• Info Terkini

    Tuesday, August 27, 2013

    Ulasan Cerpen "Sepenggal Kata Bijak" Karya Hidayatul Hasanah (FAMili Kartasura, Jawa Tengah)

    Cerpen ini berkisah tentang keengganan gadis bernama Lizda untuk mengikuti keinginan orangtuanya. Ayah-ibunya menginginkan Lizda agar kelak dapat menjadi seorang guru agama. Namun karena ketidaksesuaian antara mimpi dan apa yang harus ia patuhi, jadilah Lizda hanya setengah hati, terpaksa dalam menjalani hidup. Betapa tidak? Selama ini ia bermimpi ingin menjadi terkenal seperti artis idolanya. Tapi nyatanya semua itu jauh. Maka, nilai-nilainya tak pernah memuaskan.

    Lizda mempunyai sahabat bernama Azizah. Sahabatnya ini sebenarnya juga mempunyai masalah yang sama dengannya. Azizah sama sekali tak menginginkan kuliah di tempat yang kemungkinan besar akan menjauhkannya dari mimpi. Namun sungguh tak disangka. Seiring waktu berlalu, nyatanya Azizah mampu mengukir prestasi yang gemilang. Inilah yang pada akhirnya membuat Lizda sadar, bahwa apa yang tengah ia alami adalah ketentuan dariNya. Perubahan positif pada diri Azizah membuat Lizda berpikir, bahwa tidak ada yang lebih baik selain menjalani apa yang ada di depan mata dengan hati yang ikhlas dan optimis. Bukan malah lari dari apa yang telah digariskan untuknya.

    Cerpen ini mengandung nilai positif untuk kita, bahwa segala yang baik di mata seseorang, belum tentu baik untuknya. Tuhanlah yang tahu, mana yang terbaik untuk kita. Maka, kunci untuk meraih kebahagiaan adalah menerima apa yang terjadi tanpa merasa terpuruk apalagi menyerah.

    Penulis cukup baik membawakan kisah sederhana ini menjadi sebuah pelajaran. Gaya tulisannya pun enak dan nyaman untuk dibaca. Tinggal terus diasah akan menjadi lebih baik nanti. Hanya ada beberapa koreksi mengenai EYD dari Tim FAM. Kata "shalat" sebaiknya ditulis "salat". "Menina bobokan", semestinya digabung menjadi "meninabobokan". "Nafas" yang benar adalah "napas". "Di putar" yang benar adalah "diputar" (karena merupakan kata kerja pasif). "Kemana-mana" yang benar "ke mana-mana". "Ketentuan-Nya" dan "oleh-Nya" yang benar ditulis "ketentuanNya" dan "olehNya".

    Pada kata "nraktir" yang bukan merupakan bahasa baku, baiknya diketik dengan huruf miring. Sementara kata "desaigner" mungkin maksud penulis adalah "designer" atau "desainer". Sedangkan "orang tua" yang ada dalam cerpen ini adalah Ayah dan Ibu Lizda, maka yang tepat penulisannya adalah digabung menjadi "orangtua". Karena makna dari terpisah dan tergabungnya kata "orang" dan "tua" adalah berbeda.

    Saran dari Tim FAM untuk penulis adalah teruslah berkarya dan jangan berhenti menulis. Tetap tebarkan nilai-nilai bermanfaat lewat tulisan-tulisan Anda.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sepenggal Kata Bijak

    Karya: Hidayatul Hasanah (IDFAM1620M)

    Termenung aku di depan ruang kelas. Bertanya pada ragaku, apakah aku sudah pantas menyandang sebutan mahasiswa dan mengambil prodi PAI (Pendidikan Agama Islam)? Bimbang. Awal masuk membuatku speechless. Sedangkan di sekeliling, kulihat senyum dan tawa yang lepas dari wajah-wajah suci mahasiswa baru.

    “Beg…”

    Ada tangan yang menyentuh bahuku. Kulirik, ternyata Azizah.

    “Lizda ya…?” sapanya renyah.

    Obrolan-obrolan sederhana mengurai tawa. Hingga obrolan itu berlanjut ke arah sensitif. Alasan mengambil prodi PAI dan kuliah di kampus ini. Pertanyaan yang ingin kuhindari, meluncur dari bibir Azizah.  Aku mendengus keras. Percakapan menjadi beku. Sesaat dia mulai angkat suara. Keterpaksaan adalah faktor terpenting yang mendorongnya sampai di kampus ini.

    “Apakah kamu nyaman menjalani semua ini?” tanyaku kemudian.

    “Sama sekali tidak.”

    Aku memaksakan tersenyum. “Alasanmu sama denganku,” ungkapku, singkat.

    Tidak berapa lama. Azizah beranjak pergi. Ditinggalkannya aku seorang diri. Telepon yang berdering menutup pembicaraan sore itu. Isyarat tangannya menandakan dia harus segera buru-buru.

    ***

    Selepas shalat, aku mulai merenungi perjalananku selama di kampus. Tidak terasa sudah tiga semester aku lalui. Hasil belajarku kurang memuaskan. Terlihat, IPK-ku kurang dari 3.00. Terlihat garis kekecewaan dari wajah Ibu dan Ayah. Selama ini aku hanya terfokus pada perasaan keterpaksaanku. Hingga semua itu berimbas pada hasil belajar.

