• Info Terkini

    Thursday, August 29, 2013

    Ulasan Puisi "Ragaku" Karya Tri Oktiana (FAMili Sumbar)

    Puisi ini cukup unik. Pemilihan diksi yang sederhana tidak membuat makna yang timbul terasa hambar, datar, atau kurang menarik. Namun justru sebaliknya. Puisi ini seperti sebuah sumur di tengah padang pasir--sederhana namun membidik.

    Penulis dengan cerdas mengambil sesuatu yang beda demi menyampaikan pesan tentang keagungan Tuhan. Ya. Manusia memang tidak ada apa-apanya. Manusia tidak akan menjadi "kuat", kaya, pintar, hebat, dan lain sebagainya, apabila Tuhan tak berkehendak padanya untuk menjadi demikian. Maka, manusia bak debu di tengah badai, tak berdaya. Begitulah manusia.

    Pada baris yang berbunyi "elektronku setiap waktu menyebut Tuhannya", seolah membisikkan pada hati pembaca, bahwa kekuasaan Tuhan itu tiada ada batasnya. Lihatlah tubuh manusia. Berapa banyak yang manusia ketahui tentang tubuhnya sendiri? Mungkin hanya seujung kuku. Tuhan menciptakan semua itu begitu luar biasa, mulai dari daging, tulang, organ tubuh, dan lain sebagainya. Itu hanya pada manusia. Sedangkan makhluk lainnya? Ada berapa jenis makhluk hidup di muka bumi ini? Semua itu adalah ciptaan Tuhan, bukti kekuasaanNya.

    Melalui puisi ini, penulis juga ingin menyampaikan bahwa sifat sombong sungguh tidaklah pantas bagi seorang manusia. Bukankah manusia itu sangat kecil? Yang boleh sombong hanyalah Tuhan. Namun sebagian dari manusia berbuat banyak kerusakan, sementara hati tak sadar tentang siapa diri mereka dan siapa yang menciptakan mereka. Mereka berpikir seolah bebas berbuat apa saja. Padahal dalam ketidaksadaran macam itu, kekuasaan Tuhan tak dapat disangkal, seperti napas yang mereka hirup dan darah yang mengalir dalam tubuh mereka.

    Beberapa koreksi dari Tim FAM. Kata "di isi" seharusnya ditulis "diisi", tidak terpisah karena merupakan kata kerja pasif. "Tau" yang benar adalah "tahu". "Takkan" semestinya tertulis "tak 'kan" (perhatikan spasi dan tanda apostrof). Sedangkan "pada-Nya" dan "nama-Mu", yang benar ditulis "padaNya" dan "namaMu".

    Baik, teruslah berkarya dan pertajam pena Anda. Jangan berhenti menulis. Terus tebarkan nilai-nilai pencerahan lewat barisan aksara.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Ragaku

    Tri Oktiana (IDFAM1225U)

    ini tubuhku
    di balut beberapa helai lapisan kulit
    ini darahku
    di isi beragam jenis nutrisi
    ini selku
    pembangun hidupku
    atomlah bagian terkecil pembentuknya
    proton, elektron, neutron adalah komponen yang ikhlas menyusunnya
    kau tau?
    elektronku setiap waktu mengingat Tuhannya
    dia bertawaf menyebut asma Allah
    malunya aku pada-Nya
    lalu ketika sujudku datang
    Komponen dalam nadiku mengisi tempat yang takkan pernah terisi saat ku berdiri menyombongkan diri
    Tuhan, maafkan aku
    nama-Mu selalu ada dalam detak jantungku

    Padang, 2011

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Ragaku" Karya Tri Oktiana (FAMili Sumbar) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top