. Didikkan yang mungkin Anda bisa mengerti apa yang saya maksudkan. Dan dalam realisasi sekarang, yang saya tahu bahwa adab-adab seperti membuang sampah masih diberlakukan ternyata hanya suatu kiasan belaka. Adab itu hanya menjadi formalitas dari jawaban untuk soal-soal UAS ataupun UAN tanpa ada pengamalan yang nyata. Sungguh ironis memang, dimana saat seorang putra bangsa tengah belajar adab dengan keringatnya ternyata dari pihak orang tua mencontohkan hal yang sebaliknya kepada meraka. Lalu salah siapa itu, jika sebagian besar orang tua mengeluhkan tentang anak mereka yang menjadi buas dan tidak tahu unggah-ungguh (sopan satun) sekarang. Saya tidak perlu menjawabnya karena saya yakin Anda sudah tahu jawaban atas pertanyaan itu. Dan seperti itulah salah satu kelemahan bangsa ini, selalu mengeluh dan tidak pernah memikirkan sebuah solusi konkrit atas masalah yang sudah mereka tahu. Hingga saya pernah mendengar dari seseorang yang saya lupa siapa dia dan tidak tahu juga darimana dia mengetahuinya, dia berkata bahwa otak orang Indonesia itu sangat mahal daripada otak orang Jepang karena otak orang Indonesia tidak pernah digunakan untuk berpikir sekalipun. Saya tahu Anda juga pernah mendengarnya, lalu bagaimana perasaan Anda saat mendengarnya? Tidak perlu Anda jawab karena mungkin saya dan Anda juga merasakan perasaan yang sama.

    Indonesia, dari tahun ke tahun dimulai dari turunnya rezim orde baru hingga 2011 ini masih tetap memiliki kisah hidup dan masalah sama yang selalu dikabarkan oleh berita-berita di layar televisi. Masalah satu belum selesai dan ditambah dengan masalah yang lain, seperti halnya benang yang sudah mbulet (kusut) tapi dibuka dengan cara ditarik, bukannya kekusutan itu semakin merenggang tapi semakin kusut dan rapat. Saya jadi semakin tidak bisa berkata bagaimana saya bisa menceritakan negeri ini dan apa saya harus bangga atau tidak menjadi anak yang terlahir di tanah ini.

    Saya tidak akan bercerita lebar tentang curahan hati saya mengenai Indonesia, tapi di sini saya akan bercerita tentang dan mungkin sebuah harapan, khayalan, mimpi ataupun keinginan terhadap negeri ini berkaitan dengan “Indonesia Goes to Developed Country 2030”, meskipun semua itu bisa terwujud ataupun tidak, saya yakin jika manusia itu diciptakan untuk mencoba dan membuat kesuksesan mereka sendiri. Oleh karena itu, apa salahnya mencoba hal baru dan membantu merajut masa depan Indonesia menuju perkembangan yang lebih dari sekarang ini.

    Mengawali langkah dari kesehatan masyarakat Indonesia, dimana sebuah harapan muncul agar masalah seperti busung lapar dan gizi buruk yang melanda serta sering tersiar di berbagai media bisa teratasi agar tidak terulang kembali. Ironis, ketika negeri ini terkenal dengan Gemah Ripah Loh Jinawi (kekayaan hasil bumi yang berlimpah) tapi bangsa dan generasinya mengalami kondisi yang tidak semestinya. Dari satu masalah tersebut harus segera dicari solusinya dan seperti yang saya baca dari website Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dengan pembeberan Program Prioritas Kemenkes 2011 merupakan alat dan semangat untuk mengangkat masalah ini dari kubangan. Mengajak pemberian ASI untuk para ibu, menyuluhkan sikap kebersihan secara dini ke sekolah-sekolah dan saling menghargai terhadap lingkungan dapat memberikan kekuatan agar generasi bangsa ini bisa menikmati dunia tanpa permasalahan kesehatan.

    Satu hal lagi, tidak hanya masalah kesehatan secara fisik yang harus diperhatikan tapi juga masalah kesehatan mental pada generasi bangsa agar tidak diabaikan. Berdasarkan data dari media massa Metropolis (Jawa Pos) disebutkan bahwa usia 15-24 tahun rentan untuk melakukan bunuh diri, apalagi jika bunuh diri itu dilakukan dengan copycat suicide yakni korban meniru bunuh diri dari media massa yang menayangkan kejadian tersebut dengan dramatis dan sensasional serta terus-menerus. Dijelaskan pula oleh dr. Hendro Riyanto SpKJ, Direktur RS Jiwa Menur Surabaya, 90 persen perilaku bunuh diri erat kaitannya dengan masalah kesehatan mental dan kedaruratan medik. Ketika faktor mendasar tidak teratasi, jumlah kasus bunuh diri akan terus melambung.

