• Info Terkini

    Wednesday, September 4, 2013

    Satu Setengah Jam Bersama Katsujiro Ueno

    Oleh Efri S. Bahri (IDFAM 1157U)

    Pagi itu saya berangkat dari rumah mengantarkan anak-anak ke sekolah. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke kantor naik bus umum. Motor saya simpan di penitipan motor. Alhamdulillah pagi itu, bus langsung ada. Dan saya pun dapat tempat duduk di bagian paling belakang.

    Selama perjalanan saya pun bisa istirahat. Lumayan juga dengan naik bus, saya bisa istirahat selama perjalanan menuju kantor. Sesaat mau turun dari bus saya terbangun. Saya pun mengapai handpone guna melihat mana tahu ada pesan-pesan yang penting. Benar rupanya, ada sebuah pesan yang masuk. “Asslm, pak Efri yang baik, jika ada waktu pg ini merapat ke Hotel Sahid, ada kawan sy org Jepang ingin bertemu, makasih /WL@PPWI”.

    Sejenak saya berpikir. Ada sms masuk tapi orangnya seperti kenal dengan saya. Maklum memang hp saya beberapa kali trouble sehingga nomor-nomor rekanan hampir semuanya hilang. Saya balik bertanya, “Maaf dg siapa nih?”. “Saya Wilson Lalengke temannya Muhammad Subhan, makasih”, jawabnya.

    Pikiran saya langsung tertuju jangan-jangan ini temannya Ketum FAM Indonesia, karena namanya sama. Dan memang benar. Saya coba yakinkan lagi dengan satu pertanyaan, “Muhammad Subhan dari FAM/PPWI?”. Memang benar, “Yup, benar”, jawab Wilson yang akrab dipanggil Soni sama temannya dari Jepang tadi.

    Saya ingin sekali untuk berjumpa dengan Pak Wilson dan temannya tadi. Sebab saya begitu penasaran dan tertarik ketika Pak Wilson mengatakan temannya dari Jepang itu ingin sekali ketemu dengan Perkumpulan Penulis. Namun, pagi itu saya harus segera datang ke kantor karena ada hal yang mesti segera saya kerjakan.

    Saat itu saya berpikir bagaimana caranya bisa ketemu dengan tamu dari Jepang ini. Akhirnya saya pun meluncur naik taxi ke Hotel Sahid agar bisa cepat sampai. Namun, hanya selang waktu sekitar setengah jam rupanya mereka sudah tidak di tempat lagi. Saya menelpon Pak Wilson. Lewat sms ia mengabarkan bahwa ia sudah balik ke kantor dan mungkin rekannya tadi masih di tempat. Saya pun diberi nomor kontaknya. Pesan beliau, “Coba saja telpon, beliau bisa Bahasa Indonesia”, jelas Wilson.

    Saya pun langsung menelepon. “Saya lagi ke toko buku. Nanti kalau mau gabung sekitar jam tiga sore. Ada Soni juga”, ungkap tamu dari Jepang yang bernama Katsujiro Ueno. Akhirnya saya balik lagi ke kantor. Saya sudah pesimis untuk bisa berjumpa beliau. Hari-hari ini agenda kerja begitu padat.

    Alhamdulillah sorenya saya kontak lagi. Menjelang jam tiga sore saya kirimkan pesan kepada Pak Wilson. Saya kirim sms: “Mas, sepertinya saya nggak bisa ijin jam 3 ini. Tadi belum jadi bikin janji dengan M. Ueno. Cuma pagi tadi kalau mau ikut bisa gabung jam 3. Baru agak longgar jam 5 sore”.

    Akhirnya sebelum jam 5 sore saya langsung meluncur ke Sahid. Alhamdulillah akhirnya bisa berjumpa dengan Mas Wilson alias Soni dan Mr. Katsujiro Ueno.

    Pertemuan itu adalah yang pertama kali. Namun rasanya saya sudah kenal lama dengan mereka. Masing-masing kami memperkenalkan diri dan langsung terlibat dalam diskusi ringan dan dinamis. Banyak hal yang kami bicarakan. Mr. Ueno berpesan agar ada gerakan membaca di negeri ini. “Tidak mungkin negara ini akan maju kalau generasinya tidak suka membaca”, ungkap Ueno. Ia memberikan apresiasi kepada FAM Indonesia yang telah berupaya membangun budaya membaca dan menulis khususnya di kalangan generasi muda. Bayangkan di usianya yang sudah 74 tahun ia begitu bersemangat untuk memberikan motivasi kepada generasi muda Indonesia. Terima kasih kepada Ketum FAM Indonesia Muhammad Subhan atas rekomendasinya untuk ketemu dengan Mr. Ueno dan Mas Soni.

    Foto: Efri S. Bahri bersama Wilson Lalengke (Ketum PPWI Pusat) dan Mr. Katsujiro Ueno (Sekjen Perkumpulan Persahabatan Indonesia Tochigi [PPIT]).
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Nasib kita bisa dikirikanankan dengan bagaimana kebiasaan setiap harinya. Ada tuju sebagai prinsipnya, dan tiga hal berikutnya most important menurut saya, yaitu
      1. Membiasakan diri untuk membaca buku selama 30 menit sehari.
      2. Menulis buku harian 10 tahun.
      3. Menginvestasi pada diri sendiri.

      Saya sangat merasa senang dapat bertemu dengan Bapak Efri bersama sahabat lama saya, yaitu Shony san. Terima kasih.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Satu Setengah Jam Bersama Katsujiro Ueno Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top