• Info Terkini

    Wednesday, May 28, 2014

    Ulasan Puisi "Ayam Jantan" Karya Eka Susanti (FAMili Tanah Datar, Sumatera Barat)

    Sumber ilustrasi: penamotivasi.wordpress.com
    Puisi mempunyai ruang yang begitu luas untuk dapat ditafsirkan oleh semua orang, bahkan yang paling awam sekalipun. Maka, bila suatu waktu kita menjumpai puisi semacam "Ayam Jantan" ini, mungkin akan timbul beragam penerjemahan yang menarik, sesuai dengan bagaimana kita menangkap inti dari puisi tersebut.

    Nah, Tim FAM menilai puisi ini adalah puisi yang cerdas. Disusun berdasarkan pilihan diksi yang sederhana dan mudah dimengerti, akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya begitu kuat. Katakanlah kita bisa melihat ulah "ayam jantan" yang istimewa ini sebagai kondisi nyata dari tabiat para pemimpin di negeri ini. "Tengah hari yang panas" adalah masa-masa panceklik bagi mereka karena pada saat itu terjadi perebutan kursi kekuasaan. Maka, berkokoklah seperti yang dapat kita baca pada beberapa baris puisi ini.

    Bait terakhir semakin menguatkan kesan bahwa tingkah berkokok ini hanyalah sekadar upaya untuk dapat meraih tujuan yang sebenarnya, yakni kursi kekuasaan. Betapa tidak? Sebab, sesudah apa yang ditujunya diraih--"sarang kebesaran"--ia akan lupa cara berkokok, atau dengan kata lain "lupa pada janjinya selama masa-masa kampanye". Ya, tengah hari yang panas itu adalah musim kanpanye.

    Namun, bila kita memakai kacamata lain, bisa pula "ayam jantan" di sini adalah seorang yang mempermainkan hati perempuan, menebar janji cinta palsu, lantas dengan mudah mengkhianati. Atau jangan-jangan "ayam jantan" itu adalah kita sendiri, yang sering kali melupakan Tuhan di kala kesenangan duniawi melenakan hati kita? Mungkin tengah hari itu adalah saat Ramadhan tiba. Ibaratnya, "hanya dekat dengan Tuhan di waktu-waktu tertentu saja". Sementara, ketika kita merasa "aman", lupalah kita kepada sang pencipta.

    Puisi yang menarik adalah puisi yang bisa diterjemahkan dari berbagai sudut pandang. Dan, lewat "Ayam Jantan"-nya, penulis berhasil menyajikan puisi semacam itu. Hanya saja, ada beberapa koreksi mengenai kesalahan penulisan seperti "dikala" dan "disekeliling", yang semestinya ditulis: "di kala" dan "di sekeliling". Pesan untuk penulis agar terus menulis. Tetap tebarkan nilai-nilai positif pada karya berikutnya.

    Salam santun, salam karya!
    Tim FAM Indonesia

    [DI BAWAH INI NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Ayam Jantan
    Karya Eka Susanti IDFAM685U

    Lain ceritanya dengan ayam biasa, ayam yang satu ini sungguh luar biasa
    Biasanya ayam jantan berkokok di tengah kesejukan pagi hari tapi,
    ayam yang satu ini berkokok dikala cuaca panas, memanggang
    Ia berkokok
    Membangunkan semua makhluk disekelilingnya, untuk mendapatkan pengaruh darinya.

    Jika panas telah selesai, dan ia telah dapatkan sarang kebesaran diruangnya
    Ia takkan berkokok lagi karena,
    mungkin saja ia telah lupa dengan cara berkokok, dan akan mempelajarinya
    Hingga musim panas berikutnya datang lagi.

    Padang, 2011

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Ayam Jantan" Karya Eka Susanti (FAMili Tanah Datar, Sumatera Barat) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top