    Dari masalah itu, maka pentingnya pemahaman masyarakat terutama peran orang tua akan kasus tersebut serta tanda-tanda awal bila seseorang ingin bunuh diri harus diperhatikan. Jika fenomena itu dapat diatasi dengan kebiasaan curhat (berkeluh kesah) maka hendaknya setiap jiwa yang hidup di negeri ini mampu menjadi pendengar dan pemberi saran yang baik. Dengan cara itu, orang yang mempunyai problem akan merasa memiliki “kanal” untuk mengeluarkan keluh kesahnya sehingga mengurangi beban hidup dan keputusasaan.

    Ini hanya sekelumit masalah dari kesehatan, masih banyak daerah yang belum tersentuh oleh tangan para dokter. Jika sebuah kampus kedokteran mampu meluluskan begitu banyak dokter handal maka jadilah dokter-dokter seperti film “Patch Adams” , karena negeri ini tidak hanya membutuhkan dokter pintar mengobati tapi juga dokter yang mempunyai adab. Komitmen dan langkah awal inilah kekuatan Indonesia untuk sehat dapat terwujud dari satu tahun ke tahun berikutnya dan berikutnya lagi.

    Berceloteh mengenai masalah pendidikan, seperti yang telah kita ketahui jika dulu banyak pelajar-pelajar Malaysia datang ke negeri ini untuk mengenyam pendidikan di sini, tetapi sekarang kondisi berbalik, pelajar Indonesia lah yang kini berbondong-bondong ke negeri Jiran tersebut. Bisa terlihat lunturnya semangat pendidikan Indonesia, dimana sebuah semangat itu kalah dengan sebuah kepelikan ekonomi dan yang mereka katakan di tengah gencatan semacam itu adalah “kami cuma butuh makan untuk hidup”. Sungguh hal yang kita, sebagai orang yang mampu dan lebih beruntung dari mereka mencoba untuk berpikir dan mencari solusi atas ketiadaberdayaan mereka. Sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah kita tidak terlalu terpesona atas kesengsaraan dan ujian yang menghakimi negeri ini. Dan bukan lagi waktunya malu untuk meniru kesuksesan negeri tetangga. Pendidikan Indonesia harus mempunyai karakter yang dibutuhkan negeri ini, menjadikan mental generasi muda sekarang agar mampu tempa terhadap kondisi global sangat dibutuhkan, karena tidak hanya Sumber Daya Alam yang dibutuhkan tetapi juga Sumber Daya Manusia yang memiliki daya saing dengan SDM negara tetangga. Dimulai dari sekarang, dan dimulai dari langkah mahasiswa yang juga memiliki peran dalam mengentas buramnya wajah pendidikan negeri ini. Dari program Indonesia Mengajar hingga sekolah-sekolah bantuan atau apapun namanya jika itu bertujuan untuk pendidikan Indonesia maka sudah membuat mereka yang tidak pernah tersenyum kembali merengkuh senyum dan rona harapan baru dalam kehidupan mereka.

    Mengutip opini dari Media Indonesia.com mengenai semangat pendidikan yang mungkin akan mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan untuk semua kalangan. “Itu senada dan seirama dengan apa yang dikatakan sang begawan pengajaran nusantara, Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan bahwa substansi pendidikan adalah untuk membebaskan manusia. Bebas dalam arti tak terombang-ambing pada pihak mana pun, independen serta mandiri dalam menentukan arah hidup individu yang kemudian berimbas pada keberlangsungan suatu bangsa.”

    Secercah cahaya obor dari sosok “teratai” yang seharusnya mampu menggerakkan niat kita dalam membantu Indonesia. Untuk pemerintah daerah maupun kota, pembenahan fasilitas sekolah juga bermanfaat untuk menumbuhkan lingkungan peserta didik yang nyaman dan kondusif. Selain itu, tenaga pengajar yang kompeten harus dilatih untuk mengimbangi informasi dan pengetahuan yang semakin cepat. Pengadaan perpustakaan, taman baca dan perpustakaan keliling merupakan langkah efektif untuk menjangkaukan pendidikan di daerah-daerah pelosok, harus diperhatikan pula mengenai pelayanan. Pelayanan baik membuat orang yang datang juga merasa dihargai dan menimbulkan kesan betah (keinginan untuk berlama-lama di suatu tempat). Semua ini bisa dilakukan jika semua pihak mau saling membantu untuk menerangi potret kusam pendidikan negeri ini. Semua harus saling mengawasi dan tanggap terhadap apa yang terjadi dan apa yang terbaru dalam dunia pendidikan. Tidak ada hal yang tidak mungkin akan terwujud selama kita mau berusaha mewujudkannya untuk pendidikan Indonesia.