    Ayah dan Ibu sering mengajakku diskusi tentang perkuliahan. Hingga ujung-ujungnnya selalu menanyakan apa kendalaku selama kuliah. Aku menduga, ini ada sangkut pautnya dengan hasil belajarku. Melangkah menuju kamar menjadi pelarianku untuk menghentikan perdebatan. Muak dengan segala obsesi yang mereka canangkan. Jadi guru agama yang sopan dan penuh tata krama. Menurut mereka keinginan yang simple. Apakah mereka mengerti betapa tersiksanya batinku dengan harapan konyol tersebut?

    Iringan musik pop dari HP mampu menina bobokan. Hingga sudah tiga jam aku pulas mengarungi bahtera mimpi. Kupandangi lekat-lekat foto artis yang menjadi idolaku. Kuusap kaca yang menjadi bingkai foto tersebut.

    “Harapan semu, untuk menjadi sepertimu,” ungkapku di depan bingkai foto.

    ***

    “Lizda, ke kantin yuk,” ajak Azizah dengan paksa.

    “Kantin? Kamu belum makan?” ujarku.

    Tangannya begitu cekatan dalam menarikku. Belum sempat aku menerima jawaban dari pertanyaanku, kakiku dan kakinya telah melesat ke kantin. Di kursi paling depan di dekat pintu masuk menjadi tempat pilihannya.

    Embusan nafasnya terasa memburu. Seakan ada hal penting yang ingin dia ceritakan kepadaku.

    “Aku memenangkan lomba Karya Tulis se-Jateng. Makanya, aku nraktir kamu.”

    Aku masih terbengong-bengong dengan berita yang dia sampaikan. Ingatanku kembali pada awal dia masuk kuliah. Keterpaksaan yang membuatnya masuk kuliah dengan jurusan PAI. Dan, sekarang…

     “Kok bisa?”

    “Masak mau meratapi nasib terus-terusan. Jalan terbaik adalah move on. Menurutku, aku pantas berada di sini. Aku sadar, bahwa apa yang kujalani sekarang adalah ketentuan-Nya. Aku bercermin lewat dunia yang Kakakku jalani. Sama persis. Kenyataannya sekarang dia sudah bisa jadi dosen. Selain itu harapannya yang dulu sirna tetap bisa terwujud. Pengusaha yang sukses pun mampu dia sandang.  Bekal yang dia tanam dalam diri hanyalah keyakinan. Yakin dengan jalan yang digariskan dan yakin akan kemudahan yang Allah hamparkan.”

    “Kamu ingin mengikuti jejak Kakakmu?”

    “Bukan hanya keinginan. Tapi, sudah menjadi target dalam hidupku. Di sisi lain aku mampu menyenangkan hati orang tuaku. Selain itu pula, ada kebanggan tersendiri bisa membuat orang tua tersenyum. Mengenai keinginanku untuk bisa mendalami ilmu desaigner, aku ikut kursus. So, dua-duanya bisa tercapaikan? Baik keinginanku maupun keinginan orang tuaku.”

    Kata-katanya meluncur begitu tulus. Kebenaran dari apa yang dia ucapkan benar-benar terwujud. Aktivitasnya yang padat tidak membuat IPK-nya turun. Justru sebaliknya. Ibarat bola bekel, tubuhnya amat lentur untuk digerakkan kemana-mana. Seakan tiada rasa lelah yang menghinggapinya.

    Aku berdecak kagum melihatnya. Perubahan yang memesona terlihat di depan mata. Kecemburuanku memuncak padanya. Aku tertunduk malu. Perbuatan perubahan dalam diriku selama ini tidak ada. Belenggu kemalasan dan keegoisan bersarang tepat di jantungku. Seakan dia telah mengotori seluruh organ. Hingga tidak ada seinchi pun yang bersih. Helaan nafas berulang kali aku lakukan. Mulutku masih bungkam.

    “Apakah kamu akan bertahan pada posisimu? Ataukah akan mengubahnya menjadi lebih bersinar? Itu adalah suatu pilihan. Dan hanya dirimu sendiri yang mampu menentukan.” Ucapnya membuyarkan lamunanku.

    Diamku menjadi jawaban atas pertanyaannya. Lama aku terdiam di kursi kantin. Aku melihat ke depan. Pandanganku kosong. Andai, andai dan andai, itulah yang terpikirkan dalam tempurung otakku. Waktu yang telah berlalu tiada mungkin kembali dan mampu untuk di putar ulang. Renungku panjang.

    Tanganku menyangga kepalaku.

    “Kok, tiba-tiba kamu murung? Apa… ada kata-kataku yang salah? Atau kamu sedang memikirkan sesuatu?” Beberapa saat dia menunggu jawaban dari pertanyaannya.

    “Ho…e…!” Hentakan yang keras dia hujamkan ke meja.

    “Eh, ma… af…” jawabku gugup. “Tadi kamu tanya apa ya?”

    “Pulang yuk, sepi banget ini kantin.”

    “Sepi!” kumemandang sekeliling yang masih banyak pengunjung yang hadir. “Iya,” jawabku pelan.

    “Azizah sudah mampu mengubah paradigma yang membelenggunya. Sosoknya kini tampil memukau. Yeah… keyakinannya begitu kuat mengenai ketentuan yang di gariskan oleh-Nya. Berubah menjadi pilihannya. Sedangkan jalan yang telah aku pilih… ah… tak ubahnya seekor keledai yang bingung akan arah tujuan,” gumamku sepanjang perjalanan pulang. ***

    [www.famindonesia.com

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Sepenggal Kata Bijak" Karya Hidayatul Hasanah (FAMili Kartasura, Jawa Tengah) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top