Skip to main content

Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 9


Judul: Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 9
Penulis: 15 Penulis
Kategori: Buku Ensiklopedi
ISBN: 978-602-335-340-8
Terbit: Mei 2018
Tebal: vi + 131 hal; 12,5 x 18 cm
Harga: Rp55.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Aksan Al-Bimawi, Angga Kusumadinata, Danu Supriyati, E. Natasha, Gendhuk Gandhes, Husni Mubarrok, Mahmudiah, Misbah Rajif Ibrahim, Muhammad Ilham Nur, Nabila Balqis Mukhra, Nardi, Rofi'ah, Rugi Astutik, Tutuk Jatmiko, Yoza Fitriadi

Pertanyaan yang sering jadi momok banyak penulis adalah: "Sebenarnya untuk apa saya menulis?" Jawabannya tentu beragam. Ada yang bersungguh-sungguh, ada yang sekadar bermain, ada pula yang ikut-ikutan, sehingga semangatnya naik-turun. Tetapi itu lumrah dialami banyak orang dan yang benar-benar mewujudkan dirinya sebagai penulis sungguhan adalah yang istiqamah di dunia kepenulisan. Dan, itu jumlahnya sangat terbatas. Nah, di posisi manakah Anda berada?

Sebuah program unggulan diluncurkan FAM Indonesia sejak beberapa tahun belakangan, yaitu penerbitan buku ENSIKLOPEDI PENULIS INDONESIA yang berisi tentang riwayat hidup, proses kreatif dan perjalanan kepenulisan mereka, yang dimulai sejak awal menulis, plus segala macam cerita 'jatuh-bangunnya', hingga menghasilkan karya sampai hari ini. 

Buku ini diterbitkan berseri, ditulis oleh banyak penulis Indonesia yang punya mimpi dan ingin membagi mimpi mereka kepada banyak orang.

*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.


[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 0812 5982  1511/081350051745, atau via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…