    Merajut ekonomi Indonesia, dimana pada tahun 2010 pertumbuhannya mencapai 6 persen dan menurut perkiraan yang disebarluaskan oleh media bahwa akan naik 6,4-6,5 persen di tahun 2011. Hal yang wajar menurut pengamat ekonomi karena pengaruh pasar utama Indonesia yang juga semakin membaik sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi ke tahun depannya. Mengutip isi berita media Rakyat Merdeka Online , “Hatta juga menyebutkan, diperkirakan pada 2030 pendapatan per kapita Indonesia sudah di atas 17.000 dolar AS per tahun. Hal tersebut menimbang kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami pertumbuhan cukup pesat dan terus meningkat sejak 1970. Bahkan, jelas Hatta, pada akhir 2010 saja diperkirakan pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai 3.000 dolar AS per tahun, di luar target pemerintah selama ini.” Dari kutipan tersebut perlu digaris bawahi mengenai pendapatan perkapita rakyat yang mana yang bertambah atau rakyat di daerah mana.

    Di tahun 2010 sampai tahun ini kita disuguhkan tayangan dan berita mengenai mahalnya harga bahan pokok seperti cabai yang katanya hingga menembus Rp 100 ribu rupiah per kilogram, dan alasan yang sering dikeluhkan adalah akibat cuaca buruk. Dari hal itu, seakan-akan kita lupa akan apa yang kita miliki yaitu otak, kita tidak pernah melihat negara tetangga yang mampu bangun berdiri setelah diterjang badai keterpurukan. Dan kita hanya mengandalkan operasi pasar jika terjadi kejadian semacam itu, tapi tidak memikirkan tentang keefektifan cara tersebut. Inilah sebuah konflik, ketika ekonomi hanya dipandang dari kacamata kuda. Saya memang tidak mengerti ekonomi secara mendalam, tapi saya bisa merasakan bagaimana rasa kelaparan itu. Tayangan reality seperti “Tolong”, “Jika Aku Menjadi” dan lain sebagainya di televisi lokal kita merupakan bentuk dan gambaran mengenai kemakmuran yang tidak merata tengah terjadi pada negeri ini. Itulah sekiranya wajah sebenarnya Indonesia, entah darimana pakar ekonomi memandang pendapatan perkapita yang akan naik di tahun ini. Saya juga tidak mampu menjabarkannya.

    Mimpi untuk kenaikan pendapatan perkapita juga bukan merupakan kesalahan, akan tetapi perlu dipikirkan mengenai pemerataan, tidak hanya golongan tertentu yang mendapatkan kenikmatan seperti itu. Dan salah satu langkah yang perlu dukungan saat ini adalah Gerakan Kewirausahaan. Gerakan yang mungkin dapat merubah Indonesia menjadi negeri produsen bukan konsumen terus-menerus. Telah banyak berdiri home Industry di berbagai wilayah merupakan jalur yang dapat mengangkat cerita perekonomian warga sekitarnya. Di wilayah kampus pun telah digencarkan kegiatan wirausahawan muda dengan bantuan tenaga pengajar. Langkah yang brilliant dan menimbulkan harapan serta mimpi mengenai perubahan.

    Itulah tiga aspek dari sekian banyak sektor dalam tubuh negeri ini, dimana persoalan yang setia mengkuti ternyata ada solusi jika kita mau memikirkannya. Harapan menuju Indonesia Emas bukanlah impian atau khayalan rendahan ketika usaha itu ada. Setiap pihak boleh bermimpi dan dari mimpi juga timbul konsekuensi, saling bantu-membantu untuk negeri ini bukanlah hal yang memalukan. Dan untuk para mahasiswa, negeri ini menantang kapandaian kalian untuk menegakkan harapan dan mimpi bangsa di berbagai sektor yang kalian kuasai. Tidak inginkah kalian wahai mahasiswa untuk membagikan ilmu kalian kepada bangsa ini. Tunjukkanlah jika mahasiswa masih mempunyai peran membawa perubahan bagi negeri ini dan tunjukkan pula jika peran fungsi mahasiswa itu ada secara nyata bukan sebuah teks yang hanya dibacakan tanpa amalan. Bukankah kalian telah mengatakan, “Janganlah kamu meminta mengenai apa yang diberikan negeri ini kepadamu, tapi pikirkanlah kontribusi apa yang telah kamu berikan terhadap negeri dan bangsa ini.”

    Keterangan:
    1. Usia 15-24 Paling Beresiko Bunuh Diri, Visite Hal. 33 Metropolis – Jawa Pos, tanggal 16 Januari 2011.
    2. Patch Adams - Film drama komedi produksi tahun 1998 ini berdasarkan kisah nyata tentang Dr. Hunter "Patch" Adams" yang terkenal dengan metode penyembuhannya yang tidak lazim dan melawan pakem tradisional kedokteran. (Sinopsis dari www.indosiar.com dengan kata kunci ‘Patch Adams’
    3. PR Dunia Pendidikan Indonesia, Citizen Journalism – Media Indonesia.com, tanggal 15 Januari 2011.
    4. Tahun 2011 Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Baik, Share – Rakyat Merdeka Online, tanggal 23 Desember 2010.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Celoteh Ngimpi tentang Kemakmuran Indonesia” Karya Funky Dyan Pertiwi (FAMili Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top